Celah Zaman

Kisah Sepasang Merpati

Sumber: Juman Rofarif

Sepasang merpati mengumpulkan tangkai tangkai dan biji biji gandum, lalu menyimpannya di sarang mereka.

“Selama masih ada makanan lain yang bisa kita makan di luar sana, di gurun gurun,” kata merpati jantan, “kita berjanji tidak
akan memakan gandum gandum ini, sebutir pun.”

“Kita memakan gandum gandum ini hanya saat musim dingin tiba, itu pun jika kita tak bisa menemukan makanan lain
di luar sana, di gurun gurun.”

Merpati betina setuju. “Pendapatmu bagus sekali,” katanya.

Merpati jantan pun bertolak. Terbang hingga menghilang di kejauhan.

Sampai kemudian musim kemarau tiba. Membuat biji biji gandum kering dan mengerut. Saat merpati jantan kembali, ia
mendapati simpanan biji biji gandum berkurang.

“Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak memakan biji biji gandum ini?!” kata merpati jantan. “Kenapa kau memakannya?!”

Merpati betina mengelak dan bersumpah bahwa ia tidak memakannya. Ia meminta maaf untuk apa yang terjadi. Namun, merpati
jantan menampik permintaan maaf itu. Ia mematuki betinanya tersebut sampai si betina mati.

Waktu terus berlalu.

Hujan turun. Musim dingin tiba. Air memasuki sarang dan merendam biji biji gandum. Penyesalan mendalam merasuki benak
saat merpati jantan menyaksikan keadaan itu. Ia mendekati bangkai si betina dan berbaring di sisinya.

“Tak ada guna lagi semua biji biji gandum itu. Tak ada guna lagi kehidupan setelah kematianmu. Tak mungkin lagi aku ada dalam ketiadaanmu.
Tak ada guna semua itu saat aku membutuhkanmu, namun ternyata kau telah tiada.”

“Aku terkenang semua tentang dirimu. Sungguh aku telah salah. Telah memperlakukanmu secara tidak adil.
Aku tak kuasa memperbaiki semua yang telah terjadi ini.”

Merpati jantan melalui hari demi hari dengan menanggung beban kesedihan. Tak makan, tak minum. Sampai ia mati di sisi betinanya.

Jangan tergesa gesa menjatuhkan hukuman—apalagi—atas seseorang yang akan membuatmu menyesali dirimu sendiri.

view: