Celah Zaman
  • Elan Pembebasan Ibadah Kurban

    Berkurban (Qurban), yang secara harfiah bermakna “mendekatkan”, dimaksudkan sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mendekatkan diri kepada sesama manusia. Maka, perintah berkurban di hari raya Idul Adha disimbolkan dengan penyembelihan binatang ternak dan kemudian dibagi-bagikan kepada mereka yang membutuhkan. Bila puasa mengajak kita merasakan lapar seperti orang-orang miskin, ibadah kurban mengajak mereka untuk merasakan kenyang seperti kita.
    Lebih jauh, ritus-ritus Hari Raya Kurban jelas memiliki efek pembebasan; yaitu pembebasan yang bersifat interior (di dalam kesadaran) kepada pembebasan pada tingkat eksterior (kehidupan masyaraka...

  • Kala Menjadi Tamu Allah

    Ketika seorang laki-laki datang berpamitan, Syekh al-Syibli bertanya kepadanya, “Ke mana kau hendak pergi?”
    “Ke Baitulllah untuk berhaji.”
    “Bawalah dua kantong besar bersamamu. Isilah keduanya dengan rahmat yang ada di sana, kemudian bawa kembali keduanya kepadaku. Dengan begitu, aku akan dapat bagian darinya untuk diberikan kepada kawan-kawan dan disajikan kepada tamu-tamuku.”
    Orang itu pun berpamitan dan pergi berhaji. Sepulangnya dari Makkah, ia kembali mengunjungi Syekh al-Syibli.
    “Apakah kau sudah melaksanakan ibadah haji?”
    “Ya.”

  • Berlari Menuju Allah

    Dalam hubungannya dengan Tuhan, ada tiga macam “berlari”.
    Pertama, berlari menuju Allah—inilah pelarian orang-orang beruntung;  
    kedua, berlari dari Allah—inilah pelarian orang-orang celaka; ketiga, berlari dari Allah menuju Allah—inilah pelarian para pencinta Tuhan. 

  • "Sungguh, Hari Itu Kamu Akan Ditanya"

    Hafs, kawan dekat ‘Umar ibn Khattâb semasa menjabat khalifah, selalu menolak makan bersamanya. Ia mengkritik makanan Khalifah yang terlalu sederhana. Ia mengatakan bahwa makanan keluarganya lebih baik daripada makanan ‘Umar. ‘Umar berkata, "Kalau aku mau, aku dapat menikmati makanan terbaik dan pakaian terindah. Tetapi aku sisakan sesenanganku untuk hari akhir. Astabqî thayyibatî." (Tafsîr al-Durr al-Mantsûr 7: 446¬–447, Hayât al-Shahâbah 2: 367).

  • Menikmati Ibadah

    Menyenangkan dan menenangkan. Begitulah seharusnya kala kita beribadah. Tapi kenapa kita justru merasakan hal sebaliknya—enggan dan terbebani?
    Salat hanya tinggal gerak badan tanpa getaran hati. Masjid berubah dari tempat beribadah menjadi saluran pengerahan massa (dan dana). Ibadah haji dan umrah menjadi salah satu di antara sejumlah wisata. Baitullah hanya tampak sebagai seonggok batu dari zaman purba; tidak berbeda dengan Tembok Cina atau Menara Pisa.