Penulis

Ibrahim Abdul-Matin

Selama sepuluh tahun terakhir, menjadi corong yang lantang menyuarakan perubahan cara hidup yang berbasis pencemaran menuju cara hidup yang mementingkan keadilan bagi bumi dan manusia. Beberapa waktu sebelumnya, Ibrahim menemukan bahwa para aktivis lingkungan memberinya kesempatan terbaik untuk menggabungkan minatnya dengan keterampilan untuk mengembangkan gerakan yang unik, gerakan Agama Hijau, yang pada akhirnya siapa pun bisa ambil bagian.
Lahir pada 1977 dan dibesarkan sebagai muslim, Ibrahim mengembangkan pengertian spiritualitas yang mendalam sejak dini. Namun, sebagai anak kedua dari orangtua yang mualaf, ia menghadapi pelbagai tantangan selagi mengembangkan identitas keberagamaannya. Keberagaman komunitas muslim Amerika meliputi perbedaan budaya dan tradisi yang ia upayakan dan perdebatkan kepada praktik pribadi untuk melayani Tuhan, manusia, dan planet ini. Secara bersamaan, ia menguatkan hubungannya dengan alam di sekitarnya saat ia belajar mengenai para leluhurnya dan hubungan mereka dengan tanah sebagai para petani dan pemilik tanah di negara bagian New York, sebelah selatan Virginia, dan Nebraska.
Ketika masih bocah, Ibrahim pindah dari Brooklyn ke kota kecil Sidney, New York, dan kemudian saat remaja ke kota industri Troy, New York. Selama tahun-tahun ini, ia diperlihatkan pada gerakan seni budaya di komunitas kulit hitam, pengalaman kota kecil Amerika yang tradisional, serta tantangan kejahatan dan kekerasan dari masa keretakan. Ia hadapi pelbagai tantangan ini dengan menjadi pembaca yang tak pernah puas dan atlet yang ulung. Pada akhirnya, olahraga memberinya beasiswa penuh ke University of Rhode Island, tempat ia menjadi mahasiswa teladan, organisator politik, dan penyair. Di perguruan tinggi ia mulai memahami kebutuhan terhadap aksi sipil seputar kelestarian untuk melindungi planet ini. Ia lulus pada 1999 dengan keinginan melakukan dua hal: menerbitkan buku dan mengubah dunia.
Ibrahim memulai agenda “mengubah dunia” bekerja sama dengan Corporate Accountability International di Boston dalam boikot mereka atas Kraft Foods, yang kemudian dimiliki Philip Morris. Di Boston pulalah ia dan beberapa rekannya mendirikan Urban Griots, sebuah perkumpulan membaca puisi di Lucy Parsons Center, tempat ia dan aktivis organisasi lain menggelar sesi pendidikan politik dan ngobrol mengenai tradisi dan puisi. Tak lama berselang, ia mulai bekerja dengan Outward Bound dalam Thompson Island di Pelabuhan Boston, tempat ia memimpin program untuk kaum muda agar lebih siap menghadapi bahaya dan tantangan. Ia berusaha menumbuhkan pemahaman pribadi mereka melalui pengalaman hidup di hutan belantara.
Sekembalinya ke New York, Ibrahim membantu menciptakan basis data nasional para aktivis muda. Future 500 diterbitkan pada 2002, dan edisi cetaknya kemudian dikembangkan secara online dan dirilis ulang sebagai Future 5000. Ia kemudian menempati posisi direktur program kaum muda pada Prospect Park Alliance. Di sana ia melatih murid-murid SMP dan SMU untuk memahami bagaimana tindakan mereka bisa merugikan atau membantu planet ini. Dalam peranan ini, ia juga membantu membangun Akademi Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan Brooklyn (Brooklyn Academy of Science and the Environment), yang sekarang merupakan SMU sukses bagi nyaris lima ratus siswa yang berkomitmen kepada keunggulan akademik dengan fokus pada lingkungan.
Pada 2004, Ibrahim meninggalkan Prospect Park menuju California untuk bekerja pada Movement Strategy Center, sebuah organisasi think tank yang fokus pada pembangunan gerakan keadilan sosial. Di sini, ia belajar seluk-beluk pembangunan gerakan, pembangunan jaringan, pencarian dana, dan pengorganisasian. Di West Coast, Ibrahim juga punya kesempatan unik untuk belajar bahasa Arab di kelas perdana Zaytuna College. Keterlibatannya dengan Zaytuna dan masjid-masjid Bay Area, termasuk Masjid al-Iman dan Lighthouse Mosque, penting dalam penguatan Agama Hijau-nya.
Kembali ke New York, Ibrahim diterima dalam program bergengsi National Urban Fellows dan menerima gelar master dalam bidang administrasi publik dari Baruch College. Bidang keahliannya—kebijakan lingkungan—membuatnya mendapatkan beasiswa bersama Green For All, organisasi yang komitmen memajukan Amerika melalui ekonomi energi-bersih. Ibrahim berjasa dalam mengorganisasikan Hari Aksi Nasional Green For All yang menyerukan “Green Jobs Now”. Pada hari itu, lebih dari lima puluh ribu orang Amerika dari tujuh ratus lebih komunitas menyuarakan dukungan mereka terhadap ekonomi hijau dan pekerjaan hijau.
Sembari menulis Green Deen dan tinggal di New York City, Ibrahim bekerja sebagai konsultan untuk sejumlah organisasi, termasuk Green City Force dan Inner-City muslim Action Network (IMAN). Di setiap organisasi ini ia menekankan kedudukan penting kaum muda, keimanan, serta lingkungan, dan bagaimana semua itu merupakan bahan penting untuk membangun gerakan keadilan sosial yang kokoh.
Dengan berbagai aktivitas itu, dengan sendirinya Ibrahim tumbuh menjadi seorang pemimpin antariman. Tulisan-tulisannya mengenai keimanan dan lingkungan dimuat di majalah-majalah Common Ground, ColorLines, WireTap, Left Turn, and Elan, dan dialah otak di balik blog popular “Brooklyn Bedouin”. Ia seorang pembicara nasional yang kerap diundang oleh organisasi-organisasi muslim, kelompok antariman, pelbagai universitas dan pendukung lingkungan. Ia juga mengajarkan kepada para pemimpin keagamaan mengenai Islam dan lingkungan, dan telah menjadi pembicara untuk Kantor Agamawan Yale University dan tempat magang antariman “Farm the Land, Grow the Spirit” di Stony Point, New York.
Saat ini, Ibrahim memanfaatkan seluruh kepakarannya untuk melatih kaum muda dalam hal pembangunan gerakan dan pengetahuan tentang lingkungan. Ia juga bekerja sebagai penasihat kebijakan di kantor Walikota Michael Bloomberg. Ia memusatkan perhatian pada masalah perencanaan dan kelestarian jangka panjang. Ibrahim tinggal di Brooklyn Heights bersama istrinya dan kebun perkotaan mereka yang mungil berisi tanaman herbal dan bawang.[]