Celah Zaman
Edisi 25 February 2010

Refleksi Maulid (4) - Mencintai dengan Meneladani

Sumber: Qamaruddin SF

Alkisah, di negeri Arab ada seorang janda miskin yang mempunyai anak. Karena anaknya menangis kelaparan, janda itu terpaksa harus meninggalkan rumah untuk berkelana mencari uang. Di depan sebuah masjid, ia bertemu seorang muslim dan meminta bantuannya. “Anakku yatim dan kelaparan, aku minta pertolonganmu,” kata janda itu mengiba. “Mana buktinya?” tanya lelaki muslim itu. Janda itu tidak dapat membuktikan karena ia sendiri orang asing di tempat itu. Akhirnya lelaki itu tidak menolongnya.
Setelah itu, janda miskin itu bertemu dengan seorang Majusi. Ia pun meminta bantuannya. Orang Majusi itu mengajak ke rumahnya, memuliakannya, dan memberinya uang dan pakaian.

Pada malam harinya, lelaki muslim yang menolak menolong itu bermimpi berjumpa Rasulullah saw. Semua orang mendatangi Nabi dan beliau menyambut mereka dengan baik. Ketika tiba giliran lelaki itu menghadap Rasulullah, beliau mengusirnya dan menyuruhnya pergi. Lelaki itu berteriak, “Ya Rasulullah, aku ini umatmu yang mencintaimu juga. Rasulullah bertanya, “Mana buktinya?”

Lelaki itu tersadar, Rasulullah saw. menyindirnya karena ia telah meminta bukti saat dimintai pertolongan. Ia menangis. Rasulullah lalu menunjukkan sebuah taman indah dan hunian megah di surga. “Lihat ini,” tutur Rasul saw., “seharusnya semua ini kuberikan untukmu. Tapi karena kau tidak menolong janda dan anak yatim itu, kuberikan semua ini pada seorang Majusi.”

Pagi harinya lelaki itu terbangun. Ia mencari janda miskin itu. Ternyata dia menemukannya sedang berada di rumah seorang Majusi. “Ikutlah kau bersamaku,“ pinta lelaki itu kepada si janda. Tetapi orang Majusi tidak mau menyerahkannya. Aku akan beri kau ribuan dinar asal kaumau menyerahkannya,” pinta si lelaki muslim. Orang Majusi tetap tidak mau. Lelaki itu akhirnya jengkel dan berkata, “Janda ini orang Islam. Seharusnya yang menolongnya sesama muslim juga! “

Orang Majusi itu lalu bercerita, “Tadi malam aku bermimpi bertemu Rasulullah. Dia mengatakan akan memberikan kepadaku surga yang semula akan diberikan kepadamu. Ketahuilah, pagi ini ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikutnya karena aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang pencintanya.”

“Katakan (wahai Muhammad), ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian.’
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Âli ‘Imrân [3]: 31).

Begitulah. Cinta laksana air mengalir yang memindahkan seluruh sifat dan karakter kekasih kepada yang mencintainya. Bukti nyata kita mencintai Rasulullah adalah meneladani akhlaknya dan setia mengikuti sunahnya. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang paling aku cintai dan paling dekat padaku di antara kalian di akhirat kelak adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang paling kubenci dan paling jauh dariku di akhirat adalah orang yang paling buruk akhlaknya, yaitu orang yang banyak bicara, suka ngobrol, dan suka melecehkan orang lain.” (H.R. Ahmad).

Dalam riwayat Anas ibn Malik, Nabi saw. berpesan, “Anakku! Jika kamu mampu pada pagi dan sore hari, dan di hatimu tidak ada kedengkian pada seseorang maka lakukanlah itu.” Lalu Nabi bersabda lagi, “Anakku! Yang demikian itu adalah di antara Sunahku. Siapa saja yang menghidupkan Sunahku maka ia sungguh telah mencintaiku. Siapa saja yang mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga kelak,” (H.R. al-Tirmidzî).

Quran menuturkan, “Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri. Berat baginya apa yang kamu derita, sangat ingin agar kamu mendapat kebahagiaan. Ia sangat pengasih dan penyayang (raûfur rahîm) kepada orang-orang beriman,” (Q. 9: 128). Bagaimana kita dapat ikut merasakan penderitaan orang-orang di sekitar kita? Bagaimana kita menjadi orang yang berusaha agar orang lain hidup bahagia dan memperoleh petunjuk Allah? Bagaimana kita menumbuh¬kan sikap raûfur rahîm di dalam diri kita seperti Rasulullah saw. contohkan kepada kita?
"Bohonglah orang yang mengaku mencintai Allah Swt. tetapi ia tidak mencintai Rasul-Nya; bohonglah orang yang mengaku mencintai Rasul-Nya tetapi ia tidak mencintai kaum fuqara dan masakin; dan bohonglah orang yang mengaku mencintai surga tetapi ia tidak mau menaati Allah swt," tegas Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Dîn.

Bila ia bicara, kata-katanya bagaikan mutiara. Bila ia diam, ia menyimpan kesejukan. Bila berjalan, matanya sangat terjaga. Bila berperilaku, ia laksana Al-Quran berjalan. Ia bagaikan malaikat, memberikan cahaya. Cahaya iman. Jejaknya jadi teladan bagi setiap orang. Bila satu kali namanya disebutkan, beribu doa dan rahmat terlimpah atasnya. Atas wujudnyalah, lahir cinta sejati. Cinta suci yang tak pernah ternodai.


view: 109

Share/Save/Bookmark
  • Celah Zaman Lainnya






Selamat bergabung dengan Milis Zaman. Silakan masukan email anda.







Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact

Copyright © 2008 Penerbit Zaman