Ustadz Menjawab

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, Ustadz Aep Saefullah,

Alhamdulillah, saya sudah selesai membaca buku terbitan Zaman yang berjudul "Syekh Abu al Hasan al Sadzili" yang di dalamnya terdapat hizib beliau. Menurut apa yang pernah saya dengar dari Ustadz/Kyai, hizib/wiridan tersebut baru boleh dibaca/diamalkan setelah mendapat ijazah dari guru yang langsung mengijazahkan hizib tersebut kepada kita. Jika kita mengamalkan 
sebelum adanya ijazah dikhawatirkan akan memberikan pengaruh negatif terhadap diri kita. Bagaimana dengan hal tersebut,Ustadz? Padahal hizib itu dengan mudahnya dapat dibaca oleh semua pembacanya.
Atas perhatian dan jawabannya, terima kasih dan jazakallah.

Wassalamualaikumwarohmatullahiwabarokatuh.

Salam takzim,
AgimSubegjo

Wa’alaikum salam wr wb. 

Ahlan Mas Agim, terima kasih atas pertanyaan sangat bermanfaat ini. Alhamdulillah telah membaca buku sangat bagus tersebut, terlebih berkaitan dengan maha guru yang sangat saleh, alim yang sangat faqih, dan syaikh yang sangat luar biasa, Syaikh Abul Hasan as Syadzili.

Hizb, sebagaimana disampaikan oleh para ulama di antaranya disampaikan oleh Ali Sâlim ‘Ammâr dalam bukunya Abul Hasan as Syadzili, merupakan kumpulan zikir dan doa yang sengaja disusun oleh seorang syaikh bagi murid muridnya, sebagai di antara bentuk mengingat dan menyebut nama Allah (zikir), memohon ampun kepadaNya, juga bentuk taubat dan kembali kepadaNya, di samping juga sanjungan, pujian dan syukur kepada Allah swt.
Hizb ini dimaksudkan agar para murid senantiasa menghadirkan Allah dalam seluruh hidupnya, dan tidak ada sifat ghaflah (lalai) sekalipun satu nafas. Hizb ini di dalamnya banyak doa dan zikir yang diambil dari ayat ayat al Qur’an, juga doa doa ma’tsur dari Rasulullah saw, termasuk doa yang tidak ma’tsur, yang semuanya diperbolehkan.

Sebagian ulama menyamakan antara wirid dengan hizb, yaitu setiap zikir atau doa yang dibacakan setelah shalat wajib yang dilakukan pada waktu waktu tertentu, disebut wirid atau hizb.

Sementara menurut ulama lainnya, sebagaimana disampaikan oleh DR. Zaki Mubârak dalam bukunya at Tashawwuf al Islamy, keduanya berbeda. Wirid adalah zikir dan doa yang dibaca pada waktu waktu tertentu, seperti wirid siang atau malam. Sedangkan membaca hizb tidak ada waktu khusus atau waktu tertentu. Ia dibaca kapan saja.

Hampir setiap para ulama dahulu mempunyai hizb, seperti Imam Nawawi. Beliau mempunyai hizb yang sangat masyhur. Terlebih para syaikh dalam tarekat, hampir dapat dipastikan mempunyai banyak hizb.

Sayyidi Ahmad Rifa’i, yang merupakan pendiri Tarekat Rifa’iyyah, mempunyai banyak hizb, di antaranya al Hizb as Shaghîr. Sayyidi Ahmad Badawi, yang merupakan pendiri Tarekat Ahmadiyyah, mempunyai banyak hizb, di antaranya al Hizb as Shaghîr dan al Hizb al Kabîr. Sayyidi Ibrahim ad Dasûqi yang merupakan pendiri Tarekat Burhâniyyah juga mempunyai al Hizb ash Shagîr dan al Hizb al Kabîr. Termasuk Sayyidi Abul Hasan as Syadzili, juga mempunyai banyak hizb, di antaranya yang paling terkenal adalah Hizb al Bahr dan Hizb al Barr yang dikenal dengan al Hizb al Kabîr.

Di antara adab membaca wirid, doa atau hizb ini adalah adanya izin dari Syaikh, atau yang dikenal dengan nama ijazah. Bukan hanya hizb, hampir semua doa, kitab, juga ilmu baik fiqh, hadits atau yang lainnya, sebaiknya mempunyai ijazah. Dan al hamdulillah budaya ijazah ini sampai sekarang masih ada, khususnya di Mesir, Yaman, Sudan, Maroko, Jordan, Syiria, Irak dan sekitarnya. Wabil khusus al hamdulillah tsumma al hamdulillah di Mesir tercinta ini, budaya hal tersebut masih marak. Dan berkat izin Allah, alhamdulillah saya sendiri mendapatkan ijazah ijazah tersebut dari para masyayikh di Mesir dan sekitarnya.

Di antara keutamaan ijazah ini, adalah sebagai wujud adab kita dengan guru atau syaikh. Dan hal ini juga disinggung oleh Allah dalam al Qur’an, ketika menceritakan kisah perjalanan Nabi Musa as mencari ilmu kepada Nabi Khidir as. Sebelum berguru, di antara perkataan pertama yang disampaikan Nabi Musa as kepada gurunya Nabi Khidir as adalah meminta idzin untuk berguru kepadanya. Perhatikan firman Allah dimaksud:


ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ

Artinya: “Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" (QS. AL Kahf [18]: 66).

Hal ini menunjukkan bahwa meminta izin merupakan adab sangat penting dalam mencari ilmu. Dan ijazah merupakan di antara bentuk izin dimaksud.
Di antara keutamaan lainnya adalah untuk keberkahan (littabarruk), karena dengan adanya ijazah tersebut kita bersambung dengan guru guru lainnya yang meriwayatkan doa atau hizb tersebut, sampai akhirnya bersambung kepada yang membuat hizb atau kitab tersebut. Bahkan, tidak sedikit yang berakhir kepada para sahabat Rasulullah saw, termasuk kepada Nabi tercinta, Nabi Muhammad Saw.

Selain itu, hakikat tasawwuf adalah antara syaikh dan murid, bukan melalui bacaan buku. Syaikh merupakan murabbi, di mana apa yang dilakukan oleh murid hendaknya berdasarkan petunjuk dari syaikh tersebut. Dalam dunia tasawwuf, seorang murid tidak boleh melangkah dalam mendekatkan diri kepada Allah, kecuali berdasarkan izin dari syaikh. Karena syaikh yang lebih mengetahui keadaan si murid. Bagi yang tidak terjun dalam dunia tasawuf, pasti akan merasakan sangat janggal. Kok mau mendekatkan diri kepada Allah saja harus ada izin segala. Namun, apabila diselami dan dijalani dengan penuh keikhlasan, murid akan menyadari betapa pentingnya izin syaikh tersebut.

Itulah yang disampaikan oleh Imam al Ghazali dalam salah satu bukunya, dunia tasawuf itu seperti berhubungan badan (jima’). Orang tidak akan merasakan bagaimana kenikmatannya kecuali bagi mereka yang melakukannya. Orang tidak akan merasakan nikmatnya hubungan badan, hanya melalui bacaan buku, atau mendengarkan pemaparan orang lain, terlebih membenci atau mengingkarinya. Namun, mereka yang dapat merasakan kenikmatannya, hanyalah yang melakukannya. Demikian juga dengan tasawuf.

Karena itulah ijazah dari doa atau hizb sangat diperlukan, khusus dalam dunia tasawwuf. Bahkan, dalam Tarekat Syadziliyyah sendiri dikenal beragam bentuk ijazah. Ada ijazah khattiyyah (melalui tulisan), syafawiyyah (melalui lisan), juga ada Ijazah Qalbiyyah. Selain itu ada Ijazah Muqayyadah (terbatas), ada juga Ijazah Muthlaqah. Demikian juga ada Ijazah ‘Ammah, ada Ijazah Khassah dan ada Ijazah bil Irsyad

Jadi memang benar, untuk membaca wirid atau hizb yang disusun para ulama, khususnya dalam dunia tasawwuf, sangat dianjurkan ada ijazah dari syaikh. Namun, apabila yang tidak mempunyai ijazah, tetap diperbolehkan juga untuk membaca hizb hizb tersebut. Meskipun tentu sangat berbeda apabila hizb tersebut dibaca setelah mendapatkan ijazah dari syaikh. 

Adapun, apabila membacanya tanpa ada ijazah dari syaikh malah akan berakibat negatif sebagaimana yang ditanyakan, saya belum mendapatkan keterangannya. Hemat saya, insya Allah yang membacanya dengan keikhlasan dan hanya mengharapkan ridha Allah, akan mendapatkan banyak manfaat dan keutamaan, di samping pahala dari Allah tentunya. Hanya, apabila diiringi dengan ijazah dari syaikh, tentu lebih baik dan lebih utama. Demikian Mas Agim, wallâhu a’lam bis shawâb.

Aep Saepulloh Darusmanwiati



view: 4966