katalogpenuliskronikbengkel sahifahkilasan bukuguestbook
 
SQL query: update sis_ustadz_menjawab SET hits=hits+1 where id='13'



Edisi Kamis, 1 April 2010

Shalat Jamak Ketika Berada Di Rumah (Tidak Sedang Bepergian)

Assalamualaikum Pak Ustad..
Nama saya Evina.
Saya membaca blog Bapak di internet, dan mendapatkan alamat email Bapak.

Saya adalah siswa muslim dari Indonesia yang sedang menjalani pertukaran pelajar di USA selama setahun. Disini saya tidak bisa melakukan solat zuhur di sekolah, karena saya masih SMA dan tidak ada mesjid di sekitar sekolah. Pertanyaan saya, bolehkan saya melakukan solat jamak taqhir untuk Ashar dan Dzuhur begitu saya sampai rumah?

Yang membuat saya ragu adalah karena meurut ilmu yang saya baca, Solat Jamak dan Qasar adalah solat yang diperuntukan kepada musafir, dan untuk solat Jamak Taqhir, boleh dilakukan apabila selesai solat kedua tersebut masih di dlm perjalanan.. dan perjalanan itu tidak menetap lebih dari 3 hari.

Lalu bagaimana dengan solat Qada? apakah alasan saya tentang kondisi di sekolah membolehkan saya untuk melakukan solat Zuhur Qada setelah di rumah? hal ini juga membuat saya ragu karena saya baca bahwa solat Qada adalah untuk orang yang tidak sengaja meninggalkan solat.

Terima kasih sebelumnya semoga Bapak sekeluarga selalu dalam rahmat dan lindungan ALLAH SWT.

JAWABAN
wa'alaikum salam wr.wb
Ahlan Bang Evina, alhamdulillah, semoga selama tugas belajar di USA senantiasa dalam kesehatan, kelancaran dan tentunya dalam ridha dan lindungan Allah, amiiin.

Pertama saya hendak menyampaikan apresiasi yang luar biasa untuk Bang Evina, karena perhatian penuh tentang melaksanakan kewajiban, yang di antaranya shalat. Alhamdulillah, ini di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada Bang Evina. Dan, yakinlah pahala shalat Bang Evina di Amerika, juga kebaikan-kebaikan lainnya, pahalanya jauh lebih besar dari pada apa yang dilakukan di Indonesia. Kenapa? Karena tantangan di Amerika lebih besar dari pada di INdonesia. Dalam hal ini, Sayyidah Aisyah menukil sabda Rasul pernah menuturkan: "Pahala kamu berdasarkan susah tidaknya tantangan yang dihadapi atau berdasarkan keluh kesah kita dalam melakukannya".

Kemudian menyangkut pertanyaan, pertanyaan luar biasa. Perlu saya sampaikan, bahwa shalat Jamak, baik takdim maupun ta'khir, boleh dilakukan ketika bepergian (safar) atau juga ketika tidak sedang bepergian (muqim).

Di antara dalil bolehnya ketika bepergian sangat banyak. Saya akan ambilkan beberapa hadits bolehnya shalat jamak ketika sedang tidak bepergian.

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim (hadits nomor 705), Ibnu Abbas menuturkan: "Adalah Rasulullah saw menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar, Magrib dengan Isya di Madinah, tanpa karena ada rasa takut (penyerangan musuh) juga tanpa karena adanya hujan lebat". Dalam lafazh lainnya: "Rasulullah saw melakukan shalat Dzhuhur dengan Ashar dijamak, demikian juga dengan Magrib dan Isya, bukan karena ada rasa takut, juga bukan karena sedang bepergian". Ibnu Abbas lalu ditanya, mengapa Rasulullah saw melakukan hal itu? Ibnu Abbas menjawab: "Hal itu dimaksudkan agar tidak memberatkan ummatnya" (HR. Muslim).

Dalam hadits shahih lainnya, disebutkan bahwa Rasulullah saw menjamak shalat (padahal beliau tidak sedang bepergian) karena hujan lebat.

Karena itu, Ibnu Hajar al-Asqalany dalam Fathul Bari (2/24) mengatakan, bahwa hadits di atas mengisyaratkan Rasul melakukan shalat Jamak bukan karena adanya rasa takut, hujan, juga bukan karena bepergian. Karena itu sebagian ulama juga membolehkan bagi yang sakit juga untuk menjamaknya.

Imam Nawawi dalam syarahnya terhadap shahih Muslim (5/225, 226) juga mengatakan: "Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama ada yang berpedndapat diperbolehkannya menjamak shalat apabila ada udzur sakit atau udzur lainnya".

