Kilasan Buku

Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya

Sumber: Sam Edy Yuswanto

Judul Buku    : Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya
Penulis         : Para Ulama Klasik
Penerbit        : Zaman
Cetakan        : I, 2014
Tebal            : 234 halaman
ISBN             : 978 602 1687 31 4

Setiap makhluk hidup di dunia ini telah ditetapkan rezekinya masing masing. Tak ada satu pun rezeki seorang hamba yang tertukar dengan hamba lainnya. Bahkan binatang kecil tak kasat mata pun telah dijanjikan rezekinya oleh Allah. Sebagaimana diterangkan dalam Al Quran surat Hud ayat 6, “Tidak ada makhluk melata di muka bumi kecuali Allah lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat tinggal binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis di Lauh mahfuz.”

    Selanjutnya, tugas kita sebagai hamba, adalah berusaha menjemput rezeki tersebut dengan cara cara halal yang diridhoi Nya. Buku ini mengajak kita agar senantiasa bersikap senang dan gembira atas rezeki yang telah dilimpahkan oleh Allah. Bersikap senang dan gembira di sini mengandung pengertian bahwa kita harus berusaha mensyukuri segala nikmat yang telah kita terima. Jangan sampai kita bersikap lalai, mengabaikan Tuhan dalam urusan mencari rezeki. Sebab, pada hakikatnya rezeki itu adalah pemberian sekaligus milik Allah, yang sewaktu waktu bisa dicabut dari tangan kita.

    Sudah menjadi tabiatnya manusia, jika mendapat rezeki, ia seringkali lupa untuk mensyukuri. Rezeki yang dimaksudkan di sini tentu tidak hanya berupa materi semata. Namun juga menyangkut rezeki yang ada di dalam jiwa kita, yakni rezeki kesehatan. Sebab, apalah guna harta berlimpah jika kondisi kejiwaan kita sedang didera suatu penyakit. Maka oleh karenanya, menjadi keharusan bagi kita untuk selalu mensyukuri anugerah rezeki Nya yang tiada bertepi. Allah telah berjanji, barang siapa yang bersyukur, maka rezeki yang diperolehnya akan semakin bertambah banyak.

    Menurut Syekh Ibnu Atha’illah as Sakandari orang yang sibuk mengejar kehidupan dunia sehingga lalai untuk taat dan beribadah kepada Allah, ibarat orang yang diutus majikannya menuju daerah asing untuk membuatkan beberapa baju baginya. Lalu orang tersebut pergi ke daerah yang dimaksud. Tapi setiba di sana, ia malah lalai dengan perintah majikannya dan menyibukkan diri dengan urusannya sendiri. Ketika kembali pada majikannya, tentu saja ia mendapat murka dan pemutusan hubungan dari sang majikan karena telah lalai dan tidak taat padanya.

    Sama halnya dengan manusia yang telah dikirim oleh Allah menuju dunia yang fana ini. Allah memerintahkan setiap hamba agar taat dan beribadah kepada Nya. Selain itu, Allah juga telah menganugerahkan rezeki yang berlimpah sebagai bekal hidup di dunia. Namun bila hamba tersebut lalai dan sibuk mengurus diri sendiri, maka ia akan bernasib seperti halnya pelayan yang melalaikan tugas yang diberikan oleh majikannya. Ia akan dimurkai oleh Allah dan hubungannya dengan Allah pun akan diputuskan (hal 31 32).

    Bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita, merupakan suatu keharusan yang tak bisa ditawar tawar. Menurut Imam Ghazali, ada dua alasan mengapa kita harus selalu mensyukuri nikmat Nya. Pertama, agar nikmat yang besar terus berlanjut. Kedua, agar tambahan nikmat terwujud. Syukur merupakan pengikat nikmat. Dengan bersyukur, nikmat yang kita peroleh menjadi langgeng atau abadi. Sebaliknya, orang yang tak mau bersyukur maka kenikmatan tersebut akan hilang dan berlalu.

Menurut Imam Ghazali, nikmat dibagi menjadi dua bagian. Nikmat dunia, dan nikmat agama. Nikmat dunia pun masih terbagi lagi menjadi dua, yaitu nikmat kesejahteraan dan nikmat keterlindungan. Nikmat kesejahteraan adalah jika Allah memberi kita banyak kebaikan dan keberuntungan. Sementara nikmat keterlindungan adalah jika Allah menjauhkan kita dari kerusakan dan marabahaya. Nikmat agama, juga ada dua macam, yakni nikmat petunjuk (taufik) dan nikmat keterpeliharaan dari ‘ishmah atau kesalahan (hal 74 77).

Di dalam buku ini, kita bisa belajar banyak melalui nasihat nasihat mengenai cara menyikapi rezeki dengan baik dan bijaksana, yang dipetik dari kitab kitab klasik yang ditulis oleh para ulama masyhur terdahulu, seperti Imam Ghazali, Syekh Abdul Qadir al Jailani, Syekh Ibnu Qayyim al Jauziyah, Syekh Ibnu Atha’illah as Sakandari, dan lain sebagainya.
***
* Sumber: Sam Edy Yuswanto (penulis lepas, bermukim di Kebumen.)
*Tulisan ini dimuat di Jateng Pos, 15 Februari 2015



view: 847