Wawasan

Bunuh Diri


Hidup itu sakral, tetapi bukan milik kita. Hidup bukanlah harta benda atau barang yang bisa dipindahkan kepemilikannya. Slogan ‘hidupku dan matiku adalah pilihanku’ yang digembar gemborkan masyarakat Barat itu keliru. Hidup bukanlah milikmu. Sebaliknya, hidup adalah amanah dari Tuhan. Kita sekadar wali bagi kehidupan kita sendiri. Kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga amanah ini, memastikan bahwa kita memelihara amanah itu, dan menjalani hidup sebaik mungkin. Kita tidak dapat merampas hidup kita sendiri,  karena bukan milik kita. Kita tidak punya pilihan. Melakukan bunuh diri sama saja melanggar amanah tersebut. Bunuh diri adalah puncak perbuatan tidak bersyukur. Sebab, bunuh diri sama dengan merampas milik Tuhan. Itu tidak sekadar merampas hidup sendiri, melainkan seakan akan membunuh manusia seluruhnya. Maka, muncullah perintah tegas dan kategoris dalam Alquran: “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”Q.S. al Baqarah [2]: 195).

Hidup itu sakral, tetapi juga merupakan satu perjalanan, “senda gurau dan main main”(Q.S. al ‘Ankabût [29]: 64). Selama perjalanan, kita menemui banyak keajaiban yang menyenangkan sekaligus pemandangan yang mengecewakan. Kita naik tinggi ke gunung dan menuruni lembah. Kita menghadapi kebahagiaan dan kedukaan. Permainan pun memiliki kejutan dan kelokan, perjuangan dan pertempuran, momen kebahagiaan dan kemenangan, serta momen kepedihan dan tragedi mendalam. Dalam hidup, kita hadapi semua itu, yang merupakan ujian dari Tuhan. Alquran mengatakan: “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah buahan.”(Q.S. al Baqarah [2]: 155). Dalam ayat yang berbeda dikatakan:

Sungguh Kami akan benar benar mengujimu agar Kami mengetahui orang yang berjuang dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan baik buruknya tentang hal ihwalmu(Q.S. Muhammad (47): 31).

Kita tidak kesulitan menghadapi ujian itu—yakni ujian hidup—pada saat kita bahagia (meskipun saya melihat kebahagiaan juga merupakan ujian yang sama beratnya). Namun, menghadapi masa masa depresi, keputusasaan, dan musibah, hidup menjadi beban dan niat bunuh diri mungkin terlintas dalam pikiran.

Rasa putus asa adalah pendorong yang kuat. Perasaan itu bukan saja sangat menyakitkan, tetapi juga menggambarkan kondisi ketidakberdayaan dan kehampaan makna. Rasa putus asa adalah kehampaan mutlak dengan kepedihan mengerikan. Karena itulah rasa putus asa merupakan penyebab utama bunuh diri. Namun, bagi kaum mukmin, selalu ada harapan. Lagi pula, harapan merupakan fungsi utama keimanan. Seorang mukmin sejati tidak mungkin jatuh ke dalam kondisi putus asa karena itu sama saja kufur terhadap rahmat dan rezeki Allah. Alquran berulang ulang meminta kaum mukmin untuk tidak berputus asa, melainkan ‘untuk bersabar’(Q.S. al Nahl [16]: 127). dan untuk mengatakan, “ketika ditimpa musibah: ‘Innâ lillâhi wa innâ ilayhi râ ji‘ûn—dari Nya kita berasal dan kepada Nyakita kembali.’”(Q.S. al Baqarah [2]: 156).. Alquran juga melarang kita ‘mengharap kematian sebelum menghadapinya’(Q.S. Âli ‘Imrân (3): 142). Dari ayat ayat tersebut, kita tahu, Alquran tidak menyukai putus asa.

Kisah Nabi Ayub memberi kita gambaran yang jelas bahwa harapan selalu ada dan sikap putus asa tidak dibolehkan. Pertama, dia kehilangan harta kekayaannya, tetapi ia tidak berduka. Kemudian, anak anaknya tewas. Ia pun tetap bersabar. Lalu, ia menderita penyakit parah yang membuatnya lumpuh. Bahkan, tubuhnya sangat rusak sehingga orang merasa jijik saat melihatnya. Di tengah kesakitan yang demikian menyiksa, Ayub menyeru Tuhan: “Sungguh aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Pada akhirnya, Ayub mendapatkan jawaban:

Maka, Kami memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada dalam dirinya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami(Q.S. al Anbiyâ’ [21]: 83–84).

Ada tiga pelajaran dari kisah ini. Pertama, penderitaan adalah bagian alamiah dalam hidup. Siapa pun bisa mengalami kepedihan dan kedukaan. Tidak ada manusia, bahkan rasul sekalipun, yang bebas dari rasa sakit. Tentu saja, tidak ada yang ingin menderita; dan kita harus melakukan apa yang kita bisa untuk menghalau rasa sakit dan mengurangi penderitaan. Namun, tidak ada hak istimewa yang menjamin kita terbebas dari rasa sakit dan penderitaan.

