Celah Zaman
Edisi 15 Desember 2009
Raja Najasy: kisah hijrah kedua
Sumber: Juman Rofarif
Nizar Abazah adalah seorang sastrawan Damaskus kelahiran 1946. Ia meraih gelar doktor dalam bidang sastra Arab kontemporer dan mendapatkan gelar profesor dalam bidang sejarah Nabi dari Ma‘had al-Fath al-Islami Damaskus. Telah menulis lebih dari empat puluh karya, sebagian di antaranya tentang sejarah Nabi. Salah satu karyanya berjudul Fi Bayt al-Rasul telah diindonesiakan oleh Penerbit Zaman menjadi Bilik-Bilik Cinta Muhammad, Kisah Sehari-Hari Rumah Tangga Nabi.
Kekuatan Nizar adalah pada kemampuannya mengumpulkan penggal-penggal riwayat terserak, kemudian menyatukan dan menceritakannya kembali dalam narasi yang mengalir, seolah itu adalah sebuah kisah yang utuh. Seperti saat Nizar menceritakan rombongan hijrah ke Habsyah yang kedua dalam karyanya yang berjudul Fi Shuhbh al-Rasul …
Nabi kembali menganjurkan hijrah ke Habsyah setelah orang-orang Quraisy kian meningkatkan intimidasi. Pada awal tahun ketujuh kenabian, delapan puluh tiga laki-laki, sebelas perempuan Quraisy, dan tujuh perempuan non-Quraisy pun berangkat di bawah pimpinan Ja‘far ibn Abu Thalib. Seperti pada hijrah pertama, kaum muslim disambut dengan baik oleh Raja Najasy. Dua tahun sebelumnya, tepatnya pada Rajab tahun kelima kenabian, beberapa sahabat, di antaranya Utsman ibn Affan, telah hijrah ke sana. Pada saat itu, Nabi pernah mengatakan, “Pergilah ke Habsyah. Rajanya tak pernah berbuat zalim. Tinggallah di sana agar kalian bebas dari penderitaan seperti yang kalian alami di sini.”
Orang-orang Quraisy murka. Mereka kembali kecolongan. Mereka berkumpul, mencari cara agar kaum muslim bisa dipulangkan ke Makkah. Akhirnya disepakati, orang-orang Quraisy akan berunding dengan Raja Najasy dengan mengutus Abdullah ibn Abi Rabiah dan Amr ibn al-Ash.
Untuk memuluskan perundingan, orang-orang Quraisy membawakan berbagai macam barang berharga untuk raja dan para panglima kerajaan. Setiap panglima akan mendapatkan hadiah khusus.
“Serahkan hadiah-hadiah itu kepada setiap panglima sebelum kalian bertemu Raja,” pesan orang-orang Quraisy itu kepada Abdullah ibn Abi Rabiah dan Amr ibn al-Ash. “Dan, ketika bertemu Raja, serahkan hadiah yang telah disiapkan untuknya. Lalu, mintalah agar Sang Raja mau menyerahkan kaum muslim tanpa ia harus menanyakan persetujuan kaum muslim lebih dulu.”
Abdullah ibn Abi Rabiah dan Amr ibn al-Ash berangkat. Kepada setiap panglima yang ditemui, mereka memberikan hadiah khusus dan mengatakan, “Orang-orang bodoh Makkah datang ke negeri kalian. Mereka meninggalkan agama kaum Makkah, namun tak juga memeluk agama kalian. Dan, justru membawa agama yang menyimpang. Kami tidak paham agama itu. Tentu kalian juga tidak paham.”
“Tujuan kami ke sini adalah untuk memulangkan mereka ke Makkah. Dan, raja tidak perlu meminta pendapat orang-orang bodoh itu lebih dulu. Kami lebih paham tentang mereka.”
Abdullah ibn Abi Rabiah dan Amr ibn al-Ash lalu bertemu dengan raja dan menyampaikan seperti apa yang mereka katakan kepada para panglima. Raja tampak serius mendengarkan mereka, dan marah!
“Tidak! Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian. Setiap orang yang datang ke negeri ini akan mendapatkan perlindungan,” kata raja kepada Abdullah ibn Abi Rabiah dan Amr ibn al-Ash. “Aku akan memanggil salah seorang Muhajirin untuk memastikan kebenaran ucapan kalian. Jika mereka seperti yang kalian ceritakan, aku akan mengembalikan mereka kepada kalian. Jika ternyata tidak, aku akan tetap melindungi mereka.”
“Aku tetap akan menjamin keamanan orang-orang yang datang ke negeriku,” tegas sang raja.
Raja lalu menyuruh salah seorang penggawa untuk memanggil para sahabat Muhajirin. Para sahabat khawatir akan terjadi sesuatu atas pemanggilan itu. Mereka saling tanya, “Apa yang akan kita katakan kepada raja?”
Yang lain menjawab, “Kita akan mengatakan apa yang kita tahu. Kita akan mengatakan apa yang diperintahkan Nabi kita, dengan apa adanya.”
Para sahabat Muhajirin menghadap raja dengan wajah tegang. Hati mereka waswas dan bertanya-tanya. Di samping raja, para pendeta membuka Kitab Suci mereka.
“Agama apa yang kalian peluk sehingga kalian memisahkan diri? Mengapa kalian tidak memeluk agamaku saja? Atau agama yang lain?” tanya raja kepada para sahabat.
Ja‘far ibn Abu Thalib berdiri lalu maju ke depan raja. Dengan artikulasi yang jelas dan mantap, Ja‘far menjawab, “Baginda Raja! Dulu, kami adalah kaum jahiliah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kejahatan, memutus hubungan persaudaraan, tak menghormati tetangga, yang kuat menindas yang lemah …”
“Begitulah kondisi kami sampai kemudian Allah mengutus seorang Nabi yang lahir dari bangsa kami sendiri … “
Ja‘far berbicara cukup panjang, menceritakan Sang Nabi dan ajaran yang dibawanya.
“Dan, sebab semua itu, orang-orang Quraisy menyiksa kami agar meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala. Mereka menekan, menindas, dan menzalimi kami. Sebab itulah kami memisahkan diri dari kaum dan mencari perlindungan di negerimu.”
“Baginda Raja. Di sini, kami berharap tidak akan mendapat perlakuan zalim,” kata Ja‘far menutup pembicaraannya.
Raja Najasy terpukau dengan penjelasan Ja‘far. Raja mengernyitkan dahi seraya berpikir. Ia kemudian memandang para sahabat Muhajirin. Lalu, kembali memandang Ja‘far.
“Apakah kau bisa menunjukkan sesuatu yang Nabi itu terima dari Allah?”
“Ya!”
“Baiklah! Tunjukkan kepadaku dan bacakan!”
Yang dibacakan Ja‘far adalah surah Maryam. Raja Najasy dan para pendeta menyimak dengan saksama. Ayat demi ayat yang dibacakan Ja‘far membuat mereka menangis. Linangan air mata mengalir hingga membasahi jenggot. Seluruh ruangan hening. Raja Najasy menyeka air mata, kemudian berkata, “Agama kalian dan agama yang dibawa Nabi Isa adalah dua pancaran cahaya yang keluar dari lentera yang sama.”
Raja lalu menoleh kepada Abdullah ibn Abi Rabiah dan Amr ibn al-Ash.
“Kalian pulanglah! Sungguh! Aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian. Mereka tidak boleh disakiti oleh siapa pun!”
Abdullah ibn Abi Rabiah dan Amr ibn al-Ash kecewa. Mereka pun berlalu dari hadapan Raja. Malam itu mereka berpikir panjang. Apa yang akan mereka katakan soal kegagalan ini?! Bagaimana jika Muhammad ibn Abdullah mencibir mereka?! Sampai kemudian Amr ibn al-Ash mengusulkan, “Besok aku akan kembali menghadap Raja! Aku akan menyiasati Raja agar mau menghukum mereka! Kita tidak boleh pulang dengan tangan hampa setelah melewati perjalanan melelahkan dan dengan biaya mahal!”
Tapi Abdullah ibn Abi Rabiah mengkhawatirkan rencana Amr ibn al-Ash kecewa itu.
“Sebaiknya kau tidak melakukannya, Amr!” kata Abdullah. “Meski berselisih dengan kita, para Muhajirin itu sebagian adalah kerabat kita!”
Amr bersikeras dengan rencananya. Ia merasa rencananya akan berhasil.
Esok harinya, Amr mendapatkan izin untuk menemui Raja. Dengan penuh keyakinan, Amr menghadap Raja.
“Baginda Raja yang mulia!” kata Amr memulai rekayasa. “Ja‘far dan kawan-kawannya telah mengeluarkan kata-kata keji dan benar-benar tidak pantas untuk Isa ibn Maryam!”
“Apa yang mereka katakan?”
“Kausuruh saja salah seorang penggawa untuk memanggil mereka. Lalu, kautanyakan langsung kepada mereka.”
Para sahabat Muhajirin terkejut dengan pemanggilan itu. Mereka tahu, itu adalah rekayasa Amr. Mereka khawatir jika Raja benar-benar terpengaruh oleh rekayasa itu kemudian berubah pikiran. Mereka benar-benar gentar. Tidak pernah mereka segentar itu.
“Apa yang akan kita katakan kepada Raja soal Isa ibn Maryam? Raja tidak akan menerima perkataan kita,” kata mereka saling tanya.
“Kita akan mengatakan apa yang diceritakan Al-Quran. Dan, apa pun yang akan terjadi nanti, kita harus siap menghadapi,” jawab Ja‘far dengan tegas.
Para sahabat Muhajirin menemui Raja Najasy. Sang Raja langsung melontarkan pertanyaan, “Apa yang kalian tahu tentang Isa ibn Maryam?”
Ja‘far berdiri lalu menjawab dengan tegas, “Kami mengetahui Isa ibn Maryam seperti yang kami terima dari Nabi kami: Isa ibn Maryam adalah hamba Allah, utusan Allah, ruh Allah, dan kalimat Allah yang dititipkan kepada Maryam Sang Perawan Suci.”
Selesai dengan jawaban singkat itu, Ja‘far kembali duduk. Raja merundukkan badan dan memukulkan tangannya ke lantai, lalu memungut tongkat dan mengangkatnya ke atas seraya berkata, “Sungguh, Ja‘far! Jika bukan karena Isa ibn Maryam, pastilah tongkat ini sudah hancur!”
Para panglima yang hadir seketika menundukkan kepala dan saling merapat. Seperti ada penyesalan dalam diri mereka.
“Meski kalian rapuh!” kata Raja, memaki para panglimanya itu.
Raja Najasy kemudian memandangi para sahabat Muhajirin dan berkata, “Keluarlah! Kalian aman!”
“Orang yang mencaci kalian akan menyesal!” lanjut Raja. Ia mengulang-ulang perkataannya itu sampai tiga kali. “Aku tidak akan menyakiti kalian meski mendapat iming-iming gunung emas!”
“Sekarang, kembalikan hadiah-hadiah itu kepada Abdullah ibn Abi Rabiah dan Amr ibn al-Ash! Aku sama sekali tidak butuh semua itu!” kata Raja kepada para penggawa kerajaan.
Abdullah ibn Abi Rabiah dan Amr ibn al-Ash berlalu dari hadapan Raja Najasy dengan wajah kalah, rendah, dan terhinakan. Sementara, para sahabat Muhajirin tetap menikmati tinggal di negeri damai dengan seorang Raja yang baik hati.
Sebuah riwayat menuturkan, saat mendengar berita kematian Raja Najasy yang Nasrani itu, Nabi segera mengumumkannya kepada kaum muslim dan menyeru mereka untuk melaksanakan shalat gaib.
view: 160
| | |
 Selamat bergabung dengan Milis Zaman. Silakan masukan email anda.
|
|