Celah Zaman

Isi Suhuf Ibrahim dan Musa

Sumber: Qamarudin SF

Setiap Jumat,setelah Al Fatihah seorang imam dianjurkan membaca Surah al A‘la. Diaawali Sabbihisma rabbikal a‘ladandiakhiriShuhufi Ibrahima wa Musa (Lembar lembarKitab Ibrahim dan Musa). Penasaran apa isi dua suhuf yang disebut sebut itu?

Abu Dzarr pernahbertanya kepada Nabi saw, “Apa saja isi kandungan suhuf Ibrahim itu,Rasulullah?” Beliau menjawab, “Semua isinya adalah perumpamaan perumpamaan (amtsâl).Di antaranya, ‘Wahai raja yang berkuasa, yang diuji, dan yang tertipu! Akutidak mengutusmu untuk menumpuk harta kekayaan, tapi untuk memenuhi permohonanorang yang terzalimi. Sebab, Aku takkan menolak permohonannya, meskipun iakafir. Orang berakal, selama tidak dikuasai oleh akalnya, harus bisa membagiwaktunya; waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, waktu untuk introspeksi diri,waktu untuk merenungkan ciptaan ciptaan Tuhan, dan waktu untuk bekerja mencarimakan dan minum. Orang berakal hendaknya tidak bepergian kecuali dengan tigatujuan; pergi untuk mencari bekal menuju akhirat, pergi untuk mencari bekalhidup di dunia, dan pergi untuk menikmati sesuatu yang tidak haram. Orangberakal hendaknya jeli melihat perkembangan zaman dan siap mengarunginya, sertasenantiasa menjaga lisan. Barangsiapa menganggap perkataan sebagai bagian dariamal, tentu hanya akan sedikit berbicara kecuali yang bermanfaat.”

Abu Dzarr bertanya lagi, “Lalu, apa isi kandungan suhuf Musa, Rasulullah?”Beliau menjawab, “Semua isinya adalah ungkapan ungkapan penuh kebijaksanaan.Aku heran dengan orang yang percaya neraka, tapi dia masih bisa banyak tertawa.Aku heran dengan orang yang percaya kematian, tapi dia hanya santai danbergembira. Aku heran dengan orang yang percaya takdir, tapi dia berjudimengundi nasibnya. Aku heran dengan orang yang percaya adanya perhitungan amal,tapi dia enggan beramal (kebaikan).”

Abu Dzarr berkata, “Berilah aku wasiat, Rasulullah.” Beliau bersabda, “Akuwasiatkan kepadamu untuk senantiasa bertakwa kepada Allah karena takwa adalahpokok segala urusan.” “Tambahkanlah,” pinta Abu Dzarr. Beliau bersabda,“Bacalah Al Quran dan zikirlah kepada Allah. Itu akan menjadi cahaya di duniadan simpanan di langit untukmu.” “Tambahkanlah, Rasulullah,” kata Abu Dzarrmemohon. Beliau bersabda, “Hindarilah banyak tertawa karena itu bisa mematikanhati dan memudarkan sinar di wajah.” Abu Dzarr masih meminta, “Tambahkanlah.”“Berjihadlah karena jihad adalah kerahiban umatku,” tambah Rasulullah. AbuDzarr berkata, “Tambahkanlah.” Beliau bersabda, “Cintailah kaum miskin danpergauilah mereka.” “Tambahkanlah.” “Lihatlah pada orang yang berada dibawahmu, jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu.” “Tambahkanlah,Rasulullah.” “Katakanlah yang benar, meski pahit.” “Tambahkanlah, Rasulullah.”“Cukuplah keburukan seseorang ketika dia tidak mengetahui dirinya sendiri dansuka melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya.” Rasulullah lalu menepukdada Abu Dzarr dan bersabda, “Tidak ada akal seperti adanya perencanaan, tidakada wara’ seperti menahan diri, dan tidak ada kemuliaan seperti baiknyabudi pekerti."1

1. Al Suyûthî, al Durr al Mantsûr (VI/341), Ibnu Asâkir, TahdzîbTârîkh Dimasyq (VI/357).

view: