Kilasan Buku

Tak Selamanya marah Itu Buruk

Sumber: Samarinda Pos

MARAH merupakan bara api yang disulut serta dilemparkan oleh setan ke dalam hati setiap manusia sehingga menyebabkan manusia mudah emosi, dadanya membara, urat sarafnya menegang, wajahnya memerah, dan terkadang ungkapan dan tindakannya tidak masuk akal. Maka, tidak mengherankan ketika seseorang yang sedah marah selalu melakukan perbuatan yang tidak masuk akal. Sering kali perkakas rumah tangga yang masih bisa digunakan dibanting begitu saja. Seakan seorang yang marah tidak lagi membutuhkan barang barang yang dibantingnya.

Dalam teori apapun, marah selalu digolongkan sebagai perbuatan buruk. Dalam diri si pelaku, marah dapat menyebabkan menurunnya kesehatan fisik dan psikis. Bagi orang lain, marah membuat kerenggangan dalam berinteraksi antarmanusia. Bahkan, dengan adanya kemarahan dua orang saudara kandung sering kali mengalami ketidakakuran. Dengan adanya kemarahan, tetangga dekat bisa terasa sangat jauh.

Dalam agama Islam, kemarahan juga menjadi salah satu perbuatan yang tidak diperkenankan. Bahkan, terdapat hadits dari Abu Hurairah RA bahwa ada seorang laki laki berkata kepada Nabi Muhammad SAW, "Berikan aku wasiat." Beliau menjawa, "La taghdab!" (Engkau jangan marah). Orang itu mengulangi permintaannya berulang ulang. kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda, "La taghdab!" dalam rangka memberi motivasi umatnya agar tidak marah. Rasulullah SAW juga bersabda, "Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah."

Tak cukup sampai di situ, begitu besar perhatian Rasullulah SAW agar umatnya tidak marah, beliau juga memberikan resep kepada manusia yang telah dikuasai nafsu amarah. Rasullulah memberikan resep, "Apabila seseorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum hendaklah ia berbaring." Sementara itu, bagi umat yang melihat saudaranya sedang marah, Rasullulah SAW berpesan, "Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam."

Meskipun demikian, bernarkah marah selamanya adalah keburukan? Buku "Wahai Rasullulah, Kenapa Engkau Marah" memaparkan sejumlah kasus sehingga Rasullulah SAW "mencontohkan" berbuat marah. Dengan kata lain, buku ini menegaskan bahwa tidak selamanya marah adalah perkara yang buruk. Bahkan, dengan adanya kemarahan akan membuat hal yang awalnya negatif bisa berubah menjadi positif. Lantas apa saja penyebab, kenapa, dan bagaimana Rasullulah SAW marah? Buku inilah yang menyuguhkan jawabannya.

Dengan membaca buku ini, diharapkan pembaca yang budiman tidak hanya mengetahui bahwa Rasullulah SAW juga pernah berbuat marah, lebih dari itu juga bisa mengelola emosi sehingga dapat meluapkan amarah pada saat, waktu, dan cara yang tepat. Dengan begitu, marah bukan sekedar mengikuti bujuk rayu setan yang hanya memperturutkan nafsu, lebih dari itu adalah meluapkan amarah dalam rangka pembenahan diri dan orang sekitar sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW seperti yang ada di dalam buku ini. Selamat membaca!



Diresensi oleh Anton Prasetyo
dimuat di Samarinda Pos
Sabtu,7 Mei 2016


view: 419