Detail Buku

91 Rahasia Bahagia Menjadi Hamba Allah


Semua tahu, ikhlas merupakan ruh segala amal. Selain menjadi penentu diterima-tidaknya amal kita di sisi Allah, hati yang ikhlas adalah sumber kebahagiaan dan kesuksesan kita.


Tapi, meski tahu, apakah kita mau dan mampu untuk ikhlas? Ikhlas seperti apa? Bagaimana caranya? Bukankah ikhlas sudah menjadi kata populer yang nyaris kehilangan makna sejatinya?


Lahir dari kedalaman makrifat seorang psikolog-muslim klasik, buku ini menuntun kita untuk terus berlatih ikhlas. Bukan lagi menjelaskan definisi dan urgensi ikhlas, al-Muhasibi mengupas lapis demi lapis kepura-puraan yang kerap tak kita sadari saat beribadah. Kiat-kiatnya praktis, menyengat kita betapa bukan penghambaan kepada Allah yang acap kita pertunjukkan saat beramal, melainkan kesombongan dan ria.


Buku ini mengingatkan kita bahwa tiap perbuatan—yang sedemikian baik di mata manusia sekalipun—bisa sia-sia (musnah pahala dan manfaatnya) tanpa mengajak bicara kalbu kita. “Berinteraksilah dengan hati Anda,” tutur Syekh al-Muhasibi, “sapu kotorannya dan sirami benih kekilauannya sehingga setiap perbuatan baik senantiasa memancar dari hati yang tulus!”


Imam al-Muhasibi lahir di Basrah pada 165 H/781 M. Karya-karyanya banyak menginspirasi ulama kenamaan setelahnya, seperti Abu Thalib al-Makki dan Abu Hamid al-Ghazali. Guru dari “Sang Begawan Sufi” Junaid al-Baghdadi ini wafat di Bagdad pada 243 H/857 M.




Daftar Isi Buku Belajar Ikhlas



Ya Allah, mudahkanlah!

1. Simak dengan Baik Hal-Hal yang Patut Disimak
2. Hak-Hak Allah yang Harus Dipelihara
3. Cara Mendekat pada Allah
4. Buah Takwa
5. Periksa Ketakwaan Lewat Anggota Badan dan Perasaan
6. Awal Menuju Allah
7. Renungkan Perbuatan yang Sudah dan akan Dilakukan
8. Mawas Diri terhadap Perbuatan Baik dan Buruk
9. Tingkat Kesulitan Takwa dan Muhasabah
10. Agar Takwa Terasa Mudah dan Ringan
11. Boleh Takut karena Ingat Akhirat, tapi Jangan Berlebihan 
12. Tepis Bisikan Setan dan Nafsu
13. Pelihara Hak-Hak Allah dengan Benar
14. Dahulukan yang Patut Didahulukan 
15. Perkara Haram dan Syubhat tak Boleh Menopang Pelaksanaan Kewajiban
16. Dahulukan Kewajiban yang Lebih Mendesak
17. Jangan Jadikan Warak sebagai Dalih Perbuatan Haram
18. Jangan Telantarkan Kewajiban dengan Alasan Kesempurnaan
19. Jalankan Ibadah Sunnah Berdasarkan Tingkatannya
20. Dua Ibadah Berderajat Sama, Mana yang Didahulukan?
21. Agar Senantiasa Bertakwa
22. Luruskan Niat Sebelum Beribadah
23. Ikhlas atau Ria?
24. Kenapa Kita Ria?
25. Ria Agar tak Dicela
26. Ria Agar Beroleh Keuntungan dari Orang Lain
27. Buah Kesalehanlah Motivasi Ria
28. Kiat Memberangus Ria
29. Pelaku dan Sarana Ria
30. Cara Menepis Ria yang Dibisikkan Setan
31. Cara Menepis Ria saat Beribadah 
32. Hukum Mewaspadai Godaan Setan
33. Meninggalkan Ibadah karena Takut Ria?
34. Kapan Kita Rentan terhadap Ria dan Sum‘ah?
35. Tingkatan Ria dan Sum‘ah
36. Sifat-Sifat Tercela Akibat Ria
37. Tips Mengenali dan Mengusir Ria
38. Bolehkah Bahagia karena Ibadah Kita Diketahui Orang Lain?
39. Jangan Beribadah Sebelum Benar-Benar Ikhlas!
40. Niat Hakiki dan Niat Hukmi
41. Agar Senantiasa Ikhlas Kala Mengajari dan Membantu Orang 
42. Agar Tetap Ikhlas Ketika Ibadah Dilihat Orang Lain
43. Hakikat Ria dan Ikhlas
44. Perbuatan yang tak Mungkin Dilakukan dengan Ikhlas
45. Jika tak Tergerak saat Disuruh Beribadah
46. Jika Awalnya Ria tapi Akhirnya Ikhlas
47. Jika Tidak Bisa Tenang karena Dipuji Orang
48. Haruskah Meninggalkan Ibadah karena Takut Dianggap Ria?
49. Bolehkah Memperlihatkan Ibadah supaya Ditiru?
50. Bolehkah Menceritakan Kebaikan Sendiri?
51. Ibadah Tertutup Lebih Utama daripada Ibadah Terbuka
52. Kapan Harus Meninggalkan Ibadah karena Takut Ria?
53. Ibadah Umum dan Ibadah Khusus
54. Bolehkah Beribadah karena Ingin Dicintai Orang?
55. Patutkah Gelisah Jika Kekurangan Ibadah Diketahui Orang? 
56. Bolehkah Menceritakan Perbuatan Maksiat?
57. Perbedaan Malu dan Ria
58. Ikhwal Mencela Pelaku Maksiat
59. Perlakukan dengan Setara Para Pemuji dan Pencela
60. Jangan Jadikan Ria sebagai Sarana Menaati Allah
61. Agar Ikhlas saat Mencontoh Ibadah Orang 
62. Jangan Berpura-pura
63. Pura-Pura Pingsan
64. Cara Mengusir Keinginan Berpura-Pura
65. Jika Tambah Khusyuk Ketika Dilihat Orang
66. Cara Menggauli Orang Kaya dan Orang Miskin
67. Cara Menjauhi Maksiat
68. Cara Menyikapi Teman yang Pemaksiat
69. Hawa Nafsu adalah Musuh Terbesar
70. Waspadalah, Ujub Selalu Mengintaimu
71. Ujub Terselip di Balik Kesempurnaan
72. Cara Menepis Ujub
73. Cara Menepis Ujub atas Pendapat yang Salah
74. Cara Menepis Ujub atas Hal-Hal Keduniawian
75. Sombong
76. Sombong dengan Ilmu 
77. Sombong dengan Amal 
78. Sombong karena Ria
79. Ujub dan Sombong Terselip di Balik Nikmat dan Karunia
80. Sombong dengan Karunia Duniawi
81. Cara Menepis Rasa Sombong
82. Jangan Sombong kepada Orang yang Lebih Buruk Darimu
83. Perbedaan Iri dan Berlomba-lomba
84. Usir Rasa Dengki
85. Akibat Iri
86. Dosa dan Akibat Iri
87. Jangan Tertipu
88. Cegah Diri dari Maksiat
89. Ragam Orang Tertipu
90. Akhlak Hamba saat Tidur dan Terjaga
91. Waspadalah, Setan Dengki Jika Engkau Istikamah

Al-Muhâsibî, Sang Psikolog Muslim Klasik 
Rampai Rujukan