Kedua, penderitaan memiliki nilai. Hanya dengan melihat kesakitan dan kepedihan orang lainlah kita belajar kasih sayang. Orang merasa berat dan enggan melihat Ayub. Padahal, hanya dengan melihat Ayub lah orang bisa menyadari bahwa mereka dapat saja menjadi korban penderitaan dan kepedihan semacam itu. Lewat hubungan itulah—melihat penderitaan orang lain—kita bisa memahami makna sejati kasih sayang manusia.

Ketiga, kita tidak boleh menyerah. Pada setiap tahapan kisah, Ayub tetap teguh bersabar. Ayub tidak meminta kematian sebagai jalan keluar bagi penderitaannya. Alih alih, Ayub berdoa supaya penderitaannya berakhir. Kesabaran Ayub lah yang pada akhirnya memberinya ganjaran. Jika berbicara soal penderitaan dan kematian, rahmat hanya datang dari Tuhan. Rahmat bukanlah hak manusia.

Hidup itu suci sehingga hidup tidak bisa dikelas kelas atau dibeda bedakan. Menurut Alquran, semua kehidupan, terlepas bagaimana kualitasnya, sama sama suci dan berharga. Nilai kehidupan tidak terletak pada kegunaannya—terlepas dari bagaimana kita mendefinisikan dan mengukur kegunaan. Nilai kehidupan terletak pada fakta bahwa itu adalah kehidupan: kehidupan bukan dibuat sebagai ‘permainan sia sia’, tetapi memiliki ‘tujuan sejati’ yang bisa ‘dipahami’ oleh kita semua (Q.S. al Dukhân [44]: 38–39). Gagasan bahwa nyawa atau hidup tertentu tidak layak dijalani sama saja melanggar konsep sejati kemanusiaan yang dikemukakan Alquran. Kehidupan seseorang yang sakit parah, orang yang koma, orang yang merasakan kepedihan mendalam, orang uzur yang tergolek di tempat tidur, semuanya itu sama suci dan pentingnya sebagaimana kehidupan semua orang lain. Hidup yang dipenuhi penderitaan memiliki tujuan. Hidup itu tetap merupakan perjalanan yang harus tiba pada pemungkasnya. Konsep bahwa mengakhiri kehidupan semacam itu adalah ‘rahmat’ sejatinya merupakan ide menggelikan. ‘Penghilangan nyawa karena belas kasihan’ alias mercy killing sebenarnya merupakan pembunuhan: dengan atau tanpa persetujuan orang bersangkutan.

Hidup itu sakral. Karenanya, semua kemungkinan hidup harus tetap dipertahankan. Asumsi yang mendasari konsep konsep seperti ‘penghilangan nyawa karena belas kasihan’ dan ‘bunuh diri dengan bantuan’ adalah bahwa penderitaan merupakan fenomena objektif lagi statis. Penderitaan bisa ditakar dan diukur sehingga kita bisa membuat keputusan yang masuk akal. Namun, situasi tak tertanggungkan itu bisa berubah, penderitaan bisa dihalau, jika tidak hari ini mungkin esok hari atau pada masa depan. Siapa yang berani beraninya mengatakan tidak ada obat yang sedang menjelang? Siapa yang berani beraninya mengatakan pengobatan yang menyembuhkan tidak akan ditemukan? Kemungkinan ini sama sekali dihilangkan dari kenyataan jika kita membolehkan atau membantu orang yang memohon untuk mati. Mungkin juga orang yang dimaksud mengubah pikirannya: tidak mesti karena rasa sakit dan kepedihannya telah berkurang, tetapi mungkin karena mereka telah mengubah persepsi mereka. Orang kerap mengubah pendirian, juga persepsi tentang diri dan pengalaman mereka. Penghilangan nyawa karena belas kasihan dan bunuh diri dengan bantuan juga menyingkirkan kemungkinan ini. Sebagai khalifah Tuhan, kita bertanggung jawab untuk menjaga semua kemungkinan hidup tetap terbuka sampai napas penghabisan. Masih ada harapan ketika ‘tidak ada lagi yang bisa dilakukan’: harapan akan rahmat Tuhan. Jadi, Alquran pun menegaskan: “Janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”(Q.S. al Nisâ’ [4]: 29).

Ada asumsi lain yang mendasari argumen ‘bunuh diri dengan bantuan’ yang saya anggap aneh. “Bunuh diri yang dibantu atau dengan bantuan,” demikian argumen itu, “memungkinkan seseorang mati dengan harga diri.” Asumsinya, orang sekarat yang sakit parah kehilangan martabat atau harga diri karena cara dia meninggal. Ini adalah konsep absurd tentang harga diri. Orang yang sekarat memiliki martabat bawaan, martabat yang melekat karena fakta sederhana, yaitu bahwa mereka adalah manusia. Semua manusia berhak diperlakukan secara bermartabat. Jadi, hanya karena mereka sekarat akibat penyakit akut, atau menderita rasa sakit dan kepedihan, tidak lantas berarti martabat mereka hilang. Memang, orang yang dekat dengan orang yang sedang sakit atau sekarat memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mengakui harga diri orang itu dan memperlakukannya secara bermartabat. Menurut saya, bodoh sekali orang yang mengatakan martabat mereka hanya bisa dilestarikan atau dipulihkan dengan menghilangkan nyawa mereka.

