Detail Buku

Belajar Hidup Tulus dan Wajar Kepada 10 Ulama-Psikolog Klasik:

    Imam al-Ghazâlî

    Imam al-Hâkim al-Tirmidzî

    Imam al-Nawawî al-Dimasyqî

    Syekh al-Hârits al-Muhâsibî

    Syekh ‘Abd al-Qâdir al-Jaylânî

    Syekh Ibn ‘Athâ’illâh

    Syekh Ibn Taymiyah

    Syekh ‘Abd al-Rahmân al-Lajâ’î

    Syekh ‘Abd al-Hamîd al-Anqûrî

    Syekh Muhammad al-Birgawî
Inilah buku yang menawari pembacanya sebuah ilmu rahasia. Ilmu rahasia yang menjadi kunci meraih kebahagiaan hakiki. Ilmu rahasia yang selalu disebut-sebut orang, namun sebetulnya tak banyak orang mengetahui hakikatnya. Ilmu rahasia yang telah diwariskan dari zaman ke zaman, tapi sebetulnya tak banyak orang yang tahu cara menimbanya. Ya, inilah buku tentang ilmu ikhlas.
Ilmu ikhlas adalah ilmu yang lain dari yang lain. Orang yang merasa mendapatkannya boleh jadi telah kehilangannya pada saat yang sama. Orang yang mengklaim menguasainya dengan mahir berarti dia tak bisa menguasainya. Dan orang yang mengaku-aku bisa mengajarkannya adalah orang yang masih perlu belajar lagi tentangnya. Itulah mengapa tak habis-habis orang membahasnya dan selalu saja muncul buku yang mengulasnya.

Tapi buku ini—mudah-mudahan—jugalah buku yang lain dari yang lain. Membaca buku ini, kita akan serasa tengah berguru. Berguru untuk mengais ilmu ikhlas ke para empu dengan menelusuri kitab-kitab para syekh dan imam dari berbagai zaman dan dari berbagai penjuru Dunia Islam—dari Bagdad hingga Turki, dari Damaskus hingga Maroko. Mulai dari Syekh al-Muhâsibî, Imam al-Ghazâlî, Syekh ‘Abd al-Qâdir al-Jaylânî, hingga Syekh Ibn Taymiyah dan Ibn ‘Athâ’illâh. Mereka mengajarkan kedalaman ilmu dan kearifan tentang keikhlasan, melebihi banyak ulama dan ustadz zaman ini.

Setamat membacanya, kita akan mengerti betapa ajaran mereka bak untaian tasbih; biji-bijinya sama dan sebangun namun sambung-menyambung dan saling mengisi dalam sebuah rangkaian; rangkaian yang baru bermanfaat bila kita titi satu per satu, dari pangkal hingga ke ujung, dari awal hingga akhir.

Daftar Isi Buku IKHLAS TANPA BATAS


1.    PERBUATAN itu BERGANTUNG pada NIATNYA
Syekh Ibn Taymiyah (w. 728 H)
2.    MAKNA NIAT TULUS
Imam al-Nawawî al-Dimasyqî (w. 676 H)
3.    HAKIKAT NIAT, IKHLAS, dan KESUNGGUHAN
Imam al-Ghazâlî (w. 505 H)
4.    Buatlah PAHALA BERLIPAT dengan NIAT
Imam al-Hâkim al-Tirmidzî (w. 320 H)
5.    IKHLAS sebagai INTI AJARAN ISLAM
Syekh Ibn Taymiyah (w. 728 H)
6.    IKHLAS sebagai RAHASIA
Syekh ‘Abd al-Rahmân al-Lajâ’î (w. 599 H)
7.    CIRI-CIRI IKHLAS
Syekh ‘Abd al-Hamîd al-Anqûrî (abad 8 H)
8.    IKHLAS versus RIA
Syekh Muhammad al-Birgawî (w. 995 H)
 9.    IKHLAS dalam BERTAUHID
Syekh ‘Abd al-Qâdir al-Jaylânî (w. 561 H)
10.    IKHLAS dalam BERIBADAH
Syekh Ibn ‘Athâ’illâh (w. 709 H)
11.    IKHLAS dalam MENERIMA REZEKI
Syekh ‘Abd al-Qâdir al-Jaylânî (w. 561 H)
12.    IKHLAS dalam BERSEDEKAH
Syekh al-Hârits al-Muhâsibî (w. 243 H)
13.    IKHLAS dalam MENGHADAPI KENYATAAN
Syekh ‘Abd al-Qâdir al-Jaylânî (w. 561 H)
14.    IKHLAS di tengah PUJIAN dan CELAAN
Syekh al-Hârits al-Muhâsibî (w. 243 H)
15.    Mengevaluasi NIAT, Menakar KETULUSAN
Syekh al-Hârits al-Muhâsibî (w. 243 H)
Benang Merah: SENI BERNIAT BAIK
Epilog: “KEJEBAK IKHLAS”: 3 Tips Mencicip Ikhlas