Celah Zaman
Edisi 5 Juli 2010
Mengintip Ibadah Rasulullah
Sumber: Syekh Muhammad Ali al-Birgawi*
Ada dua orang muazin yang bergantian mengumandangkan azan pada masa Rasulullah, yaitu Bilal dan Ibn Maktum, yang tuna-netra.
Rasulullah mengatakan bahwa salah satu hal yang paling disukainya di dunia ini adalah shalat. Ia jadikan shalat sebagai sarana untuk bermunajat dengan Tuhannya. Rasulullah meminta umatnya agar mendirikan shalat sebagaimana mereka melihatnya shalat. Siapa pun tidak mungkin bisa mendirikan shalat seperti shalatnya Rasulullah. Orang yang paling disukai oleh Rasulullah adalah yang istikamah dalam ibadahnya. Ketika menjadi imam, Rasulullah akan memendekkan bacaan dan meringankan shalatnya, tetapi ketika shalat sendiri, ia akan memanjangkannya. Rasulullah suka shalat berlama-lama sepanjang malam hingga kedua kakinya bengkak-bengkak.
Apabila cuaca dingin, Rasulullah menyegerakan shalat, sedangkan apabila cuaca panas, Rasulullah menangguhkannya. Ketika mengutus seseorang ke suatu wilayah untuk menjadi gubernur atau imam, Rasulullah menyampaikan pesan sebagai berikut:
Ringankan dan ringkaskan bicaramu, karena panjang kata berdampak seperti mantra penyihir. Pendekkan ceramahmu dan mudahkan segala persoalan umat, jangan bikin susah. Sampaikan kabar gembira kepada mereka, jangan mengancam mereka dengan hukuman. (H.R. al-Bukhari dari Abu Burdah) Ketika berwudu, Rasulullah menggunakan air dengan hemat. Usai wudu, ia ciduk sedikit air yang dipercikkan ke tempat sujudnya. Sebelum membasuh tangan, Rasulullah memindahkan cincinnya hingga bagian jarinya itu tersentuh air. Dan ketika mencuci punggung lengannya hingga sikut, Rasulullah menggosok-gosoknya secara merata. Lalu, ia membasuh dan menggosok cuping telinganya, kemudian menciduk air untuk dibasuhkan ke dagu dan janggutnya secara merata seraya ditelisik dengan jari-jarinya. Ketika mencuci kaki, Rasulullah menggosok sela-sela jari-jari kakinya dengan jari kelingkingnya. Alih-alih mengeringkan dengan handuk, Rasulullah lebih suka mengangin-anginkan kedua tangan dan kakinya setelah berwudu. Usai berwudu, ia shalat dua rakaat. Ia tak membiarkan orang lain membantunya sebelum dan dan ketika berwudu. Ia tak membiarkan orang lain mengucurkan air untuknya atau mengambilkan handuk untuknya. Rasulullah tak suka dilayani, apalagi meminta orang lain untuk melayaninya.
Saat shalat, warna kulit Rasulullah berubah; kadang-kadang berwarna pucat, dan kadang-kadang berwarna kemerah-merahan. Menjelang shalat Subuh, pelayan wanita milik penduduk Madinah datang ke masjid membawa kantung air. Rasulullah memasukkan jari-jarinya ke kantung-kantung air mereka dan memintakan berkah untuknya. Usai shalat subuh, Rasulullah duduk dan berdoa menghadap Kakbah hingga terbit matahari. Kemudian ia menghadap jamaah dan bersabda:
“Apabila ada di antara kalian yang sakit, aku akan menjenguknya; bila ada yang meninggal, aku akan membantu penguburannya. Jika ada yang bermimpi, datanglah kepadaku dan ceriterakanlah mimpinya.” Tatkala memulai shalat dengan melakukan takbiratul ihram, Rasulullah mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari yang terbuka dan telapak menghadap ke depan seraya mengucapkan: “Allâhu Akbar”. Kemudian ia turunkan kedua tangannya dan memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya. Ketika rukuk, Rasulullah membungkukkan pinggangnya, dan meletakan kedua tangannya dengan jari-jari yang terbuka tepat di atas kedua lututnya. Rukuknya begitu sempurna dan punggungnya tampak rata sehingga jika kaukucurkan air di atasnya, air itu akan tetap di sana dan tidak akan mengalir.
Tak ada sesuatu pun yang dapat mencegah Rasulullah untuk mendirikan shalat di awal waktu. Ketika menempuh perjalanan jauh, Rasulullah shalat Lohor dan Asar bersama-sama pada waktu asar, serta menghimpun shalat Magrib dan shalat Isya. Pada hakikatnya, Rasulullah selalu berada dalam keadaan shalat, karena ia tidak pernah lupa kepada Allah. Setiap saat dan setiap waktu, Rasulullah selalu mengingat Allah. Kadang-kadang Rasulullah shalat di kebun dan ruang terbuka. Ia suka shalat di tempat seperti itu. Biasanya ia shalat di atas sehelai kulit domba yang sudah disamak atau di atas selembar tikar jerami. Sebelum shalat, kadang-kadang kasutnya ia lepaskan, tetapi di lain waktu ia tetap mengenakannya. Rasulullah selalu mendirikan shalat sunat di antara waktu Asar dan waktu Magrib, tetapi ia melarang orang lain mengikutinya. Rasulullah selalu mendirikan shalat sunat kabliyah dan bakdiyah: dua rakaat sebelum dan sesudah shalat Lohor, dua rakaat sebelum shalat Asar, dua rakaat setelah shalat Magrib, dan dua rakaat setelah shalat Isya.
Dalam keadaan shalat, kadang-kadang Rasulullah mengerling ke sekeliling dengan sudut matanya. Rasulullah dapat melihat apa yang terjadi di belakangnya seolah-olah terjadi di depannya. Dalam shalat jamaah, kaum laki-laki berdiri berbaris di belakangnya, anak-anak berdiri di belakang mereka, dan perempuan di belakang anak-anak.
Kadang-kadang, akibat kelelahan, Rasulullah memajangkan sujudnya hingga tertidur. Ketika bangun, ia teruskan shalatnya. Meskipun tidur seperti itu membatalkan shalat, tetapi bagi Rasulullah tidak, karena hanya matanya yang tertidur, sementara hatinya tetap terjaga.
Jari-jari tangannya dibiarkan terbuka ketika melakukan takbiratul ihram, rukuk, dan di saat bertasyahud, namun jari-jarinya dirapatkan ketika bersujud, bersebelahan dengan wajahnya. Ia angkat sikutnya tinggi-tinggi sehingga orang dapat melihat ketiaknya yang putih bersih.
Usai shalat, Rasulullah memanjatkan doa-doa pribadinya. Pertama-tama berdoa untuk dirinya, kemudian untuk mereka yang sangat membutuhkan. Ketika berdoa untuk seseorang, doanya tidak hanya ditujukan untuk orang itu, tetapi juga untuk keluarganya, anak-anaknya, dan cucu-cucunya. Dalam doa, Rasulullah membuka tangannya dengan telapak tangan menghadap wajah, dan kadang-kadang ia mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit. Usai berdoa, ia usapkan telapak tangan ke wajahnya.
Sebelum berkhutbah di hari Jumat, Rasulullah menyalami orang-orang yang berada di dekatnya, kemudian naik ke mimbar, menghadap ke jamaah, dan mengucapkan salam kepada mereka. Ketika berkhutbah, Rasulullah bertelekan pada tongkatnya. Kadang-kadang wajah dan matanya memerah, suaranya tinggi dan terdengar seperti sedang marah; seolah-olah sedang mengingatkan adanya bahaya besar yang akan menimpa pasukan, atau seolah-olah sedang memerintahkan pasukan untuk menyerang musuh. Ketika berpidato di depan pasukannya, Rasulullah akan mengatakan, “Malammu telah berganti siang!…” seraya bertelekan pada pedangnya.
Ketika mendapatkan wahyu, Rasulullah menundukkan kepalanya rendah-rendah, seolah-olah menanggung beban berat di lehernya. Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah tampak ringkih dan remuk redam. Dan jika wahyu itu diterimanya ketika menunggang unta maka unta itu akan tampak sangat kelelahan dan tersungkur lemah. Bahkan, di tengah cuaca yang sangat dingin sekalipun, tetes-tetes keringat berjatuhan dari dahinya bagaikan mutiara. Rona wajahnya berubah dan suara aneh seperti dengungan lebah terdengar dari sekitar wajahnya. Saat Rasulullah terserang sakit kepala yang sangat berat, orang-orang memopokkan daun henna (sejenis pohon pacar berbunga wangi) pada kepalanya untuk mengurangi rasa sakitnya.[]
*Imam al-Birgawi adalah cendekiawan dan ahli etika muslim dari periode Turki Usmani, yang hidup pada masa kejayaan Imperium Turki Usmani, pada abad ke-16. Ia menulis buku legendaris yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang: Tarekat Muhammad.
view: 91
| | |
 Selamat bergabung dengan Milis Zaman. Silakan masukan email anda.
|
|