Kilasan Buku

Membebaskan Hati dari Nafsu Dunia

Sumber: Sam Edy Yuswanto

Judul Buku     : Reclaim your Heart
Penulis          : Yasmin Mogahed
Penerbit        : Zaman
Cetakan        : I, Desember 2014
Tebal            : 297 halaman
ISBN             : 978 602 1687 38 3


Hidup di dunia ini pasti tidak akan pernah terlepas dari berbagai ujian. Ujian yang diciptakan oleh Tuhan, sebenarnya untuk kebaikan hamba itu sendiri. Bila ia berusaha sabar menjalaninya, tidak pernah menyerah dan selalu berserah diri pada Nya, maka ia dinyatakan ‘naik kelas’ menjadi hamba yang lebih baik, hamba yang akan ditinggikan derajat kemuliaannya oleh Allah Swt.

    Melalui buku Reclaim your Heart ini, penulis mengajak pembaca untuk bersama sama mengarungi bahtera kehidupan; tentang apa yang harus dilakukan ketika tengah terjebak dalam berbagai persoalan pelik, dan juga tentang menjaga hati agar jangan sampai terlalu larut dengan hal hal keduniawian hingga menjerumuskannya pada nafsu dunia yang sifatnya hanya sementara.
      
    Bila kita menghitung seberapa banyak anugerah kenikmatan dari Allah, tentu tidak akan ada satu orang pun yang kuasa menghitung karena saking banyaknya. Akan tetapi, kita seringkali lupa kepada Sang Maha Pemberi Nikmat. Alih alih mengingat Tuhan, kita terkadang hanyut dan mengalami ketergantungan yang sangat akut dengan kenikmatan kenikmatan yang telah dianugerahkan Nya.

    Misalnya, ketika Allah menganugerahi harta berlimpah, kita bergantung pada harta tersebut, bahkan sangat takut bila harta tersebut hilang dari genggaman. Ketika Allah menganugerahi seseorang yang kita cintai, kita juga kerap bergantung padanya dan sangat takut jika suatu hari kehilangannya. Ketika Allah menganugerahi pangkat atau jabatan tinggi, kita juga sering khawatir jika suatu saat jabatan tersebut akan lepas dari diri kita. Ya. Allah telah menghadiahi kita banyak sekali anugerah, tapi kemudian kita malah terlalu mencintai anugerah anugerah itu, padahal seharusnya kita hanya mencintai Dia, Sang Pemberi Anugerah (hal 33). 

Hati diibaratkan bejana yang harus dikosongkan terlebih dahulu sebelum diisi. Kita tak pernah bisa berharap untuk mengisi hati dengan Tuhan selama hati kita dipenuhi oleh banyak hal selain Nya (hal 46). Bila kita kehilangan (apa pun itu bentuknya) dan hati kita menjadi hancur karenanya, ini menandakan kita memiliki keterikatan semu alias palsu. Perjuangan membebaskan diri dari keterikatan palsu dan perjuangan mengosongkan hati dari hal hal selain Allah, merupakan perjuangan terbesar dalam kehidupan ini (hal 48).

Sungguh sangatlah merugi bila ada orang yang tidak pernah menyaksikan kebutuhan dirinya akan Tuhan dan hanya bergantung kepada hal hal lain yang bersifat keduniawian semata. Padahal, semua hal tersebut, termasuk jiwanya sendiri, yang menciptakan adalah Tuhan. Maka, menjadi tugas penting bagi kita untuk terus mencari Tuhan, menaati segala apa yang telah diperintahkan, menjauhi hal yang telah dilarang, dan berusaha menjadikan Nya sebagai penolong.

Setiap manusia memang tidak pernah bisa luput dari berbuat salah dan lupa. Pertaubatan dari setiap perbuatan dosa, diibaratkan semir untuk hati. Semir tidak sekadar membersihkan; ia menjadikan objek yang disemir menjadi lebih bersinar daripada sebelumnya. Jika kita mau kembali kepada Allah, mencari pengampunan Nya dan kembali memfokuskan hidup dan hati kepada Nya, maka kita berpotensi menjadi lebih kaya dibandingkan ketika kita tidak pernah jatuh sama sekali (hal 73).

Pada umumnya, kita baru akan mengingat Allah jika dalam kondisi sangat terdesak. Misalnya, ketika jatuh sakit, saat mengalami kebangkrutan dalam berbisnis, saat tertimpa musibah, atau saat saat terberat lainnya, kita baru tersadar memiliki Tuhan lantas memohon mohon kepada Nya agar segala ujian lekas menyingkir dari kehidupan kita. Namun ketika Tuhan telah mengabulkan segala apa yang kita inginkan, kita malah melupakan Nya. Terkait hal ini, kita bisa meneladani para sahabat Rasulullah Saw., yang memiliki harta kekayaan berlimpah. Tetapi bila saatnya tiba, mereka dengan begitu mudahnya menyerahkan sebagian atau bahkan seluruh hartanya di jalan yang Allah ridhai (hal 107).
  
Buku bestseller versi Amazon.com untuk kategori buku Islam ini memang layak dimiliki dan bagus dijadikan sebagai bacaan penggugah semangat yang mengajarkan tentang bagaimana menjalani hidup yang penuh liku ini tanpa harus menjadi budak kehidupan.

***
*Penulis lepas, bermukim di Kebumen.
*Tulisan ini dumuat di Jateng Pos pada 15 Januari 2015



view: 669