Ini membawa kita pada fenomena kontemporer yang sedang menggejala di lingkaran lingkaran muslim tertentu, yaitu ‘bom bunuh diri’. Sungguh mencengangkan melihat tindakan keji seperti itu diterima dan dilakukan orang yang, secara lantang dan berulang ulang, memaklumatkan kecintaan mereka kepada Islam. Saya merasa argumen orang yang membenarkan ‘bom bunuh diri’ adalah argumen sakit lagi sesat. ‘Para pembom bunuh diri’, demikian ujar para pengusung argumen ini, berada dalam posisi putus asa dan tidak berdaya sehingga mereka tidak punya pilihan selain menggunakan tubuh sebagai senjata. Mereka berujar, membunuh warga sipil memang disesalkan, tetapi bisa dibenarkan jika dilakukan dalam ‘perang yang adil’ melawan kezaliman. Lagi pula, semua korban tak berdosa akan masuk surga. Pendirian seperti ini benar benar melanggar hampir semua ajaran Alquran.

Pertama, ‘bom bunuh diri’ melibatkan bunuh diri, yang, sebagaimana telah saya tunjukkan, sangat diharamkan. Selalu ada korban lain dari tindakan bunuh diri, dengan atau tanpa bom, di luar si pelaku aksi bunuh diri, termasuk keluarga mereka yang menderita akibat aksi tersebut dan harus menjalani dampak emosional, keagamaan, dan dampak dampak lainnya selama bertahun tahun.

Kedua, membunuh warga sipil tak berdosa sama dengan membunuh masyarakat. Sebagaimana telah dikemukakan, Alquran menyatakan bahwa membunuh satu orang tanpa alasan yang dapat dibenarkan sama saja dengan membunuh seluruh umat manusia(Q.S. al Mâ’idah [5]: 32). Jadi, seorang pembom bunuh diri melakukan dua dosa besar sekaligus. Konsep bahwa pembom itu langsung masuk surga adalah konsep sesat.

Ketiga, jika tindakan pemboman bunuh diri adalah tindakan putus asa, itu berarti ia menolak rahmat Tuhan dan mencampakkan harapan. Dengan kata lain, pemboman bunuh diri merusak raison d’ểtre Islam, yaitu takwa kepada Allah. Bahkan dalam keputusasaan, Alquran meminta umat mukmin ‘untuk berbuat baik di dunia’ dan ‘bersabar penuh’, karena ‘bumi Allah itu adalah luas’(Q.S. al Zumar [39]: 10).

Keempat, jika bunuh diri merupakan senjata ampuh dari perang yang adil, bagaimanapun cara kita memandangnya, tentu Nabi Muhammad sendiri akan menggunakannya. Beliau memiliki banyak peluang melakukannya. Selama masa masa di Makkah, ketika beliau diburu habis habisan dan hidupnya senantiasa terancam, belum lagi para pengikutnya disiksa, dibunuh, dan diusir dari kota, Rasulullah tetap sabar, dan teguh tak tergoyahkan. Bahkan, ketika harus melawan musuh musuhnya di Madinah, beliau tidak melakukan misi bunuh diri. Rasulullah merencanakan setiap peperangan dengan baik dan didasarkan atas strategi untuk bertahan hidup. Selain itu, beliau melarang membunuh jiwa tak berdosa, membunuh orang yang tak berperang, warga sipil, wanita dan anak anak, serta tidak boleh merusak tanaman dan hewan. Pada salah satu peperangan, anak anak musuh terbunuh tidak sengaja. Rasulullah sangat terpukul dan menangis. Salah seorang pengikut beliau menenangkannya dengan mengatakan: “Mereka hanya anak anak orang kafir.” Rasulullah menjawab marah: “Bukankah kau juga anak seorang kafir?” Menganggap bom bunuh diri sebagai taktik militer, atau sebagai sarana bertempur, sama dengan melanggar segala sesuatu yang dibela Alquran dan Islam.
Hidup itu sakral. Karena itulah “sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”(Q.S. Âli ‘Imrân [3]: 145). Kemanusiaan kita benar benar menghadapi ujian paling berat pada masa masa keputusasaan dan kesengsaraan mendalam, pada masa masa kepedihan dan luka parah, ketika hidup terasa mengerikan. Namun, persis pada momen momen inilah rasa hormat pada kehidupan harus makin diperkuat.

*dinukil dari buku Ngaji Quran di Zaman Edan karya Ziyauddin Sardar (Serambi, 2014)



view: