Detail Buku

Pernahkah Anda  mendengar seorang kaisar agung—sang penakluk dua imperium besar, Romawi dan Persia—yang tidak memiliki seorang ajudan pun. Rakyat kerap melihat ia tengah memanggul sekarung tepung dan gandum, sekantong minyak dan kurma, untuk ia bagi-bagikan ke rumah janda-janda dan anak-anak yatim. Sendirian!

Itulah Khalifah Umar—tokoh pemberani  tapi penuh perhitungan dan suka bermusyawarah. Dialah hawâri Rasul terdekat, orang tepercaya sekaligus penasihat utamanya. Dialah sahabat paling cemerlang, sang inspirator umat Islam. Dialah kaisar agung tetapi hidupnya lebih sederhana daripada seorang sahaya: makanannya roti juwawut atau kurma, minumnya air putih, ranjangnya alas tikar yang sudah lusuh. Pakaiannya penuh jahitan karena banyak robek.

Al-Fârűq—sang pembeda. Demikian julukan yang diberikan Rasulullah untuk Umar. Umar sangat menyukai dan kerap memakai julukan ini. Dijuluki demikian karena Umar dapat membedakan yang haq dan yang bathil, yang baik dan yang buruk. Rasulullah berkata, “Allah telah menempatkan kebenaran pada lisan dan hati Umar. Dialah mampu membedakan yang hak dan yang batil,” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim).

Al-Fârűq juga diartikan sebagai penjaga Rasulullah dan pencerai-berai barisan kaum kafir, musuh yang senantiasa membangkang dan melawan dakwah Islam. Saat Nabi berdakwah sembunyi-sembunyi, Umar bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah hidup dan mati kita dalam kebenaran?” “Ya!” jawab Nabi. “Jika demikian, mengapa kita diam-diam mendakwahkan ajaran kita? Demi Dzat yang mengutusmu atas nama kebenaran, saatnya kita keluar!”

Setelah itu, Nabi keluar bersama dua barisan sahabat, masing-masing dipimpin Umar dan Hamzah. Ketika mereka memasuki Ka‘bah, tak satu pun orang Quraisy berani mengganggu mereka.

Daftar Isi Buku Kisah Hidup Umar ibn Khattab