Wawasan

Falsafah Azan


Azan adalah pemberitahuan masuknya waktu shalat dan seruan kepada umat agar berkumpul untuk mendirikan shalat di suatu tempat, seperti masjid, mushalla, dan sebagainya. Syariat menetapkan kalimat kalimat yang dikumandangkan dalam azan. Setelah azan dikumandangkan dan umat telah berkumpul, diserukanlah iqamah—seruan untuk berdiri menunaikan shalat.

Lafal azan dan iqamah mengandung tiga unsur. Pertama, pengakuan atas keesaan Allah (tauhid) dan kerasulan Muhammad. Kedua, pengungkapan akan keagungan Allah (takbir). Ketiga, seruan menunaikan shalat dan meraih kebahagiaan. Kalimat tauhid merupakan fondasi ajaran Islam, yang menegaskan penafian segala tuhan selain Allah.

Dalam kalimat tauhid itu tercakup pula dua pengertian umum, yaitu istighnâ’ Allâh ‘an kulli mâ siwâh (Allah Mahakaya daripada segala sesuatu selain Dia), atau bahwa Allah mengatasi segala sesuatu, dan iftiqâr ilayh kulli mâ ‘adâh (segala sesuatu selain Dia butuh kepada Nya). Makna tauhid itu harus ditanamkan oleh setiap muslim dalam hatinya hingga menjadi keyakinan yang mantap. Di atas keyakinan itulah ia menjalani kehidupan. Ia memulai hidup dengan tauhid yang dikumandangkan pertama kali oleh orangtuanya saat ia dilahirkan dan dengan tauhid pula ia mengakhiri hidupnya, yaitu saat kalimat itu di talqin kan kepadanya.

Fondasi tauhid itu akan memengaruhi sikap dan perilaku seseorang menjalani kehidupannya. Orang yang bertauhid akan merasa merdeka, bebas dari tekanan sesama makhluk, tegar menghadapi cobaan, dan tidak terpengaruh segala rayuan nafsu. Sebab, ia meyakini bahwa hidup dan matinya tidak berada di tangannya, tetapi di tangan Yang Maha Esa. Allah berfirman, “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya bagi Allah Tuhan semesta alam.” (al An‘âm [6]: 162).

Tauhid tidak terlepas dari takbir, pengungkapan keagungan Allah—Allâhu Akbar (Allah Mahabesar). Takbir memunculkan rasa kehinaan diri, kelemahan segenap makhluk, dan kecilnya masalah yang dihadapi. Hanya satu yang besar, hanya satu yang kuat, hanya satu yang kuasa, Allah… Pengagungan kepada Allah sekaligus akan membesarkan jiwa seorang muslim sehingga ia tidak takut menghadapi tantangan dan tidak gamang menghadapi masalah. Sebab, bagi orang yang bertauhid, segala sesuatu terlihat kecil dan semuanya akan musnah tiada jejak. Hanya satu yang besar, hanya satu yang tak berakhir, Allah…

Kalimat takbir ditempatkan di awal azan dan iqamah untuk menunjukkan bahwa hanya ada satu Yang Mahaagung, yang mengatasi segala sesuatu di alam ini. Ungkapan itu kemudian diikuti penegasan (ta’kîd) yang menafikan segala sesuatu selain Allah sehingga memberi kesan yang mendalam bahwa segala sesuatu selain Dia tidak memiliki kebesaran, tidak memiliki apa apa, kecuali berkat rahmat Nya.

Tauhid diikuti dengan panggilan untuk kembali kepada Allah melalui pelaksanaan shalat. Mushalli mikraj menuju kebesaran Allah melalui shalat yang didirikannya. Dan dalam kedekatan kepada Nya ia merasakan bahwa segala sesuatu yang dihadapinya dalam hidup adalah kecil dibandingkan dengan kebesaran Allah. Itulah orang yang memiliki kebesaran jiwa yang tiada taranya. Inilah kebahagiaan hakiki. Baginya, meskipun seluruh dunia dimilikinya, semua itu tidak ada artinya dan remeh belaka sehingga ia tidak akan sungkan berbagi dengan sesama. Ia juga berbagi kebahagiaan dengan menyeru kaum muslim lainnya untuk bersama sama mendekatkan diri kepada Allah dan bersama sama meraih kebahagiaan. Kalimat hayya‘alâ al falâh mencerminkan ajaran sosial yang luhur, bahwa karunia Ilahi yang diperoleh seorang muslim bukan untuk direguknya sendiri, melainkan harus dibagikan kepada saudara saudaranya yang lain. Allah berfirman: “Dan orang yang di dalam harta mereka terdapat hak (bagian) tertentu bagi orang yang meminta dan yang tidak mau meminta.” (al Ma‘ârij [70]: 24–25).

