katalogpenuliskronikbengkel sahifahkilasan bukuguestbook
 
SQL query: update sis_ustadz_menjawab SET hits=hits+1 where id='38'



Edisi Jum’at, 30 September 2011

MENGENAI JILBAB, KHIMAR DAN CELANA PANJANG BAGI WANITA?

Assalamu Alaikum wr. wb.,

Sehubungan dengan penjelasan ustadz mengenai hukum wanita dalam memakai celana panjang, tolong dijelaskan mengenai Quran surah Al Ahzab ayat 59 dimana didalamnya tercantum mengenai jilbab (pernah saya dapatkan informasi bahwa jilbab itu merupakan pakaian yang panjang menutupi seluruh tubuh, dalam makna bahasa arabnya) yang mana berbeda dengan yang dipahami secara umum di Indonesia sebagai penutup kepala sampai ke dada. 

Dan bagaimana dengan Khimar yang dimaksudkan dalam surah An Nur ayat 31 didalamnya disebutkan “..Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya...”?

Karena bila memang makna jilbab dan khimar yang dimaksud diatas memiliki konteks yang berbeda, dan maknanya demikian adanya dan harus digunakan oleh muslimah saat mereka keluar rumah, dengan demikian maka wanita tidaklah diperbolehkan memakai celana.

Mohon penjelasan Ustadz dikarenakan awamnya saya dalam hal ini.

Jazakumullah khair.
Wassalamu alaikum wr. wb.


JAWABAN
Wa’alaikum salam wr.wb. 

Jazâkallâh atas pertanyaan luar biasa ini. Sebelum membahas seputar boleh tidaknya memakai celana panjang bagi wanita, perlu saya sampaikan terlebih dahulu makna jilbab dan khimâr menurut para ulama. 

Secara bahasa, Jilbab dalam bahasa Arab, sebagaimana ditulis dalam al-Mu’jam al-Wasîth adalah: 

يطلق على الثوب المشتمل على الجسد كله، وعلى الخمار، وعلى ما يلبس فوق الثياب كالملحفة والملاءة تشتمل بها المرأة

Artinya: “Pakaian yang menutupi seluruh tubuh, ia mencakup khimâr (penutup kepala), juga mencakup pakaian yang dipakai di atas pakaian yang lainnya, seperti rangkepan (pakaian yang menutup pakaian pertama) yang biasa dipakai oleh perempuan”. 

Bentuk plural (jamak) dari kata Jilbab adalah Jalâbîb, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ahzâb [33] ayat 59: 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sedangkan menurut istilah, para ulama berbeda pendapat. Ibnu Hajar dalam Fathul Bâri memaparkan tujuh pendapat seputar makna jilbab. Di antaranya adalah kerudung (al-khimâr atau al-muqni’ah), sarung (al-izâr), baju luar atau mantel (ar-ridâ`), baju yang menutup baju yang lain (al-mulhifah), baju kurung (al-qomîsh), dan baju yang lebih lebar dari kerudung (tsaubun akbaru minal khimâr).  

Demikian juga dengan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, ketika menjelaskan ayat  di atas, ia juga menjelaskan beberapa pengertian dari Jilbab sebagaimana disampaikan Ibnu Hajar. Namun, Imam al-Qurthubi kemudian merajihkan (menguatkan) pendapat yang mengatakan bahwa jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh badan. 

Imam al-Qurthubi dalam hal ini berkata: 

والصحيح أنه الثوب الذي يستر جميع البدن

Artinya: “Pendapat yang tepat, jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh badan”. 

Dari sini nampak, bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna jilbab itu sendiri. Jadi, jika ada yang memahami bahwa jilbab adalah penutup kepala sampai ke dada, maka sah-sah saja, karena sebagian ulama mengartikannya dengan pakaian atau penutup yang lebih lebar dari kerudung. Hanya memang, kebanyakan para ulama memahami jilbab adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam al-Qurthubi di atas, karena di samping sesuai dengan banyak hadits,  juga cocok dengan pengertian jilbab secara bahasa. 

