Celah Zaman
Edisi 21 Agustus 2009

Menghidupkan Malam Ramadhan

Sumber: Penerbit Zaman

Shalat Tarawih

Sejak Nabi hingga kini umat Islam menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat tarawih. Tarawih berasal dari bahasa Arab berarti waktu sesaat untuk istirahat.  Dinamakan demikian, karena para jamaah shalat tarawih beristirahat setiap kali usai empat rakaat. Selain itu, tarawih berarti juga kita beristirahat dari segala aktivitas selain menghadap Allah, mereguk energi ilaihiah, dan bersujud di haribaan-Nya.

Shalat tarawih hukumnya sunnah. Rasulullah Saw. bersabda:

“Siapa saja yang mendirikan shalat di malam Ramadhan penuh dengan keimanan dan harapan maka ia diampuni dosa-dosa yang telah lampau,” (Muttafaq ‘alaihi).

Pada mulanya shalat tarawih dilaksanakan Nabi dengan sebagian sahabat secara berjamaah di masjid Nabawi. Namun, setelah berjalan tiga malam, beliau membiarkan para sahabat melakukannya  secara sendiri-sendiri. Hingga di kemudian hari, ketika Umar bin Khattab r.a. menyaksikan fenomena shalat tarawih yang terpencar-pencar dalam masjid Nabawi, Umar bermaksud menyatukannya. Maka, terbentuklan shalat tarawih berjamaah yang dipimpin Ubay bin Ka’ab. (hadis muttafaq ‘alaihi riwayat Aisyah). Mayoritas ulama pun menetapkan sunnah shalat tarawih secara berjamaah (Syarh Muslim, Nawawi: 6/39).

Waktu Shalat Tarawih

Waktu shalat tarawih adalah antara shalat isya hingga terbit fajar sebagaimana sabda Rasulullah:


“Sesungguhnya Allah telah menambah shalat pada kalian dan dia adalah shalat witir. Maka lakukanlah shalat witir itu antara shalat isya hingga shalat fajar,” (HR. Ahmad).

Jumlah Rakaat Tarawih

Ada perbedaan pendapat ihwal jumlah rakaat tarawih.  Ia berkisar dari 11, 13, 21, 23, 36, hingga 39 rakaat. Setiap pendapat memiliki dalil dan dasar masing-masing. Menurut hadis riwayat Aisyah, Nabi tidak pernah melakukan shalat malam lebih dari 11 rakaat, baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Aisyah menuturkan,



“Baik pada bulan Ramadhan atau bulan lainnya, Rasulullah tidak pernah shalat lebih dari 11 rakaat,”
(HR. Bukhari).

Imam at-Tirmidzi menyatakan bahwa Sayyidina Umar, Ali,  dan sahabat lainnya menjalankan shalat tarawih sejumlah 20 rakaat (selain witir, 23 rakaat dengan witir).



“Orang-orang menegakkan (shalat tarawih) di bulan Ramadhan pada masa ‘Umar bin Khaththab sebanyak 23 rakaat,” (HR. Imam Malik).

Pendapat ini didukung oleh ats-Tsauri, Ibnu Mubarak dan Imam Syafii (Fiqh al-Sunnah:1/195) Dan di masa Umar bin Abdul Aziz kaum muslim shalat tarawih hingga 36 rakaat ditambah Witir tiga rakaat.
Ada komentar menarik dari Ibnu Hajar soal jumlah rakaat ini. Menurutnya, perbedaan itu muncul dikarenakan panjang dan pendeknya rakaat yang didirikan. Jika shalat tarawih itu didirikan dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka jumlah rakaatnya sedikit, dan demikian sebaliknya . Imam Syafii pun berpendapat senada. Baginya, jika shalatnya panjang maka sebaiknya jumlah rakaatnya sedikit. Dan jika shalatnya pendek, jumlah rakaatnya banyak. Namun, beliau tetap lebih menyukai yang pertama.
Imam Syafii juga menyatakan bahwa siapa yang bertarawih 8 rakaat dengan witir 3 rakaat, dia telah mencontoh Nabi Saw. Jika bertarawih 23 rakaat, dia telah mencontoh Umar r.a. Bila menjalankan 39 rakaat atau 41, dia telah mencontoh salaf saleh dari generasi sahabat dan tabiin.

Dengan demikian, tidak ada alasan yang mendasar untuk saling mendebatkan satu sama lain perkara jumlah rakaat shalat tarawih. Yang penting adalah kualitasnya.

Cara Melaksanakan Shalat Tarawih

Aisyah menjelaskan bahwa Nabi Saw. menjalankan shalat malam dengan tiga kali salam, masing-masing terdiri atas 4 rakaat yang sangat panjang, ditambah 4 rakaat yang panjang pula, ditambah 3 rakaat sebagai penutup (HR Bukhari).

Shalat tarawih malam dapat pula dilakukan dua rakaat-dua rakaat dan ditutup satu rakaat. Ibnu Umar r.a. menceritakan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang cara mendirikan shalat malam. Beliau menjawab, “Shalat malam didirikan dua rakaat-dua rakaa,t jika ia khawatir waktu subuh akan tiba maka hendaknya menutup dengan satu rakaat,” (Mutaffaq ‘alaihi). Atas dasar ini, Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa Nabi Saw. terkadang melakukan witir (menutup shalatnya) dengan satu rakaat dan terkadang menutupnya dengan tiga rakaat.

Keutamaan Shalat Tarawih

Ali ibn Abi Thalib menuturkan: Ketika ditanya tentang keutamaan tarawih dan pahala mengerjakannya, Nabi kita Muhammad saw. bersabda:
Lihatlah perjuangan orang-orang yang melaksanakan salat tarawih! Ali ibn Abi Thalib menuturkan: Ketika ditanya tentang keutamaan tarawih dan pahala mengerjakannya, Nabi kita Muhammad saw. bersabda:
Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam pertama, dia menjadi sangat suci seperti ketika dilahirkan ibunya. Tak ada bekas dosa yang tertinggal. Kecuali jika menyangkut hak manusia dan hewan. Apa yang menjadi hak mereka haruslah benar-benar ditunaikan.
Jika engkau mendirikan salat tarawih pada malam kedua, Allah akan mengampuni kedua orangtuamu jika mereka wafat dalam keimanan.

Jika engkau melaksanakan salat tarawih pada malam ketiga, malaikat akan berseru dari bawah ‘Arasy: “Amalmu suci.” Yakni, dia memberi kabar gembira bahwa salat itu telah diterima oleh Allah, dan bahwa dosa-dosamu di masa lalu telah diampuni.

Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam keempat, ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah membaca Alquran, Injil, Taurat, Zabur dan kitab-kitab suci lainnya.
Bagi yang melaksanakan salat tarawih pada malam kelima diberikan pahala orang yang melaksanakan salat di Ka‘bah, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsha.

Bagi orang yang melaksanakan salat tarawih pada malam keenam, pahalanya sebesar pahala bertawaf, dan batu-batu dan pepohonan memohonkan ampun untuk orang itu.

Jika engkau melaksanakan salat tarawih pada malam ketujuh, engkau diberi pahala seakan-akan engkau telah membantu Nabi Musa a.s. dalam perjuangannya melawan Firaun dan Haman.
Pahala mengerjakan salat tarawih pada malam kedelapan adalah pahala yang diberikan kepada Ibrahim, kekasih Allah, yakni dimahkotai Mahkota Kedekatan dengan Allah.

Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam kesembilan menjadi kekasih Allah. Allah mencintai hamba itu.

Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam kesepuluh akan dikaruniai rezeki yang baik, di dunia ini dan di akhirat.

Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam kesebelas akan bertemu dengan Tuhannya pada hari kematiannya dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya.

Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam keduabelas akan datang ke Tempat Kebangkitan sebagai orang yang berbahagia dan beruntung, secerah sinar bulan purnama.

Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam ketigabelas akan dibebaskan dari rasa takut terhadap Padang Mahsyar.

Semua malaikat menyaksikan orang yang melaksanakan salat tarawih pada malam keempat belas. Orang itu akan dibebaskan dari hisab pada hari kiamat.

Para malaikat yang mengemban ‘Arasy dan Kursi mendoakan orang yang melaksanakan salat tarawih pada malam kelima belas.

Orang beriman yang beruntung yang melaksanakan salat tarawih pada malam keenam belas menerima sebuah catatan yang memberinya kebebasan dari api neraka dan hak untuk masuk surga.
Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam ketujuh belas akan menerima pahala yang diberikan kepada para nabi a.s.

Pahala berikut ini dijanjikan kepada orang yang melaksanakan salat tarawih pada malam kedelapan belas: kepadanya malaikat akan menyampaikan kabar gembira: “Hai hamba Allah, hamba yang dicintai Allah, Allah rida kepada dirimu, ibumu, dan ayahmu!”

Kepada orang yang melaksanakan salat tarawih pada malam kesembilan belas, tingkatan tertinggi surga akan diberikan.

Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam kedua puluh akan dikaruniai derajat para pejuang dan orang-orang saleh.

Sebuah serambi dari cahaya akan disediakan dan diberikan kepada orang yang melaksanakan salat tarawih pada malam kedua puluh satu.

Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam kedua puluh dua akan datang ke Tempat Kebangkitan dengan terbebas dari rasa sedih dan kalut.

Bagi orang yang melaksanakan salat tarawih pada malam kedua puluh tiga, sebuah kota akan dibangun di surga dan dinamai dengan nama orang itu.

Barang siapa menghadiri keberkahan melaksanakan salat tarawih pada malam kedua puluh empat, maka dua puluh lima doanya akan dikabulkan.

Azab kubur akan dibebaskan dari orang beriman yang melaksanakan salat tarawih pada malam kedua puluh lima. Dia tidak akan merasakan azab itu.

Pencinta yang melaksanakan salat tarawih pada malam kedua puluh enam akan mendapatkan pahala sebesar pahala empat puluh tahun beribadah.

Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam kedua puluh tujuh akan mendapatkan pahala seperti pahala beribadah selama delapan puluh tahun lebih. Sebab malam ini adalah Malam Kemuliaan. Barang siapa melaksanakan salat tarawih pada malam ini akan menyeberangi shirât al-mustaqîm secepat kilat dan akan tiba di surga.

Barang siapa menghidupkan malam kedua puluh delapan dengan melaksanakan salat tarawih akan dikaruniai seribu tingkat pada surga tertinggi.

Barang siapa mencapai keberkahan melaksanakan salat tarawih pada malam kedua puluh sembilan akan mendapatkan pahala melaksanakan ibadah haji sebanyak seribu kali, setiap ibadah hajinya itu diterima.
Orang beriman yang melaksanakan salat tarawih pada malam ketiga puluh akan disapa oleh Allah dengan kata-kata berikut ini: “Hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. Makanlah buah-buahan di surga. Mandilah di Sungai Salsabil, minumlah dari air Sungai Kawtsar. Akulah Tuhanmu dan engkau adalah hamba-Ku.”

Demikianlah karunia Allah yang akan dicapai oleh para hamba-Nya yang menghidupkan malam Ramadan dengan shalat.[]


view: 189

Share/Save/Bookmark
  • Celah Zaman Lainnya






Selamat bergabung dengan Milis Zaman. Silakan masukan email anda.







Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact

Copyright © 2008 Penerbit Zaman