Kalimat hayya ‘ala al shalâh dan hayya ‘ala al falâh masing masing dikumandangkan dua kali. Ini mengandung makna bahwa pada kali pertama muazin berseru untuk dirinya sendiri dan kali kedua mengajak sesama muslim untuk mereguk kebahagiaan melalui shalat.1

Seruan menuju kebahagiaan dan kemenangan itu diakhiri lagi dengan ungkapan takbir dan kalimat tauhid. Ini mengandung makna bahwa segala kebahagiaan yang diperoleh seseorang bukan hasil upayanya semata, karena ia tidak mampu menciptakan apa apa. Orang yang merasa dirinya pencipta dan pemilik hakiki akan jatuh dalam kemusyrikan dan kesombongan. Karena itulah kalimat azan dan iqamah ditutup lagi dengan kalimat tauhid, untuk menyadarkan muslim bahwa segala yang diperolehnya adalah milik Allah.2

Ketika manusia tidur atau tenggelam dalam kesibukan, azan dikumandangkan untuk memperingatkan bahwa waktu shalat telah masuk dan mereka harus berkumpul menunaikan shalat. Ketika seruan itu dikumandangkan, setiap muslim yang mendengarnya harus bersiap siap memenuhi seruan dan meraih kemenangan yang dijanjikan Allah.

Pada hakikatnya, azan dan iqamah adalah peringatan terhadap kelalaian dan keteledoran manusia, yang membuatnya terjebak dalam kejahatan dan kepicikan, sekaligus juga seruan kepada kebaikan dan kebahagiaan. Ini mencerminkan ajaran bahwa segala bentuk peringatan dan seruan Allah senantiasa mengacu kepada kebaikan dan kebahagiaan manusia. Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.” (al A‘râf [7]: 28), akan tetapi, “Allah menyeru kepada kampung kesejahteraan (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki Nya kepada jalan yang lurus.” (Yûnus [10]: 25).
Lebih jauh, dari sisi ruhani, azan adalah pemberitahuan dan seruan untuk menyaksikan tajallî Ilahi, sedangkan iqamah adalah pemberitahuan dan seruan untuk menyatakan diri sebagai wadah tajallî itu.3 Jadi, ketika mendengar azan dan iqamah orang harus sadar bahwa itu adalah pemberitahuan dan seruan kepadanya untuk mengalihkan pendangan dari alam yang serba ganda kepada Wujud Tunggal sehingga hanya satu wujud yang ia rasakan dalam batinnya, yakni wujud Tuhan, sementara alam semesta yang disaksikan mata lahirnya hanyalah wadah tajallî Nya.

Keutamaan Azan
Banyak hadis yang menuturkan fadhilah (keutamaan) azan, di antaranya yang diriwayatkan oleh al Tirmidzî bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Di hari kiamat kelak ada tiga kelompok umat berada di atas bukit kasturi hitam, mereka tidak terganggu kedahsyatan hisab dan tidak dikejutkan keadaan mahsyar hingga segala perhitungan manusia diselesaikan, yaitu orang yang membaca Al Quran dengan ikhlas, lalu menjadi imam shalat dan disenangi makmumnya; orang yang azan di masjid memanggil umat mengabdi kepada Allah dengan ikhlas; dan orang yang diuji Tuhan dengan rezeki, tetapi tidak melalaikannya dari beramal untuk akhirat.

Dalam riwayat lain disebutkan:

Apabila engkau sedang mengurus kambing atau di tengah padang, kumandangkanlah azan untuk shalat dan keraskanlah seruanmu. Sesungguhnya jin, manusia, dan apa pun yang mendengar suara muazin akan menjadi saksi baginya di hari kiamat. (HR Bukhari).

Dalam hadis lain Nabi saw. bersabda:

Apabila diserukan (azan) untuk shalat, setan berlarian sambil terkentut kentut hingga ia tidak mendengar azan lagi. Usai azan dikumandangkan, ia datang kembali. Namun ia pergi lagi ketika iqamah dikumandangkan. Usai iqamah, ia datang lagi. Kemudian ia membisikkan ke dalam hati seseorang: “Ingatlah ini, ingatlah itu…” (ia mengingatkan) apa yang tak teringat sehingga seseorang tidak ingat lagi berapa (rakaat) ia telah shalat. (HR Bukhari dan Muslim).

Dua hadis pertama menjelaskan pahala yang diberikan Allah kepada orang yang menyerukan azan. Hadis ketiga menjelaskan pengaruh azan terhadap setan yang senantiasa ingin menggoda manusia. Ternyata, azan dapat menghalau setan. Berkaitan dengan hadis terakhir, saya pernah menemukan suatu pengalaman yang aneh dan unik. Seseorang datang dan mengabarkan ada tetangga yang disebut kerasukan. Setan yang masuk ke tubuhnya itu tidak mau keluar. Ia tidak sadarkan diri, berbicara terus meneurs tak karuan, matanya mamandang kosong tanpa makna. Berkali kali ayat ayat Al Quran, seperti ayat al Kursi dan ayat ayat lain, diperdengarkan ke telinganya. Ada juga yang dibacakan pada segelas air bersih lalu diminumkan kepadanya, atau diguyurkan ke kepalanya. Namun, upaya upaya itu sia sia belaka. Lalu seseorang menganjurkan agar diperdengarkan azan di telinganya. Tanpa pikir panjang saya kumandangkan azan di telinganya secara perlahan. Ketika azan dikumandangkan, setan menjerit kesakitan dan ingin keluar, namun masih bertahan dalam tubuh si sakit. Azan saya kumandangkan lagi, setan pun meronta, ingin cepat cepat meninggalkan tubuhnya. Setelah tiga kali azan dikumandangkan, setan keluar, dan si sakit siuman dari kerasukannya dalam keadaan sangat letih.[]

1 Lihat Futûhât, jilid I, h. 400.
2 Lihat ibid.
3Ibid., h. 398.


view: