Celah Zaman

Samudra Dunya

Sumber: Yasmin Mogahed*

Kehidupan duniawi, atau dunya, seperti samudra. Hati kita adalah kapal kapalnya. Kita dapat menggunakan laut untuk kebutuhan kita dan sebagai sarana untuk mencapai tujuan kita. Hanya itulah makna laut: sebuah sarana; sarana untuk mencari makanan dari laut; sarana untuk bepergian; sarana mencari tujuan yang lebih luhur. Ia adalah sesuatu yang kita lewati, tidak terpikirkan untuk kita tinggali. Apa jadinya jika samudra menjadi tujuan akhir kita—alih alih dari sekadar sarana. 

Pada akhirnya, kita akan tenggelam.
Selama air laut tetap berada di luar kapal, kapal akan terus mengapung dan berada dalam kendali. Tapi, apa yang terjadi setelah air masuk ke kapal? Apa yang terjadi ketika dunya bukan sekadar air di luar hati kita? Ketika dunya bukan lagi sekadar sarana? Apa yang terjadi ketika dunya merasuki hati kita? 
Pada saat itulah kapal tenggelam. 

Pada saat itulah hati kita tersandera dan menjadi budak. Dan, pada saat itulah dunya—yang tadinya berada dalam kendali kita—mulai mengendalikan kita. Ketika air laut masuk dan melanda kapal, kapal tak lagi bisa kita kendalikan. Kapal sekarang berada dalam belas kasihan samudra.

Agar tetap mengapung, kita harus melihat dunia ini dalam cara yang sama persis karena Allah telah berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda tanda bagi orang orang yang berakal.” (Ali Imran [3]: 190). Kita hidup di dunya, dan dunya ini sebenarnya diciptakan agar kita pergunakan. Pemisahan dari dunya (Zuhud) bukan berarti bahwa kita tidak bisa berinteraksi dengan dunia ini. Sebagai gantinya, sebagaimana dalam riwayat Anas ini: Tiga orang laki laki datang ke rumah istri istri Rasulullah. Mereka menanyakan ibadah Rasulullah. Ketika mereka diberi tahu, mereka merasa betapa sedikit ibadah yang telah mereka kerjakan. Mereka berkata, betapa jauh ibadah kita dibandingkan dengan ibadah Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa beliau yang telah berlalu dan yang akan datang. Salah seorang dari mereka berkata, “Saya akan mengerjakan shalat sepanjang malam seumur hidup.” Satunya lagi berkata, “Saya akan berpuasa setiap hari seumur hidup.” Satunya lagi berkata, “Saya akan menghindari perempuan dan tidak akan menikah selamanya.” Maka Rasulullah datang, kemudian beliau bertanya, “Kalian membicarakan hal itu? Demi Allah, akulah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada Nya di antara kalian. Tetapi, aku kadang kadang berpuasa (sunnah) kadang kadang tidak. Aku mengerjakan shalat malam, tapi aku juga tidur. Aku juga menikah. Siapa yang membenci sunnahku maka ia tidak termasuk golonganku.” (Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah tidak menarik diri dari dunya agar bisa terpisah darinya. Pemisahannya jauh lebih dalam. Itu adalah pemisahan hati. Keterikatan utama beliau adalah kepada Allah dan rumah bersama Nya, karena beliau sungguh sungguh memahami firman Tuhan: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al ‘Ankabut [29]: 64).

