Detail Buku

Tersebutlah seorang pangeran yang gemar menghabiskan setiap malamnya dengan pesta-pora. Istananya lebih hidup dan meriah pada malam hari. Sang pangeran baru akan tidur menjelang pagi dan akan bangun saat matahari terbenam, sampai-sampai ia hampir tak pernah melihat sinar matahari. “Aneh sekali. Aku tidak pernah melihat bagaimana rupa bunga-bunga ini saat tersinari matahari,” katanya suatu malam saat ia berjalan-jalan di taman.


Sampai suatu saat pangeran bertemu dengan seorang darwis yang mengubah hidup sang pangeran untuk selamanya. 


Singkat cerita, pangeran memilih hidup bersama para darwis dalam asketisisme. Ia pun tersadar akan kezalimannya sebagai pangeran selama ini. Namun demikian, sang pangeran tetap mengatur kerajaan dengan cara berkirim surat kepada panglima kepercayaannya. Tapi, istana telah berubah. Sang putra pangeran yang kini telah dewasa rupanya berhasrat merebut kekuasaan. Ia memenjarakan panglima kepercayaan pangeran dan menggantikannya dengan panglima baru yang ambisius. Mereka berkonspirasi untuk melakukan kudeta: memburu dan membunuh sang pangeran lalu mengumumkan kebohongan bahwa sang pangeran meninggal saat berburu.


* * *


Novel ini berkisah tentang Ibrahim ibn Adham, salah satu tokoh sufi paling terkenal. Ia sosok historis yang hidup pada abad kedelapan dan begitu melegenda. Penggalan-penggalan kisah sufistik dan mistik tentangnya banyak beredar di masyarakat. Bagaimana pandangan novel ini tentang hal itu?


Daftar Isi Buku Ibrahim ibn Adham