Jadi para ulama sekalipun membolehkan menjamak shalat sekalipun tidak sedang bepergian. Satu hal yang perlu dicatat adalah perkataan Ibnu Abbas di atas, bahwa megnapa Rasul menjamak shalat padahal tidak ada hujan dan lainnya? Karena beliau tidak mau memberatkan ummatnya. Jadi selama ada masyaqah (kesusahan, kesulitan) yang dihadapi seseorang, boleh dijadikan udzur untuk menjamak shalat, baik jamak takdim maupun jamak takhir, misalnya karena sakit, atau karena kondisi yang Mas Evina sebutkan di atas. Jadi insya Allah, Mas Evina sangat diperbolehkan untuk menjamak shalat, apalagi dengan kondisi Mas Evina yang disebutkan di atas.

Adapun untuk shalat Qasar, jumhur ulama mengatakan bahwa illat diperbolehkannya adalah safar (bepergian), bukan masyaqah (kesulitannya). Untuk itu, shalat qashar boleh dilakukan oleh yang bepergian, baik bepergian tersebut melelahkan ataupun tidak melelahkan, baik ada masyaqah ataupun tidak ada masyaqah. Madzhab Syafi'i membatasi bepergian yang diperbolehkan mengqashar shalat adalah apabila sampai 80 KM ke atas.. Sedang menurut Hanafiyyah, apabila perjalanan tersebut memakan waktu seukuran dengan 3 hari 3 malam berkendaraan unta. Dan dalam madzhab Syafi'i, batas boleh mengqashar hanya tiga hari saja, sedangkan menurut Hanafi, boleh berapa lama pun selama niatnya adalah bepergian (safar). Dalil bahwa sebab bolehnya shalat qashar adaalah bepergian (safar) berdasarkan firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 101.

Jadi menyangkut pertanyaan, silahkan Mas melakukan shalat jamak baik takdim maupun takhir, apabila sudah sampai di rumah Mas.

Nah, kemudian ada hal yang perlu dibedakan antara shalat jamak takhir dngan shalat qadha. Shalat jamak takhir dilakukan apabila waktu shalat kedua masih ada. Misalnya, waktu magrib di Amerika pukul 18.00, ternyata waktu mas sampai rumah dan hendak shalat dhuhur dan ashar itu masih pukul 17.00. Maka ini dinamakan shalat jamak takhir, karena masih dalam waktu shalat kedua.

Apabila waktu shalat kedua sudah lewat, misalnya sampai rumah ternyata pukul 19.00, sudah masuk waktu magrib, maka bukan lagi shalat jamak namanya, tappi shalat dhuhur dan ashar dilakukan secara qadha, karena waktu shalat asharnya sudah habis.

Shalat qadha harus dilakukan apabila tidak sempat melakukan shalat pada waktunya atau dijamak, karena berbagai keperluan misalnya. Kenapa, karena shalat lima waktu hukumnya wajib. Ia harus dikerjakan kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apapun. Jadi dalam kajian maqashid Syari'ah, shalat lima waktu itu masuk kategori Dharuriyyat (primer). Sedangkan mengqadha, atau menjamak, masuk kategori Hajiyyat (sekunder). Dan dalam aturannya, hal yang sekunder tidak boleh menggugurkan yang primer. Atau dengan kata lain, yang primer harus dilakukan dalam keadaan apapun. Jadi tidak boleh karena tidak shalat pada waktunya kemudian tidak shalat sama sekali, karena tadi shalat lima waktu masuk kategori primer.

Shalat Qadha boleh dilakukan karena tidak disengaja, misal ketiduran atau karena disengaja tapi karena ada alasan, misalnya seperti kondisi Mas Evina di Amerika. Atau karena masalah macet di jalanan yang tidak mungkin berhenti dahulu dan shalat dahulu, karena akan mengganggu ketertiban lalu lintas. Untuk kondisi semua itu, hemat saya, boleh kita mengqadha shalat. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah saw ketika perang ahzab. Karena sibuk dengan menghadapi musuh saat itu, beliau mengqadha shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib pada waktu Isya.

Demikian Mas Evina, semoga jelas, dan betapa Islam itu agama yang tidak memberatkan ummatnya. Banyak cara yang ditawarkan oleh Islam dalam mengerjakan kewajiban, karena Islam melarang keras menggugurkan kewajiban karena alasan apapun. Semoga Anda makin sukses, dan ingat, kesuksesan kita tidak semata kerana kerja keras kita, tapi yang paling penting karena kehendak dan kekuasaan Allah. Dan satu hal juga, kesuksesan kita bukan semata sukses dunia, tappi juga sukses di akhirat kelak, amiiin.

Semoga Allah senantiasa membantu dan menolong kita untuk selalu mengingatNya, mensyukuriNya dan beribadah sebaik mungkin kepadaNya.

wassalam
hormat saya,
aep saepulloh darusmanwiati




dibaca: 3000 kali

Share/Save/Bookmark  


  • POPULER












Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact | RSS

Copyright © 2009 - 2014 Penerbit Zaman. All Rights Reserved
Redaksi: Jl. Kemang Timur Raya No. 16. Jakarta 12730. Indonesia
Telp: +6221-7199621 (hunting) Fax +6221-7199623, Email: info@penerbitzaman.com