Celah Zaman

Sebuah Mutiara

Sumber: Muhammad Zuhri*

Pagi itu Dillah kedatangan seorang tamu bertampang kriminal, berambut gondrong, dan berjaket jin yang compang camping. Saat berjabat tangan, telapak tangan Dillah digenggamnya kuat kuat dan diguncang dengan keras. Rasanya seperti mau copot dari lengannya. Matanya berkeliaran ke mana mana, menatap satu per satu perkakas yang dipajang di ruang tamu. Setelah menarik napas panjang, tamu itu berkata, "Saya pembaca terbaik karya tulis Ustad. Seratus kali kubaca judul judul tertentu hingga tumbuh niatku untuk bertobat, kalau masih diterima."

"Engkau tidak perlu cemas, karena yang berhak menerima tobat hanya Tuhan. Pasti engkau diterima," jawab Dillah.

"Tetapi..., tetapi izinkan aku membunuh ibuku dulu," kata tamu itu penuh nafsu.

Dillah terkejut bukan kepalang. Untung segera dapat menguasai diri, lalu bertanya, "Ada apa dengan ibumu?"

"Ada apa? Dia adalah seorang pelacur dan aku anak jadah yang dihasilkannya. Sampai kini aku tak pernah mengenal siapa ayahku," jawab tamu.

"Astaghfirullâhal ‘azhîm," Dillah spontan beristighfar.

"Aku yang berhak mengatakan itu, bukan Ustad," sanggah tamu sambil meneruskan omongannya. "Sejak kecil aku menyaksikan ibuku dirayu dan ditiduri oleh tamu tamunya. Di kedai kopi peninggalan kakek mereka berjudi sepanjang malam sambil minum weski dan ngobrol tak karuan. Begitulah aku didewasakan, sehingga tak sempat mengenal apa pun selain kebiadaban. Apalagi agama." Wajah tamu itu tampak merah padam menahan dendam yang tak menentu arah. Kemudian berubah menjadi beringas, lalu bangkit dan berteriak, "Aku harus membunuhnya sekarang  juga!"

"Tunggu! Kamu sudah berjanji kepadaku untuk bertobat. Soal bunuh membunuh gampang. Ada caranya nanti," cegah Dillah. Rupanya bujukan itu termakan olehnya, kemudian ia kembali duduk. Setelah dituntuni membaca syahadat dan mengucapkan ikrar bertobat, Dillah berkata dengan nada rendah:

"Dengarkan baik baik. Sesungguhnya aku cemburu kepadamu. Karena aset hidupmu yang seperti itu dapat mengantarkanmu ke pintu tobat. Terbayang dalam pikiranku, seandainya hidupmu dilengkapi dengan aset yang terpuji, seperti keteladanan, pendidikan, dan nilai nilai budaya yang lain, engkau pasti dapat menolong orang banyak dari lembah yang nista. Engkau telah membuktikannya dengan menolong dirimu sendiri keluar dari sana. Kini dirimu yang lama sudah mati. Engkau sendiri yang membunuhnya dengan pedang tobat. Kemudian engkau lahir kembali dalam hidup baru. Tugasmu sekarang adalah membunuh cara hidup ibumu yang tersesat, dengan menyelamatkannya dari lembah pelacuran. Engkau pasti bisa. Tetapi hati hati, jangan bertindak kasar. Karena, betapapun beliau adalah dewamu di dunia ini. Alangkah bahagianya seorang ibu yang memiliki anak seperti kamu," kata Dillah sambil mengulurkan tangan kepadanya. Tamu itu menyambutnya dengan gemetar. Genggam tangannya berubah menjadi lembut. Selembut hatinya yang melangkah pulang ke pangkuan Tuhan.




view: