Celah Zaman
Edisi 25 February 2010

Refleksi Maulid (3) - Engkau Akan Bersama Orang yang Kaucintai

Sumber: Qamaruddin SF

La yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilaihi min nafsihi...
"Tidak beriman seseorang sehingga aku lebih ia cintai ketimbang dirinya sendiri ..."
—Hadis Nabi

Suatu ketika, Nabi Isa a.s. berdakwah di sebuah kota kecil. Orang-orang meminta beliau menunjukkan mukjizatnya. “Mukjizat apa yang kalian inginkan?” tanya Nabi. Mereka menjawab, “Hidupkan orang yang sudah mati."

Mereka pun pergi ke makam kota dan berhenti di depan sebuah kuburan. Sang Nabi pun berdoa kepada Tuhan agar orang yang sudah mati itu dihidupkan kembali. Orang mati tersebut bangkit dari kuburnya, melihat-lihat sekelilingnya, dan berteriak, “Keledaiku, mana keledaiku?”

Semua yang hadir heran. Nabi Isa menjelaskan, dia dulunya orang miskin. Kekayaan yang sangat dia hargai adalah keledainya. Semasa hidupnya dia disibukkan dengan keledai itu. Beliau berpesan, “Apa pun yang paling kauperhatikan akan menentukan apa yang akan terjadi padamu saat kebangkitan. Di akhirat, kalian akan bersama dengan apa dan siapa pun yang kalian cintai.”

Sobat pembaca, apa kira-kira yang bakal kita teriakkan kelak kala kita dibangkitkan dari kubur? Kita bisa menebaknya sekarang. Mungkin uang, mobil, atau rumah baru. Boleh jadi penyanyi idola kita. Mungkin juga partai atau kursi kekuasaan. Ya, apa pun yang mendominasi hari-hari kita, itulah yang bakal kita damba kelak, baik kita sadari atau tidak. Dalam wacana psikologi mutakhir, begitulah hukum tarik-menarik (law of attraction) terjadi. Segala sesuatu yang kita pikirkan dengan segenap perhatian, energi dan konsentrasi, baik hal positif maupun negatif, akan datang ke dalam kehidupan kita.  Dan, menurut hukum ini pula, sesuatu akan menarik pada dirinya segala hal yang satu sifat dengannya.  Kemiripan menarik kemiripan. Orang baik akan berkumpul dengan orang baik. Orang jahat akan bersatu dengan sesama orang jahat.

Namun, coba jernihkan pikiran kita sejenak. Biarkan hati kita tetirah sesaat dari hiruk-pikuk kesibukan kita. Maka, jauh di relung kesadaran kita tebersit secercah harapan: kelak kita ingin digabungkan dengan kafilah Rasulullah. Meminjam bahasa firman, kita ingin … bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah: para nabi, shiddîqîn, syuhada, dan orang saleh. Dan merekalah sebaik-baiknya teman (al-Nisa’ [4]: 69).

Seorang laki-laki Arab dusun datang menemui Nabi saw. dan bertanya, "Kapan kiamat itu?" Mendapat pertanyaan itu, Rasulullah balik bertanya, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk itu?" Ia menjawab, "Demi Allah, saya tidak mempersiapkan amal yang banyak baik berupa salat atau puasa. Hanya saja saya mencintai Allah dan Rasulnya." Nabi saw. bersabda, "Engkau akan bersama orang yang kaucintai." Kata Anas ibn Malik, "Aku belum pernah melihat kaum muslim berbahagia setelah masuk Islam karena sesuatu seperti bahagianya mereka ketika mendengar sabda Nabi itu, " (H.R. al-Bukhari).
Sebagaimana orang Arab dusun itu, sungguh kita tak mempersiapkan bekal buat hari kiamat nanti. Kecuali kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita ingin Allah menghimpun kita bersama orang-orang yang kita cintai. Tapi, apakah bukti bahwa kita mencintai Rasulullah?

view: 105

Share/Save/Bookmark
  • Celah Zaman Lainnya






Selamat bergabung dengan Milis Zaman. Silakan masukan email anda.







Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact

Copyright © 2008 Penerbit Zaman