Ustadz Menjawab

Assalamualaikumwr.wbr.

Dear Ustadz, saya ingin bertanya.
Saya akan menikah dengan seorang pria yang yatim piatu. Dia memiliki keluarga angkat. 
Untuk penamaan di kartu undangan, bisanya disebutkan, misal "Budi, anak pertama dari bapak Ali dan ibu Nisa". Apakah yang harus saya tulis jika calon saya yatim piatu? Apakahmenjadi :  " Budi, anak pertama dari bapak Ali (Alm) dan ibuNisa (Almrhm)"??
Lalu, di bawah undangan terdapat: "yang berbahagia, keluarga bapak Ali dani bu Nisa",, apakah ditulis "yang berbahagia, keluarga bapak Ali (alm) dan ibuNisa (almrh)"    Karena rasanya rada janggal karena orang tuanya sudah tidak ada. Apakah boleh menulis nama keluarga angkatnya menjadi: "yang berbahagia, keluarga bapak Rizki dan ibu Lia" (nama orang tuaangkatnya)??

Terimakasih.

Wassalamualaikumwr.wbr.

Wa’alaikum salam wr wb.

Ahlan Mbak Asih, terima kasih atas pertanyaan yang sangat luar biasa ini. Selamat Mbak Asih, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah juga barokah, aamiin.

Beruntung Mbak, mendapatkan calon seorang yatim piatu. Anak yatim adalah orang orang yang sangat dicintai oleh Allah dan Rasul Nya. Mencintai dan menyayanginya sama dengan mencintai dan menyayangi orang yang sangat disayang oleh Allah dan RasulNya. Bahkan, terdapat 10 surat dalam al Qur’an yang di antara isinya berupa wasiat dan perintah Allah untuk memperlakukan anak yatim sebaik mungkin. Jangankan menyayangi dan memilikinya, mengusap rambutnya saja sudah menggugurkan banyak dosa, sebagaimana sabda Rasulullah saw.

Adapun dalam penulisan, hemat saya perlu dicantumkan nama ayah dan ibu, sekalipun sudah wafat, khusus ketika menyebutkan putra atau putri siapa. Maka, tetap tulis saja: “Budi, anak pertama dari Bapak Ali (Alm), dan Ibu Nisa (Almh)”.

Karena selain sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah melahirkan, juga sesuai dengan perintah Allah, bahwa tidak diperbolehkan menisbahkan nama orang tua kepada yang bukan orang tua kandungnya. Allah berfirman: 


ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ 


Artinya: “Panggilah mereka (anak anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah” (QS. Al Ahzâb [33]: 5).

Menurut para ahli tafsir, ayat tersebut turun berkaitan dengan panggilan Zaid bin Haritsah. Zaid merupakan putra angkat Rasulullah saw. Mengingat ia adalah putra angkat Rasulullah saw, para sahabat biasa memanggilnya dengan nama Zaid bin Muhammad (Zaid putra Nabi Muhammad saw). Allah kemudian melarangnya, dan memerintahkan untuk memanggilnya dengan Zaid bin Haritsah (Zaid putra Haritsah), karena Haritsah adalah ayah kandungnya.

Adapun untuk tulisan di bawah kartu undangan: “Yang berbahagia, keluarga....”. Hemat saya tidak ada masalah jika ditulis: “Yang berbahagia, keluarga bapak Ali (alm) dan ibu Nisa (almrh)”. Karena saya yakin mereka di alam sana juga sangat bahagia melihat putranya menikah. Demikian juga apabila mereka masih ada, tentu sangat bahagia.

Namun, jika kata kata tersebut tidak lazim untuk masyarakat Indonesia, atau dalam bahasa mbak, agak janggal, maka tidak mengapa tidak disebutkan nama orang tuanya yang telah wafat. Karena, dalam kata kata turut berbahagia, tidak ada keterkaitan anak dengan orang tuanya, dalam pengertian tidak menjelaskan putra siapa yang menikah tersebut.
Karena itu, hemat saya, tidak masalah tidak dicantumkan nama orang tuanya, tapi diganti dengan nama yang lainnya, baik pamannya, tantenya, temannya atau keluarganya yang lain. Jadi, untuk kata kata yang pertama harus disertakan nama orang tua, adapun untuk kata kata: ‘turut berbahagia, ....’ tidak mengapa sekalipun bukan orang tuanya. 

Demikian Mbak, terima kasih. Wallâhu a’lam bis shawâb.

Aep Saepulloh Darusmanwiati

view: 14029