Sedangkan kata khimâr, hampir seluruh para ulama sepakat, ia adalah setiap yang menutup kepala perempuan, atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kerudung. Ibnu Hajar dalam Fathul Bâri, juga Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, misalnya mengatakan: 

الخمار: ما تغطي به المرأة رأسها 

Artinya: “Khimâr adalah sesuatu yang dipakai oleh perempuan untuk menutup kepalanya”. 

Bentuk jamak dari kata khimâr adalah khumur, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah di bawah ini:
 
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Artinya: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya” (QS. An-Nûr [24]: 31). 

Pembahasan jilbab dan khimâr ini banyak dibicarakan oleh para ulama, bukan berkaitan dengan masalah boleh tidaknya memakai celana panjang bagi wanita. Akan tetapi, lebih kepada apakah wajah wanita itu juga aurat sehingga harus ditutup? 

Mereka yang memahami wajah wanita juga aurat dan karenanya wajib memakai cadar, memahami kedua ayat di atas, bahwa jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh, termasuk wajah. Demikian juga dengan kerudung, dalam ayat di atas Allah memerintahkan agar kerudung pun dipanjangkan sampai menutup  dada. Jika sampai menutup dada, maka otomatis kerudung juga menutup wajah, dan karenanya wajah harus ditutup. 

Namun para ulama yang lain yang mengatakan wajah perempuan tidak wajib ditutup berhujjah dengan pemahaman lain sekaligus hadits-hadits yang mendukung. Menurut pendapat ini, kerudung tidak berarti menutup wajah, karena boleh jadi kerudung tersebut tetap menutup dada tapi dengan jalan dililitkan ke leher, sehingga wajah tetap nampak. Perdebatan ini sangat panjang, dan para pembaca dapat melihat lebih jelas di antaranya dalam tafsir Imam al-Qurthubi. 

Kembali kepada persoalan, tentang bolehnya wanita memakai celana panjang. Sepengetahuan saya, para ulama tidak menjelaskan bagaimana bentuk pakaian. Namun, setiap pakaian yang menutup aurat dengan memenuhi syarat-syarat yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam banyak hadits, maka boleh dipakai. Di antara syarat-syarat penting dalam berpakaian adalah: 

1. Tidak terbuka aurat atau harus menutup seluruh aurat. Para ulama menyebutnya dengan lâ taksyif (tidak terbuka). 

2. Tidak transparan atau tidak tembus pandang. Pakaian yang menutup seluruh aurat akan tetapi tembus pandang dan transparan juga tidak dibenarkan. Para ulama menyebutnya dengan lâ tasyif (tidak transparan). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Daud, bahwa ketika Asma’ saudari kandung Sayyidah Aisyah masuk ke rumah Rasulullah saw dan memakai pakaian transparan, Rasulullah saw berpaling dan bersabda: 

((يا أسماء إن المرأة إذا بلغت الحيض لم يصلح أن يرى منها إلا هذا)) وأشار إلى وجهه وكفيه. 

Artinya: “Wahai Asma, jika wanita telah haid, maka tidak boleh nampak kecuali ini”, sambil beliau berisyarat kepada muka dan kedua telapak tangan”. 

3. Tidak ketat (la tashif), sehingga nampak lekukan tubuh atau bentuk tubuh. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim Rasulullah saw bersabda:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَتُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا)) [رواه مسلم] 

Artinya: “Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Ada dua kelompok penghuni neraka yang aku tidak akan melihat keduannya, yaitu satu kaum yang membawa cameti seperti ekor sapi yang memukuli orang-orang, dan perempuan-perempuan berpakaian, akan tetapi hakikatnya mereka telanjang. Mereka jauh dari ketaatan kepada Allah, dan selalu melakukan perbuatan tercela padahal mereka mengetahuinya. Kepala-kepala mereka seperti punggung unta yang tinggi dan miring. Mereka tidak akan masuk surga, juga tidak akan mencium bau surga. Padahal wangi surga itu dapat dicium dari jarak perjalanan yang menghabiskan waktu  segini dan segini (maksudnya yang sangat jauh)” (HR. Muslim).

Imam Nawawi dalam Syarah nya terhadap Shahih Muslim, ketika menjelaskan wanita berpakaian tapi telanjang mengatakan: yaitu memakai pakaian tipis yang membentuk lekukan tubuhnya. 

Ibnu Abdil Barr, seorang ulama Maliki, dalam kitabnya at-Tamhîd juga mengatakan yang sama, bahwa yang dimaksud dengan wanita berpakaian tapi telanjang adalah, wanita yang berpakaian tipis dan membentuk tubuhnya. Ia kemudian berkata: “Secara lahir ia berpakaian, tapi hakikatnya ia telanjang”( kâsiyât bil ism, ‘âriyât fil haqîqah). 

Dengan demikian, saya menghimbau kepada seluruh wanita, baik yang belum menikah terutama yang sudah menikah, agar tidak memakai pakaian ketat, yang belakangan ini sedang model dan marak dipakai di Indonesia. Ingat, mereka yang memakai pakaian tersebut, sekalipun dia berkerudung, maka tidak akan pernah masuk ke surga, dan bahkan tidak akan pernah mencium bau surga  sebagaimana sabda Rasulullah saw di atas. Semoga Allah selalu membimbing kita semua, amiin. 

Kembali ke persoalan, dengan demikian, pakaian apapun selama memenuhi persyaratan-persyaratan di atas, diperbolehkan, termasuk celana panjang. Dengan syarat, celana ittu menutup aurat, tidak ketat, tidak transparan dan tidak memancing perhatian orang yang melihat. Di samping, mereka yang memakai celana panjang usahakan agar bajunya juga panjang sampai dengkul atau kaki. Karena jika celana panjang tersebut memenuhi semua persyaratan, akan tetapi baju yang dipakai pendek tentu juga tidak dibenarkan, karena akan mengundang banyak perhatian orang lain, dan akan membentuk tubuh bagian belakangnya.

Almarhum Syaikh ‘Athiyyah Shaqar, seorang ulama ‘alim dan shaleh dari al-Azhar, dalam bukunya Mausu’ah al-Usrah (Cetakan Maktabah Wahbah:2/111) pernah mengatakan, bahwa celana panjang sudah dikenal oleh bangsa Arab sejak dahulu kala. Mereka menyebutnya dengan as-sirwâl. Bahkan Nabi Ibrahim, menurut sebuah riwayat, adalah yang pertama kali memakainya. Bahkan dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw pun pernah memakainya. 

Bukan hanya itu, celana panjang ini juga, lanjut Syaikh ‘Athiyyah, juga dipakai oleh kaum wanita, bahkan Rasulullah saw dalam sebuah hadits dhaif riwayat Imam al-Baihaki, Ibnu ‘Adi dan al-‘Uqaily pernah bersabda: 

اتخذوا السراويلات، فإنها من أستر ثيابكم، وحصنوا بها نساءكم إذا خرجن

Artinya: “Pakailah oleh kalian celana-celana panjang, karena ia pakaian yang paling menutup. Dan jagalah dengan celana-celana panjang tersebut isteri-isteri kalian ketika mereka keluar (maksudnya pakaikan juga kepada isteri-isteri karena lebih menutup mereka=pent)”. 

Hanya saja, hadits di atas lemah. Namun, Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana dikutip Syaikh Athiyyah Shaqar, pernah ditanya tentang boleh tidaknya memakai celana panjang ini. Imam Ahmad membolehkan dan berkata: 

إنها أستر من الأزر

Artinya: “Celana panjang itu lebih menutup dari pada kain sarung”. 
Demikian semoga jelas, 
wallâhu a’lam bis shawâb. 
Aep SD




dibaca: 2433 kali

Share/Save/Bookmark  


  • POPULER












Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact | RSS

Copyright © 2009 - 2014 Penerbit Zaman. All Rights Reserved
Redaksi: Jl. Kemang Timur Raya No. 16. Jakarta 12730. Indonesia
Telp: +6221-7199621 (hunting) Fax +6221-7199623, Email: info@penerbitzaman.com