Pemisahan diri bukan berarti kita tidak boleh memiliki benda benda duniawi. Bahkan, sebagian besar sahabat Rasulullah kaya raya. Sebagai gantinya, pemisahan berarti memandang dan berinteraksi dengan dunya dalam arti yang sebenarnya: sekadar suatu sarana. Pemisahan adalah saat kita menyimpan dunya di tangan kita—bukan di hati kita. Seperti yang dinyatakan oleh Ali dengan indah: “Zuhud bukan berarti kamu tidak boleh memiliki sesuatu, melainkan tidak ada sesuatu pun yang boleh memilikimu.” 
Seperti air laut yang memasuki kapal, saat kita biarkan dunya memasuki hati kita, kita akan tenggelam. Air laut tidak boleh memasuki kapal; air laut dimaksudkan hanya sebagai sarana yang harus tetap berada di luar kapal. Dunya, juga, tidak pernah dimaksudkan untuk memasuki hati kita. Itu hanyalah sarana yang tidak boleh merasuki atau mengendalikan kita. Inilah sebabnya Allah berulang ulang merujuk dunya dalam Al Quran sebagai mata’a. Kata mata’a bisa diterjemahkan sebagai suatu “sarana bagi kesenangan duniawi yang sementara”. Dunya adalah sarana, alat. Ia jalan—bukan tujuan.

Itu konsep serupa yang digambarkan Rasulullah dengan begitu fasih. Beliau bersabda, “Hubungan apakah yang kumiliki dengan dunia ini? Aku di dunia ini seperti pengembara yang berhenti sejenak di bawah pohon rindang; setelah beristirahat, kembali melanjutkan perjalanan dan meninggalkan pohon tersebut.” (HR Ahmad, HR Tirmidzi). 

Perhatikan sejenak metafora pengembara itu. Apa yang terjadi ketika Anda bepergian dan mengetahui bahwa masa tinggal Anda hanya sementara? Ketika Anda tinggal di sebuah kota hanya untuk satu malam, seberapa melekatnya Anda jadinya dengan tempat itu? Jika Anda mengetahui masa tinggal Anda hanya sementara, Anda akan bersedia untuk tinggal di Motel 6. Bersediakah Anda hidup di sana? Kemungkinan tidak. Katakanlah atasan Anda mengirim Anda ke sebuah kota baru untuk bekerja dalam proyek yang terbatas. Katakanlah dia tidak memberi tahu secara pasti kapan proyeknya akan berakhir, tetapi Anda tahu bahwa Anda bisa kembali ke rumah, kapan saja. Bagaimana Anda akan berada di kota itu? Akankah Anda berinvestasi dalam sejumlah besar properti dan menghabiskan semua tabungan Anda untuk membeli perabotan dan mobil mahal? Kemungkinan besar tidak. Bahkan saat berbelanja, akankah Anda membeli sekeranjang penuh makanan dan benda yang tak tahan lama lainnya? Tidak. Barangkali Anda akan ragu ragu untuk membeli lebih dari yang Anda butuhkan selama beberapa hari ke depan—karena atasan Anda bisa memanggil kembali kapan saja.

Ini adalah cara berpikir pengembara. Ada pemisahan alami yang datang dengan kesadaran bahwa sesuatu hanya bersifat sementara. Inilah yang dimaksudkan Rasulullah dengan kebijak sanaannya dalam hadis yang mendalam ini. Beliau memahami betapa bahayanya tenggelam dalam kehidupan ini. Bahkan, itulah yang paling beliau khawatirkan dari kita umatnya.

Rasulullah bersabda, “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas dirimu, tetapi aku khawatir kalau ter¬hampar luas dunia ini bagimu, sebagaimana telah terhampar untuk orang orang yang sebelum kamu, kemudian kamu ber¬lomba lomba sebagaimana mereka berlomba lomba, sehingga membinasakan kamu sebagaimana telah membinasakan mereka.” (Muttafaq ‘alaih). 
Rasulullah mengenali hakikat sejati kehidupan ini. Beliau memahami apa artinya berada di dalam dunya, tanpa menjadi bagian darinya. Beliau mengarungi laut yang sama yang harus kita arungi. Tapi, kapalnya tahu persis dari mana ia berasal dan ke mana ia akan menuju. Kapal beliau adalah kapal yang tetap kering. Rasulullah mengerti bahwa samudra yang sama yang berkilau di bawah sinar matahari akan menjadi kuburan bagi kapal kapal yang tenggelam ke dalamnya.

*Penulis Reclaim Your Heart



view: