Wawasan

Dimensi Rahmatan lil ‘Alamin


Nabi Muhammmad saw. diutus tidak lain kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. 21: 107). Dengan kata lain, misi utama Nabi adalah mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai nilai kerahmatan. Seperti apa suatu tata kehidupan yang dilandasi nilai nilai kerahmatan itu?

Sembilan ratus tahun silam, Imam Al Ghazali membantu kita menjawabnya. Menurutnya, ada lima dimensi kerahmatan universal itu: perlindungan terhadap agama (hifzh al din), jiwa dan tubuh (hifzh al nafs), akal pikiran (hifzh al ‘aql), keturunan (hifzh al nasl) dan harta benda (hifzh al mâl).

Kelima prinsip yang kerap disebut Maqashid al Syari’ah (substansi dan tujuan syariah)itudapat kita telaah secara kontekstual.

 Pertama, perlindungan terhadap keyakinan agama dan kepercayaan. Islam memberi tempat yang tinggi pada kebebasan manusia memeluk agama masing masing (QS. 2: 256). Bahkan heterogenitas umat beragama itu sudah disabdakan Tuhan (QS 2: 213).  Al Quran tidak saja menerima realitas tentang pluralitas agama (QS. QS. 2: 62), tapi mengajarkan untuk hidup berdampingan secara damai (QS. 29: 46) dan  menganjurkan untuk saling berpacu dalam berbuat kebajikan (QS. 5: 48), dan bersikap positif dalam berhubungan serta bekerja sama dengan umat yang tidak seagama (QS. 60: 8). Dan sebagai warga dunia, seluruh manusia adalah umat yang satu (QS 21: 92 dan 23: 52).

Kedua, perlindungan terhadap jiwa. Selain menjamin tidak ada seorangpun berhak melukai, melakukan kekerasan, apalagi membunuh orang lain tanpa alasan yang benar, juga melindungi hak hidup setiap individu dan masyarakat dari segala hal yang dapat mengancam jiwa, seperti pemberantasan penyakit menular dan sebagainya. Islam juga mengajarkan untuk menjaga kemuliaan dan martabat manusia sebagai anugrah dari Allah. Tujuannya adalah terjaminnya ketenteraman dan kondisi masyarakat yang santun dan beradab (QS. 6: 151; 2: 179).
Bahkan, kerahmatan Islam juga berarti menghormati orang lain, termasuk yang berbeda agama, bukan hanya ketika dia masih hidup, bahkan ketika sudah mati. Sahl bin Hanif dan Qais bin Sa’ad, dua sahabat Nabi, mengatakan: Suatu saat ada jenazah melewati Nabi. Beliau tiba tiba saja berdiri. Nabi diingatkan bahwa jenazah tersebut adalah seorang Yahudi. “Alaisat nafsan (bukankah ia adalah manusia?),” jawab Nabi

Ketiga, perlindungan terhadap akal pikiran. Selain menjaga akal pikiran agar tidak dirusak oleh apapun, seperti minuman keras, narkoba, dan lain lain, juga menyediakan ruang bebas untuk mengekspresikan pendapat, pikiran, dan gagasan, sehingga tidak terjadi pemasungan pikiran dan pendapat oleh siapa pun.  Lebih jauh, pengembangan ilmu pengetahuan wajib digalakkan demi kemajuanbangsa dan kemaslahatan untuk sesama.

Keempat, perlindungan terhadap kehormatan dan keturunan.Islam menghormati sistem pernikahan (keluarga) di dalam masyarakat guna mewujudkan kehidupan yang tenteram dan tenang (QS. 30: 21). Konsekuensinya, menjaga kesehatan alat alat reproduksi dan menghormati serta melindunginya dari pemerkosaan, pelacuran, dan pelecehan atau eksploitasi seksual lainnya, juga menghindari setiap kebijaksanaan yang dapat memutus kelangsungan hidup; seperti vasektomi, tubektomi, dan sebagainya.
Kelima, perlindungan terhadap harta. Kebutuhan hidup dasar harus dipenuhi—papan, sandang, pangan, termasuk pekerjaan. Selain menjamin hak milik pribadi, jugamengembangkan sumber sumber perekonomian masyarakat dengan asas saling menguntungkan, menghormati, dan menjaga kepemilikan yang sah sehingga akan tercipta dinamika ekonomi yang santun dan beradab (economical civility). Untuk itu Islam mengajarkan tata cara memperoleh harta, seperti jual beli disertai persyaratan keridaan dua belah pihak dan tidak ada praktik riba dan monopoli, (QS. 2: 275 dan 4: 29).

Ada pula jaminan atas pilihan pilihan pekerjaan, profesi, hak hak atas upah, sehingga tidak terjadi adanya larangan terhadap akses pekerjaan, perampasan hak milik pribadi, korupsi, penyelewengan, penggelapan, penggusuran, perusakan lingkungan dan alam serta eksploitasi eksploitasi haram lainnya oleh siapapun; individu, masyarakat, institusi keagamaan, sosial, maupun institusi negara.

Lima prinsip ini, tutur Dr. Abdullah Darraz, adalah dasar dasar kemakmuran rakyat yang diyakini setiap agama. Tanpa semua itu, kesejahteran dunia tidak akan berjalan mantap dan tidak akan mendapatkan keselamatan di akhirat.

Sumber: Qamaruddin SF

Al Mustashfa min Ilm al Ushul, I, 286

Usus al ‘umran al mar’iyyah fi kulli millah wa allati lawlaaha lam tajri mashalih al dunya ‘ala istiqamah wa lafatat al najah fi al akhirah” dalam Al Syathibi, Al Muwafaqat, I, hlm. 4



view: