Celah Zaman
Edisi 25 February 2010
Refleksi Maulid (5) - Mencintai dengan Bershalawat
Sumber: Qamaruddin SF
Beberapa tahun silam, almarhum K.H. Ali Maksum—pengasuh Pesantren Krapyak, Jogja—bercerita. Dulu di tanah Jawa ada seorang pemuda mendapat surat dari kekasihnya. Sebelum surat itu dibuka, perangkonya dilepas, lalu ia telan. Ia pun segera membalas surat itu dan menyatakan bahwa perangkonya telah ia telan. Ia menelannya karena yakin bahwa waktu menempelkan perangko itu pasti memakai ludah kekasihnya. Jadi, hitung-hitung menelan ludah kekasihnya walaupun sudah kering.
Tak lama berselang, ia dapat surat balasan. Kekasihnya menyatakan terima kasih atas kemurnian cintanya. Tapi maaf, katanya, yang menempelkan perangko dulu bukan dia sendiri, melainkan tukang becak sebelah rumah yang ia suruh untuk mengeposkan. Karuan saja pemuda itu nyengir kecut. “Itulah ekspresi orang lagi mabuk cinta,” kata Pak Kiai menutup ceritanya.
Di tanah Arab, pecinta Layla disebut Majnun, si gila, karena ia datang ke rumah Layla dan menciumi dinding rumah itu sepuas-puasnya. Terhadap cemoohan itu, Majnun menjawabnya dengan puisi: Aku melewati rumah, rumah Layla Kucium dinding ini, dinding ini Tidaklah cinta rumah yang memenuhi hati Tetapi cinta kepada dia yang tinggal di rumah ini
Ya, cinta, menurut psikolog muslim klasik Ibn Qayyim, ditandai dengan perhatian yang aktif pada orang yang kita cintai dan ada kenikmatan menyebut namanya. Ketika kita menyebut, atau mendengar orang menyebut, nama kekasih kita, hati kita bergetar. Tiada yang lebih menyenangkan hati daripada mengingatnya dan menghadirkan kebaikan-kebaikannya. Jika ini menguat dalam hati, lisan akan memuji dan menyanjungnya. Seperti itulah orang-orang yang mencintai Rasulullah saw.
Segera setelah Nabi wafat, Bilal tidak mau mengumandangkan azan. Akhirnya setelah didesak oleh para sahabat, Bilal mau juga. Tapi, masya Allah, ketika sampai pada kata "Wa asyhadu anna Muhammad ..." ia berhenti. Suaranya tersekat di tenggorokan. Ia menangis keras. Nama "Muhammad", kekasih yang baru saja kembali ke Rabbul Izzati, menggetarkan jantung Bilal. Bilal bukan tidak mau menyebut nama Rasulullah saw. Baginya, Muhammad adalah nama insan yang paling indah. Justru karena cintanya kepada Rasulullah saw. nama beliau sering diingat, disebut, dan dilantunkan.
Berbahagialah orang yang merasa nikmat saat bershalawat. Karena menurut Rasulullah saw., orang yang paling dekat dengan beliau pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat (H.R. al-Turmudzî). Cukuplah kita simak nasihat Ibnu Athaillah ini: Betapa indahnya hidup ini jika engkau isi dengan taat kepada Allah. Yaitu, dengan cara berzikir pada Allah dan sibuk bershalawat atas Rasulullah saw. di setiap waktu disertai oleh kalbu yang ikhlas, jiwa yang bening, niat yang baik, dan perasaan cinta pada Rasulullah saw. “Sesungguhnya Allah beserta para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi saw. Wahai orang beriman, ucapkanlah salawat dan salam atasnya,” (al-Ahzâb [33]: 56).
Ingin Mimpi Bertemu Nabi Saw.
Siang itu, dengan wajah muram seorang murid bersimpuh di hadapan syekhnya. Syekh dengan suara berwibawa bertanya, "Apa gerangan yang merisaukanmu?" "Wahai Syekh, sudah lama saya ingin melihat wajah Rasulullah walau hanya lewat mimpi. Tapi sampai sekarang keinginan itu belum juga terkabul," jelas si murid. "Oo ... rupanya itu yang kauinginkan. Tunggu sebentar ...."
Setelah diam beberapa saat, berkatalah Syekh, "Nanti malam datanglah engkau kemari. Aku mengundangmu makan malam." Sang murid mengangguk kemudian pulang ke rumahnya. Setelah tiba saatnya, pergilah ia ke rumah Syekh untuk memenuhi undangannya. Ia merasa heran melihat syekhnya hanya menghidangkan ikan asin.
"Makan, makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun!" kata Syekh kepada muridnya. Karena tergolong murid taat, ia habiskan seluruh ikan asin yang disuguhkan. Selesai makan ia merasa kehausan. Ia segera meraih segelas air dingin di hadapannya. "Letakkan kembali gelas itu!" perintah Syekh. "Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku!"
Dengan penuh rasa heran, diturutinya perintah syekhnya. Malam itu ia tak bisa tidur. Lehernya serasa tercekik karena kehausan. Ia membolak-balikkan badannya hingga akhirnya tertidur karena kelelahan. Apa yang terjadi? Malam itu ia bermimpi minum air sejuk dari sungai, mata air, dan sumur. Mimpi itu sangat nyata. Seakan benar-benar terjadi padanya. Begitu bangun paginya, ia langsung menghadap Syekh. "Wahai Guru, bukannya melihat Rasulullah, saya malah bermimpi minum air."
Tersenyumlah Syekh mendengar jawaban muridnya. Dengan bijaksana ia berkata, "Begitulah, makan ikan asin membuatmu amat kehausan sehingga kau hanya memimpikan air sepanjang malam. Jika kau merasakan kehausan semacam itu akan Rasulullah, maka kau akan melihat ketampanannya.” Terisaklah si murid. Ia sadar betapa cintanya pada Rasulullah masih sebatas kata. Kerinduan sebatas pengakuan. Kondisi si murid adalah kondisi hati kebanyakan kita, termasuk saya sendiri. Cinta pada dunia menutupi cinta kita pada Nabi. Jujur saja, hati ini tak merasa nikmat saat bersalawat. Apalagi bergetar. Tapi kita tak perlu berkecil hati. Yang kita ulas di atas adalah shalawat pencinta, sementara bagi kita (kite? saya kali!) adalah shalawat pemula. Bagi pemula, Syekh Muzaffer Ozak—penutur cerita sang murid yang ingin bermimpi Rasulullah di atas—berpesan, “Bila kau terus mengulang-ulang shalawat dengan ikhlas hampir pasti akan menjumpai Rasulullah, dan siapa pun yang melihatnya dijamin mendapat syafaatnya.”
Jadi, melantunkan shalawat bagi pemula laksana menanam benih. Mula-mula dalam ucapan, lalu dalam pikiran. Bukankah segala tindakan selalu bermula dari pikiran? Apa yang sedang Anda pikirkan saat ini menciptakan kehidupan masa depan Anda. Anda menciptakan hidup Anda dengan pikiran-pikiran Anda. Apa yang paling Anda pikirkan dan fokuskan adalah apa yang akan muncul dalam hidup Anda. Apa pun yang Anda tanam, itulah yang Anda tuai.
“Kau adalah pikiranmu, saudaraku! Sisanya adalah tulang dan otot. Jika engkau memikirkan bunga mawar, engkau adalah taman mawar. Jika engkau memikirkan duri, engkau adalah kayu bakar,” senandung Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi (2:277–8). Dengan memperbanyak shalawat, kita ingin pikiran kita jadi “taman cinta Rasulullah”. Kita ingin tindakan kita memancarkan keharuman akhlak Sang Teladan Sepanjang Zaman.
Para psikolog pun belakangan membuktikan bahwa karakter manusia dapat diubah secara menyeluruh dengan pengulangan kata-kata tertentu. Dan, hasil yang dicapai melalui kata-kata itu ternyata mengagumkan. RMP (repetitive magic power), istilah mereka. “Segala sesuatu yang Anda pancarkan lewat pikiran, perasaan, citra mental, dan tutur kata Anda, akan didatangkan kembali ke dalam kehidupan Anda,” tegas Ponder, salah seorang pakar law of attraction.
Maka beruntunglah kita hidup di Tanah Air ini yang di dalamnya shalawat selalu menyertai tahap-tahap kehidupan kita: Saat dilahirkan (bahkan sejak dalam usia tujuh bulan dalam kandungan), dikhitan, dinikahkan, lulus ujian, dan ketika meninggal dunia. Itulah cara orangtua kita dahulu menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah di hati kita. Tiada hari tanpa siraman shalawat—agar pohon kerinduan kepada Rasulullah terus tumbuh subur dan menakjubkan orang yang menanamnya.[]
Cinta ditandai dengan perhatian yang aktif pada orang yang kita cintai. Ingatlah saat Anda menggemari idola Anda. Anda mencari tahu setiap hal yang berkaitan dengannya; bahkan Anda ingin menghadirkannya selalu dalam liku-liku hidup Anda. Anda menyimpan posternya, buku-bukunya, artikel-artikel yang ditulis tentangnya. Bahkan, mungkin namanya Anda pakai untuk nama putra atau putri Anda.
view: 145
| | |
 Selamat bergabung dengan Milis Zaman. Silakan masukan email anda.
|
|