Celah Zaman

Wasiat Khidir kepada Musa a.s.

Sumber: Qamarudin SF

Diriwayatkan dari Umar ibn Khattab bahwa Rasulullah bersabda, “Saudaraku Nabi Musa berkata, ‘Ya Tuhan, perlihatkanlah kepadaku apa yang pernah Engkau perlihatkan kepadaku ketika berada di atas perahu.’ Allah kemudian mengirimkan wahyu, ‘Engkau akan melihatnya, Musa.’ Tak lama berselang, Khidhir datang menemuinya dengan bau wangi semerbak dan pakaian serba putih yang indah, lalu berkata, ‘Salam keselamatan untukmu, wahai Musa putra Imran. Tuhanmu menitipkan salam dan rahmat Nya kepadamu.’ Musa menjawab, ‘Dia lah keselamatan, kepada Nya semua keselamatan kembali, dan darinya semua keselamatan. Segala puji milik Allah, Tuhan seluruh alam, yang nikmat Nya takkan bisa aku hitung dan takkan bisa aku syukuri kecuali dengan pertolongan Nya.’ Musa melanjutkan, ‘Berilah aku wasiat yang bisa bermanfaat untukku sepeninggalmu.’

“Khidhir mulai berwasiat, ‘Wahai penuntut ilmu. Orang berbicara itu lebih sedikit rasa bosannya daripada orang yang mendengarkan. Jadi, jangan membuat para pendengarmu bosan ketika engkau menyampaikan sesuatu kepada mereka. Ketahuilah, hatimu itu ibarat wadah; perhatikanlah apa yang akan engkau isikan ke dalamnya. Kenalilah dunia dan letakkanlah ia di belakangmu. Ia bukan tempat tinggalmu, bukan pula tempat menetapmu selamanya. Ia diciptakan hanya sebagai tempat mencari bekal akhirat bagi para hamba.

“Wahai Musa. Tuntunlah dirimu di jalan kesabaran, engkau pasti akan mendapat kelembutan. Lekatkanlah ketakwaan pada hatimu, engkau pasti akan mendapat ilmu pengetahuan. Biasakanlah dirimu bersabar menghadapi dosa (keburukan).

“Wahai Musa. Kejarlah ilmu bila engkau menginginkannya. Sebab, ilmu hanya dimiliki oleh orang yang mau mengejarnya. Jangan suka mengagumi diri sendiri dan berlebihan dalam berbicara. Sungguh, banyak berbicara itu merendahkan ulama dan dapat membeberkan rahasia. Sedikitkanlah berbicara karena itu adalah bagian dari taufik dan kebenaran. Berpalinglah dari orang bodoh (jâhil) dan santunlah terhadap orang dungu (safîh) karena itu adalah keutamaan orang bijak dan perhiasan ulama. Bila engkau dicaci orang bodoh, diamkanlah demi keselamatan dan jauhilah dirinya. Sebab, kebodohannya bisa membuatmu celaka dan makiannya bisa semakin lebih besar dan banyak. 

“Wahai putra Imran. Sadarlah bahwa ilmu yang diberikan kepadamu itu hanya sedikit. Sebab, penyimpangan dan kesembronoan disebabkan oleh sikap memaksakan diri. Wahai putra Imran. Jangan membuka pintu sebelum engkau tahu cara menutupnya, jangan pula menutup pintu sebelum engkau tahu cara membukanya. Wahai putra Imran. Bagaimana mungkin orang yang cinta dunia dan selalu haus dengannya, bisa menjadi seorang ahli ibadah?! Bagaimana mungkin orang yang belum ridha akan nasibnya dan selalu berburuk sangka terhadap takdir Tuhan, bisa menjadi orang zuhud?! Mampukah orang yang dikuasai hawa nafsunya menahan nafsu syahwatnya?! Bisakah ilmu seseorang bermanfaat jika kebodohannya selalu melingkupinya?! Semua itu mustahil terjadi. Sebab, perjalanan sesungguhnya adalah menuju akhirat, sementara dia justru sibuk dengan dunia. 

“Wahai Musa. Pelajarilah ilmu yang bisa engkau amalkan hingga engkau bisa mengamalkannya. Jangan mempelajari ilmu hanya untuk engkau perbincangkan saja karena itu merupakan kesia sian bagimu dan (mungkin) cahaya bagi selainmu. Wahai putra Imran. Jadikanlah zuhud dan takwa sebagai pakaianmu, ilmu dan zikir sebagai ucapanku. Perbanyaklah berbuat kebaikan karena engkau pasti akan berbuat keburukan (dosa). Guncangkanlah hatimu karena itu diridhai Tuhanmu. Berbuatlah kebaikan karena engkau pasti akan berbuat sebaliknya. Sungguh, aku telah memberimu wasiat, jika engkau benar benar mengingat dan mengamalkannya.’

“Setelah itu, Khidhir pergi meninggalkan Musa sendirian yang larut dalam tangis kesedihan dan kegalauan.”[1]

[1] Ibnu ‘Ady (III/1072), al Majma’ (I/130, I/232).



view: