Ngaji Al-Hikam

NGAJI AL-HIKAM Bersama Syekh Muhammad al-Ghazali

Pembaca Zaman yang budiman! Dengan senang hati dan penuh syukur, kami akan mengajak Anda ngaji bersama hikmah-hikmah menggetarkan dari seorang syekh besar abad ke-8 H (Ibn 'Atha'illah al-Sakandari w. 1309) yang diulas oleh seorang ulama kontemporer kenamaan (Syekh Muhammad al-Ghazali (1917 - 1996). Muhammad al-Ghazali adalah ulama Mesir kontemporer yang sangat rajin menulis buku tentang fikih, dakwah, hadis, dan tema-tema keislaman lain—banyak di antaranya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam produktivitas menulis, mantan aktivis al-Ikhwan al-Muslimun ini barangkali hanya terlampaui oleh Yusuf al-Qaradhawi (ulama Mesir yang kini mukim di Qatar) yang juga memiliki kedekatan personal dengannya dan bahkan pernah sama-sama mendekam di penjara Thur. Keduanya juga memang sudah cukup familiar di Indonesia.

Muhammad al-Ghazali adalah seorang pembaharu yang memiliki ruh tradisional dan pembela prinsip-prinsip Islam. Salah satu pokok pikirannya adalah bahwa umat Islam sekarang harus meningkatkan dan menyeimbangkan kesalehan ritual, kesalehan spiritual, sekaligus kesalehan sosial; harus secara simultan membawakan iman, islam, serta ihsan.
Secara umum, butir-butir hikmah Ibn 'Atha'illah ingin (1) menyentak kesadaran insan selaku hamba Tuhan, (2) mengajarkan bagaimana bersikap sopan di hadapan-Nya, dan (3) resep-resep hidup sukses terlimpahi rida-Nya. Mengapa kita harus sadar diri sebagai abdi Allah? Bukankah kita telah cukup tahu bahwa kita adalah manusia? Beda. Selama kita belum benar-benar sadar bahwa kita adalah hamba-Nya, kita akan tetap mengagungkan "ego" kita --dan selama ego belum meruntuh, jiwa kita tak kan mengutuh, begitu tutur Muhammad Iqbal. Kesadaran sebagai hamba-Nya meniscayakan kepasrahan, ketundukan, dan kepatuhan sepenuhnya kepada-Nya. Ini beda dengan kesadaran kita sebagai manusia yang memiliki segenap kemampuan. Selamat menikmati.




Introspeksi Diri



Bila engkau sakit hati karena orang-orang tidak menerimamu, ataupun mencelamu, maka kem¬balikanlah kepada ilmu Allah tentang dirimu. Jika engkau belum puas dengan ilmu-Nya, maka musibah yang menimpamu karena tidak puas dengan ilmu-Nya, lebih besar dari musibah yang menimpamu karena celaan orang-orang
Selengkapnya


Hakikat Ubudiah



Jika engkau berkeyakinan bahwa engkau sam¬pai kepada-Nya hanya setelah lenyapnya semua keburukanmu dan sirnanya semua hasratmu, maka engkau selamanya tidak akan sampai kepada-Nya. Akan tetapi, jika Dia menghendakimu sampai kepada-Nya, Dia akan menutupi sifatmu dengan sifat-Nya, watakmu dengan watak-Nya. Dia membuatmu sampai kepada-Nya dengan kebaikan yang diberikan-Nya kepadamu, bukan dengan kebaikan yang kamu berikan kepada-Nya. Kalau bukan karena kebaikan-Nya, tidak ada amal yang berhak diterima

Selengkapnya


Percayakan kepada Tuhan!



Pinta tak akan tertolak selama engkau memohon kepada Tuhan. Namun, pinta tak akan terkabulkan selama engkau mengandalkan dirimu sendiri.

Ketika kaum muslim bertempur dalam Perang Ba¬dar, mereka sadar bahwa perang adalah kewajiban sekalipun peralatan dan persenjataan perang mereka sangatlah tidak memadai. Kepercayaan mereka kepada Allah menjadi amat ting¬gi, dan keyakinan mereka akan pertolongan-Nya amat besar.
Selengkapnya

1

  • Ngaji Al-Hikam Lainnya






Selamat bergabung dengan Milis Zaman. Silakan masukan email anda.






Home | About Us | Buku Baru | Buku Laris | Segera Terbit | Katalog | Kabar Terkini | Celah Zaman | Contact

Copyright © 2008 Penerbit Zaman