Celah Zaman
Edisi 20 November 2009

Jangan-Jangan

Sumber: Penerbit Zaman

Di antara nikmat Allah yang besar ialah Dia telah menempatkan kita pada suatu negeri dengan kekayaan yang berlimpah. Begitu indahnya negeri ini sehingga bangsa lain menyebut pulau-pulau di Indonesia sebagai “untaian zamrud di Khatulistiwa”. Kemudian, selama puluhan tahun, dengan izin Allah kita hidup makmur. Begitu makmurnya sehingga bangsa lain melihat negeri kita sebagai salah satu “macan Asia yang sedang bangkit.” Kita dicukupi dalam sandang, pangan, dan papan.

Tiba-tiba kemakmuran yang kita bangun dengan susah payah diporakporanda¬kan oleh badai, yang sulit berlalu. Tahun ini, Lebaran singgah ketika kita ditimpa musibah. Lebaran mengunjungi kita ketika semua harus memikul beban krisis moneter yang berkepanjangan. Sebelumnya kita sudah dihantam dengan kemarau panjang, kebakaran hutan, kelaparan, dan berbagai kecelakaan.

Hari ini, Lebaran menjenguk kita ketika dada kita sesak karena harga-harga yang melambung tinggi. Jutaan saudara kita kehilangan pekerjaan. Lebih banyak lagi yang terjerumus ke dalam jurang kemiskinan. Yang masih bekerja dibayang-bayangi ketakutan bakal dirumahkan. Ketika sebagian saudara kita tertawa renyah menukarkan dolar mereka, ratusan juta saudara kita yang lain harus mengurut dada karena sulitnya mencari rupiah. Hari ini, Lebaran datang lewat langit Indonesia yang kelabu.

Ada apa yang terjadi di negeri ini? Mengapa kenikmatan telah berubah menjadi bencana? Mengapa kekayaan anugerah Tuhan musnah begitu saja, sehingga kita menjadi salah satu bangsa termiskin di dunia. Mari kita dengarkan firman Tuhan:

(Siksaan) yang demikian itu terjadi karena sesungguhnya Allah tidak akan meng¬ubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu bangsa sehingga bangsa itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Keadaan bangsa itu sama dengan keadaan Fir‘aun dan pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya. Maka Kami binasakan mereka dengan dosa-dosa mereka dan Kami tenggelamkan Fir‘aun dan para pengikutnya. Semuanya adalah orang-orang yang zalim (Al-Anfal, 7:53-54).

Jangan-jangan musibah yang menimpa kita ini karena seluruh bangsa ini sudah menjadi Ali Fir‘aun, keluarga besar Fir‘aun. Jangan-jangan para pemegang kekuasaan di antara kita sudah menjadi Fir‘aun-Fir‘aun kecil yang menggunakan kekuasaan untuk memeras yang lemah, menindas yang kecil, dan merampas hak orang yang tidak berdaya.

Jangan-jangan orang-orang berduit kita sudah menjadi Qarun yang rakus mengumpulkan dunia dengan tidak peduli halal dan haram. Demi duit, kita tidak ragu¬ragu untuk menghantam, menyakiti bahkan membunuh sesama saudara kita. Kita sudah menjadi binatang-binatang buas. Zamrud Khatulistiwa sudah kita ubah menjadi rimba raya yang menakutkan.

Jangan-jangan para cerdik pandai kita sudah menjadi Haman, yang memper¬sembahkan kecerdasannnya untuk mengabdi kepada kezaliman. Kecerdikan kita perguna¬kan untuk meliciki orang banyak. Kepintaran kita, kita manfaatkan untuk “meminteri” orang-orang bodoh.

Jangan-jangan para ulama kita sudah menjadi Bal‘am bin Ba‘ura. Kita menjual ayat-ayat Allah untuk memenuhi hawa nafsu kita. Kita mengemas ambisi duniawi dengan ritus-ritus kesalehan. Seharusnya kita melangkahkan kaki kita ke gubuk-gubuk orang miskin dan mengetuk pintu mereka untuk memberikan bantuan kita. Tetapi kini, kita mengayunkan langkah ke istana para penguasa, menundukkan kepala kita di hadapan mereka, seraya menggumamkan ayat-ayat Allah untuk membenarkan kezaliman mereka.

Jangan-jangan kita semua sudah tidak peduli lagi dengan perintah-perintah Tuhan. Kita semua sudah menjadi budak¬budak dunia. Di mesjid, kita membesarkan Allah. Di luar mesjid kita menyepelekan Dia. Di mesjid, seluruh anggota badan kita dipergunakan untuk beribadah kepada Tuhan. Di luar mesjid kita menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Tangan¬tangan yang kita angkat dalam doa-doa kita adalah juga tangan-tangan yang bergelimang dosa. Lidah-lidah yang kita getarkan untuk menyebut asma-Nya yang suci adalah juga lidah-lidah yang berlumuran kata-kata kotor. Kepala yang kita rebahkan dalam sujud adalah juga kepala yang kita dongakkan dengan sombong di hadapan hamba-hamba Allah. (JR-SF)



view: 98

Share/Save/Bookmark
  • Celah Zaman Lainnya






Selamat bergabung dengan Milis Zaman. Silakan masukan email anda.







Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact

Copyright © 2008 Penerbit Zaman