Celah Zaman

Sebelum Tuhan Menyelamatkan Nabi Nuh

Sumber: Juman Rofarif

Hiduplah seorang yang sangat saleh di sebuah kampung. Suatu ketika, kampung itu dilanda banjir. Hujan tanpa henti membuat banjir semakin tinggi, menenggelamkan jalan dan mulai memasuki rumah rumah. Orang orang menyelamatkan diri. Mereka mengungsi ke tempat aman. Namun …

“Aku habiskan hidupku untuk beribadah kepada Tuhan. Aku yakin Ia akan menyelamatkanku,” kata si saleh. “Aku tak mau ikut mengungsi. Aku di sini saja, menunggu pertolongan Tuhan.”

Si saleh segera naik ke atap rumah. Air terus meninggi.

“Ya Tuhan, aku telah beriman kepada Mu. Selamatkanlah aku,” doa si saleh. Ia menunggu apa yang akan Tuhan lakukan untuknya.

Segera setelah itu, seseorang melintas menggunakan perahu, menawari si saleh untuk naik ke perahu dan mengungsi. Tapi si saleh menggeleng. “Tidak, tidak. Jangan khawatir, Tuhan akan menyelamatkanku,” katanya.

Dan air kian tinggi. Sebuah perahu evakuasi penuh pengungsi melintas. Salah seorang mendesak si saleh untuk turun dan naik ke perahu. “Tidak, tidak. Jangan khawatir, Tuhan akan menyelamatkanku,” katanya, lagi.

Beberapa saat kemudian, air telah setinggi bahu si saleh dan terus meninggi. Kali ini, seseorang menggunakan rakit datang untuk menyelamatkan si saleh, namun si saleh melambaikan tangan—isyarat agar orang itu pergi—seraya berkata, “Tuhan akan menyelamatkanku. Ia takkan membiarkan aku tenggelam.”

Singkat cerita, si saleh tenggelam, meninggal, masuk ke surga, dan bertemu Tuhan.

“Bagaimana bisa Kaulakukan ini kepadaku, Tuhan,” kata si saleh, “setelah aku begitu percaya kepada Mu dengan segenap hatiku; setelah aku mengabdi kepada Mu dengan penuh keyakinan?!”

“Kenapa Kau tak melakukan apa pun untuk menyelamatkanku?!”

“Hmm …,” gumam Tuhan. “Memang kaupikir siapa yang mengirim tiga perahu itu?!”

Ada dua sudut untuk memandang pertolongan Tuhan: (a) hidup memberikan yang terbaik kepada siapa pun yang menyerahkan pilihan kepada Tuhan; (b) Tuhan membantu siapa pun yang mau berbuat dalam hidup. Dua sudut pandang itu tampak berbeda, namun sesungguhnya saling melengkapi. Ibarat dua sisi berbeda di satu koin.

Seperti Tuhan yang menyuruh Nabi Nuh untuk membangun bahtera sebelum Ia menyelamatkan sang Nabi dan para pengikutnya dari banjir bandang.

*disadur dari Leading from the Hearth, Moid Siddiqui (Sage, 2014)



view: