katalogpenuliskronikbengkel sahifahkilasan bukuguestbook
 

Celah Zaman


Edisi 6 Oktober 2009

Hidup Sehat dengan Berzakat

Sumber: Aep Saepulloh Darusmanwiati

Beberapa hari yang lalu ketika saya sedang membaca al-Qur’an di mesjid al-Azhar, tiba-tiba datang seorang laki-laki Mesir setengah tua menghampiri. Setelah ngobrol sebentar, laki-laki tua itu mengeluarkan uang sebesar seratus pound dari sakunya dan memberikannya kepada saya. Sebelum saya berkata dan menanyakan uang tersebut, laki-laki itu bertutur-yang dalam bahasa kita kurang lebih berarti: “Dek, tolong ambil uang ini untuk kesembuhan ibu saya yang sedang sakit”. Setelah berkata demikian, laki-laki tua itu segera pergi entah kemana.

Selang setengah jam berikutnya datang lagi seorang ibu-ibu tua berpakaian serba hitam. Tanpa banyak kalam ia juga memberikan uang sebesar lima puluh pound sambil berkata: “Adik, ini zakat saya untuk adik, semoga bermanfaat dan tolong doakan ibu agar sehat dan bisnis ibu lancar”.

Sejenak saya tertegun. Rasa bahagia dan heran menyelimuti pikiran saya. Bahagia karena dalam waktu kurang dari satu jam, saya sudah mendapatkan uang seratus lima puluh pound tanpa harus capek-capek menjual tenaga atau kuli tinta di media massa Indonesia. Heran, karena kata-kata permberi uang tersebut: “uang ini untuk kesembuhan ibu saya yang sedang sakit”, “uang zakat…agar sehat dan bisnis lancar”.

Saya berpikir, apakah ada kaitan antara zakat, infak, sedekah dengan kesembuhan penyakit, kesehatan dan kesuksesan? Bukankah kalau hendak sembuh dari penyakit, ia seharusnya pergi ke dokter atau rumah sakit bukan malah mengeluarkan uang memberi sedekah, infak atau zakat?

Rasa heran tersebut baru terobati ketika saya membuka lembaran hadits dimana Rasulullah saw bersabda: “Obatilah orang-orang sakit dengan sedekah, dan jagalah harta kalian dengan zakat” (HR. Turmudzi). Tapi apa kaitannya antara sedekah dengan kesembuhan dari penyakit?

Marilah kita merenung sejenak. Selama ini boleh jadi kita masih beranggapan bahwa penyakit sembuh semata berkat obat, orang menjadi sukses, semata karena kerja keras. Anggapan ini tentu hemat saya benar, tapi tidak sepenuhnya tepat. Orang sembuh dari penyakit bukan semata karena obat, demikian juga, orang sukses bukan semata karena kerja keras. Obat, kerja dan usaha,  hanyalah di antara bagian penyebab sembuh dan suksesnya seseorang.

Di atas semua itu adalah Allah. Allah-lah yang telah menyembuhkan penyakit dan Allah jugalah yang telah membuat seseorang sukses. Mengapa? Karena kalau betul hanya obat yang dapat menyembuhkan penyakit, mengapa banyak orang yang meminum obat tapi penyakitnya tidak sembuh. Kalau kerja dan usaha semata ukuran kesuksesan, mengapa banyak orang yang kerja dan usaha keras banting tulang, tapi tetap tidak sukses?

Oleh karena itu, yang paling menentukan, bukan semata obat, dan kerja keras, akan tapi yang menjadikan obat tersebut menjadi manjur dan yang telah menjadikan usaha keras tadi menuai hasil, yakni Allah. Persoalannya kini, bagaimana agar Allah senantiasa mengabulkan permohonan dan keinginan kita? Cara satu-satunya adalah dengan melaksanakan amalan-amalan yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarangNya. Dan zakat termasuk salah satu amalan yang diperintahkanNya. Apabila seseorang sudah menunaikan zakat, infak, sedekah dengan sepenuh hati dan penuh keikhlasan, tentu Allah akan suka dan senang. Ketika Allah sudah suka dan senang, tentu Dia akan mengabulkan segala permohonannya yang salah satunya adalah sembuh dari penyakit atau sukses.

Inilah yang diyakini dan pernah dipraktekan oleh Imam al-Ghazali. Imam al-Ghazali pernah mengalami sakit yang sangat kronis sehingga para dokter dan tabib saat itu angkat tangan. Imam Ghazali tetap yakin bahwa yang menyembuhkan dan tidaknya bukan dokter akan tetapi Allah. Oleh karena itu, beliau lalu mengasingkan diri dan mengambil cara untuk kesembuhan penyakitnya dengan jalan membuat Allah senang dan bahagia, yakni dengan beribadah. Hasil usaha dan keyakinannya itu membuahkan hasil; beliau sembuh dari penyakitnya tanpa sentuhan dokter atau obat. Bahkan, hasil dari perenungan dan ibadahnya selama sakit, juga telah menghasilkan sebuah karya maha monumental, Ihya ‘Ulumiddin.

Oleh karenanya, sangatlah masuk akal apabila laki-laki dan ibu-ibu Mesir tersebut mengaitkan sedekah, infak dan zakatnya dengan kesembuhan penyakit dan kesuksesan bisnisnya.

Namun, sehat, sukses, bukan satu-satunya tujuan dan manfaat dari zakat, infak dan sedekah. Masih banyak hal positif lainnya yang akan dihasilkan setelah seseorang berzakat, berinfak dan bersedekah. Perhatikan misalnya sabda Rasulullah saw berikut ini: “Barangsiapa yang bersedekah dengan sebesar apapun dari hasil usaha  yang halal, maka Allah akan menerimanya dari sebelah kanan, serta Allah akan mengembangkan harta kekayaan orang tersebut sebagaimana orang yang menanam di sebuah padang pasir sehigga menjadi sebuah padang yang hijau” (HR. Bukhari Muslim). Allah juga berfirman: “Allah akan menghapuskan riba dan mengembangkan harta yang telah disedekahkan (zakat dan infak)” (QS. Al-Baqarah: 276). “Harta tidak akan pernah berkurang gara-gara sedekah (Zakat dan infak” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain juga disebutkan: “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw: ‘Tunjukkan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan dapat menjauhkan dari neraka’. Rasulullah saw menjawab: ‘Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukanNya, dirikan shalat, keluarkan zakat dan perbanyak silaturahim’ (HR. Bukhari Muslim). “Tidak ada satu haripun berlalu, kecuali dua malaikat akan turun dan salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berilah orang-orang yang berinfak simpanan dan ganti yang lebih baik’. Malaikat yang satu lagi berdoa: ‘Ya Allah, berilah orang-orang kikir kebinasaan dan kehancuran”(HR. Bukhari Muslim).

Terlebih apabila zakat, infak dan sedekahnya itu dilakukan pada bulan Ramadhan, tentu pahala dan manfaatnya akan lebih berlipat. “Rasulullah saw ditanya: “Shadaqah yang bagaimana yang paling baik?” Rasulullah saw menjawab: “Shadaqah yang dilakukan pada bulan Ramadhan” (HR. Turmudzi).

Oleh karena itu, marilah kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan untuk meraih cinta dan sayang Allah dengan jalan berzakat, berinfak dan bersedekah plus demi meraih kesuksesan dunia akhirat sebagaimana yang telah dicontohkan oleh dua orang Mesir di atas. Wallahu ‘alam.



view: 2144

Share/Save/Bookmark

  • Celah Zaman Lainnya












Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact | RSS

Copyright © 2009 - 2014 Penerbit Zaman. All Rights Reserved
Redaksi: Jl. Kemang Timur Raya No. 16. Jakarta 12730. Indonesia
Telp: +6221-7199621 (hunting) Fax +6221-7199623, Email: info@penerbitzaman.com