Edisi 6 Juli 2010

Motivator Kondang Itu Tukang Cuci Piring

Hidupnya sarat dengan cemoohan dan kegagalan. Tapi desakan mimpinya lebih besar ketimbang cemoohan dan kegagalannya. Berpikir positif kuncinya.      

Bocah itu tergeragap. Kesadarannya belum sepenuhnya ia rengkuh, tapi bibirnya mengulum senyum. Ia teringat mimpinya barusan, dan mimpi malam-malam sebelumnya. Bangkit dari tempat tidurnya, ia menuju kamar mandi untuk berwudu, lalu menunaikan shalat Subuh. Di luar, fajar tengah merekah. Dan, sepagian itu sang bocah menjalani harinya dengan senyum mengembang.

Setiap bertemu saudara atau temannya, ia seakan memutar kembali mimpinya itu. “Ya, bermimpi sajalah kau,” komentar salah seorang saudaranya, saking bosannya ia mendengar bocah itu berkisah tentang mimpinya. Bocah itu merengut sebentar dan berlalu dari saudaranya itu. Wajahnya kembali dihiasi senyum terkulum. Di sekolah, ia menceritakan lagi mimpinya ke teman-temannya, walaupun mereka cenderung meninggalkan bocah itu mengoceh sendirian.

Ia, tentu saja, belum sepenuhnya mengerti dengan respons saudara dan teman-temannya. Padahal, ia menganggap mimpinya itu sederhana: menjadi pemimpin hotel. Itu saja. Bahwa ia lahir dari keluarga pas-pasan, mungkin betul. Tapi, tak bolehkah ia bermimpi? Demikian pikiran yang melesat dalam benaknya.   

Ibrahim Elfiky, nama bocah itu, pun menjalani kehidupannya dengan tujuan untuk mewujudkan mimpinya. Ia menikmati kesehariannya yang disarati mimpi.

Setelah lulus dan menikah, ia mencoba peruntungan di Kanada. Namun keberuntungan masih juga tak memihaknya. Di negeri asing itu ijazahnya tak diakui dan ia tak begitu lancar berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Tapi di Kanada, cita-citanya untuk bekerja di sebuah hotel terwujud. Tak menduduki posisi direksi memang, tapi ia bekerja di sebuah hotel di Kanada; walau hanya sebagai tukang cuci piring.   

Didera ketidakberuntungan terus menerus, ia hampir mengamini pendapat teman dan keluarganya tentang mimpinya; bahwa mimpinya sekadar mimpi belaka. Kehidupannya hampa. Tak ada semangat, juga tenaga. Tapi itu sebelum dia “didatangi” oleh ayahnya yang telah wafat sambil membacakan ayat, “Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubah keadaannya (al-Ra‘d: 11).”

Dengan semangat ayat itu ia mencoba mengubah sendiri nasibnya. “Dengan tanganku sendiri perubahan itu terjadi,” tekadnya. Dari situ ia mulai menata kembali kehidupannya. Pagi ia kuliah perhotelan, sore bekerja di hotel, dan malam mengelola restoran. Berhasilkah ia? Tidak semudah itu. Kehidupannya lebih akrab dengan kegagalan ketimbang dengan kesuksesan.  
 
Peristiwa paling getir terjadi saat ia hendak menjadi seorang ayah. Itu terjadi pada 1980. Istrinya hendak melahirkan bayi kembarnya dengan operasi Caesar, ketika itu. Pada saat bersamaan Elfiky baru saja dikeluarkan dari sebuah perusahaan perhotelan. Namun, ia tak patah arang. Berusaha, berusaha, dan berusaha, hanya itu yang ia bisa. Di samping membutuhkan biaya besar untuk perawatan sang istri setelah melahirkan Elfiky juga memerlukan uang untuk mencukupi gizi anak kembarnya.    

Beruntung, tak lama kemudian ia mendapat pekerjaan sebagai penjaga malam di sebuah restoran kecil. Di restoran itu, ia bekerja dengan tekun sehingga bisa menafkahi keluarganya. Dia bekerja mulai pukul 09.00 hingga pukul 15.00. Tak hanya itu, ia mendaftarkan diri di Universitas Concordia untuk meraih gelar diploma di bidang administrasi. Pada malam harinya, ia bekerja sebagai manajer di restoran yang lain.  

Selama setahun, Elfiky terus melakoni aktivitas seperti itu. Seiring perjalanan waktu, ia mendapat pekerjaan yang terus lebih baik. Pada 1986 Elfiky berhasil menjadi direktur utama di salah satu hotel di Kanada. Saat itulah ia mulai membentuk tim kerja yang ia latih sendiri. Berkat pelatihannya, hotelnya menjadi satu dari sekian hotel yang berkembang pesat.   
      
Kesuksesan pun mulai menyambanginya. Timbullah keinginannya untuk mencoba menyusun dan menyarikan nilai-nilai yang terdapat dalam pengalamannya. Dari situ, ia berkesimpulan bahwa pikiran memegang peranan besar dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, ia senantiasa belajar dan terus menggali potensi kekuatan pikiran. Seumur hidup dengan pengabaian dan diacuhkan tak langsung membuatnya lantas berpikir negatif dan pesimis. Dengan berpikir positif ia justru bisa melunasi mimpinya.

Dari situ, ia kemudian mulai menulis buku. Setelah ia mencoba menawarkan ke beberapa penerbit, hanya penolakan yang ia terima. Akhirnya ia memutuskan untuk menerbitkan buku dengan kocek pribadinya. Sedikit demi sedikit ia pun menemukan jalannya menuju kesuksesan.  

Yang menarik, ia membuktikan semua hipotesisnya tentang pikiran sebelum menuliskannya. Itulah yang membuatnya berbeda dengan sejumlah buku motivasi lainnya. Di samping itu ia bisa menambahkan berbagai cerita-cerita yang memang ia alami sendiri atau yang dialami temannya yang kemudian ia ambil nilai dan hikmahnya. Tapi suami Amal  ini tak terlena dengan kesuksesannya. Ia tak pernah berhenti memperbaiki dan meningkatkan kualitas dirinya. Untuk itu, mengikuti pendidikan jarak jauh yang studinya dilakukan melalui korespondensi pun ia jalani. Pada lembaga pendidikan inilah dia meraih sebuah penghargaan internasional dari Amerika sebagai mahasiswa terbaik untuk pendidikan jarak jauh. Bukan hanya itu, ia terus belajar hingga meraih gelar PhD di bidang metafisika di Los Angeles University, selain meraih 23 diploma di berbagai kampus.

Elfiky yang hidupnya digerakkan mimpi dan selalu diabaikan itu menjadi motivator ulung. Karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa. Selain itu ia memegang sejumlah hak paten atas temuannya seperti neureo conditioning Dynamic dan ilmu power human energy. Selain itu, mimpinya terwujud: ia menjadi direksi sejumlah hotel bintang lima di Kanada dan menjadi motivator dan trainer terkenal di dunia.

Kini, Ibrahim Elfiky bangun setiap hari dengan ditemani senyum indah bertengger di bibirnya tanpa perlu lagi merengut.

(Dimuat di Kilasan Zaman edisi I, Juli 2010/Rajab 1431)  



view: 143

Sumber: Penerbit Zaman
  • KABAR LAINNYA






Selamat bergabung dengan Milis Zaman. Silakan masukan email anda.







Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact

Copyright © 2008 Penerbit Zaman