Bengkel Sahifah

Menulis, Untuk Apa?

Sumber: Muhammad Husnil

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar, Aku, 1943)

Saya tak hendak membicarakan sajak di atas lebih mendalam. Kali ini saya mengutip sajak Chairil di atas untuk menunjukkan fungsi menulis. Bagi saya, fungsi itu terletak pada larik terakhir, yaitu Aku mau hidup seribu tahun lagi. 

Ambisi pelopor sastra 45 itu terbukti. Pasalnya, hingga sekarang setiap kali siswa atau pengamat sastra memetakan sejarah sastra atau sastra secara umum, tak bisa menghindar dari membicarakan Chairil Anwar. Di setiap pembicaraan, mereka seakan menghadirkan kembali sosok Chairil secara utuh. Dari situ, tampak sekali bahwa dengan berkarya kita bisa mengabadikan diri.

Tentu, ada banyak dorongan mengapa seseorang ingin menulis. Dari dorongan yang bersifat material seperti ingin kaya atau terkenal, hingga dorongan yang sifatnya eksistensial seperti Chairil Anwar dalam sajaknya di atas. Semua itu sah sah saja. Tapi menulis, bagi saya, tak ubahnya memahat nama kita di atas bebatuan sejarah manusia. Kita mengenal ulama atau intelektual masa silam seperti Imam Malik, Ibnu Khaldun, Plato, Aristoteles, dan lainnya karena karya yang mereka lahirkan. Anda menulis, untuk apa? Silakan jawab sendiri.

Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk menjadi penulis? Sederhana saja, sebenarnya. Setidaknya, ada lima bekal yang mesti dipenuhi seorang calon penulis. Saya akan mencoba mengulitinya satu per satu.  
Pertama, membaca. Tak ada penulis di dunia ini yang tak pernah membaca buku terlebih dahulu. Jika ada manusia seperti itu, ada beberapa kemungkinan. Bisa jadi ia seorang Nabi atau Wali. Masih ada kemungkinan lain, ia seorang yang ngawur

Bagaimana pun, pendapat seseorang pasti pernah bersinggungan dengan berbagai wacana yang ada. Segala tindak tanduk manusia lahir bukan dalam ruang hampa; manusia lahir dalam konteks ruang waktu. Oleh karena itu, mustahil ada seorang manusia yang tiba tiba pintar, tanpa melalui sebuah proses. Segalanya bisa dijelaskan melalui konsep kausalitas, sebuah konsep yang mengandaikan adanya sebab akibat.

Adanya penulis yang baik, karena ia banyak membaca buku. Kegiatan membaca ini, tentu saja, bukan dalam artian melahap huruf yang ada dalam setiap halaman buku dengan tanpa kritis. Membaca justru dalam rangka mengkritik. Dari sana, kita bisa mengasah kepekaan dan daya kritis serta daya olah nalar kita. Bahkan, terhadap penulis yang kita sukai sekalipun, jangan melenyapkan daya kritis kita.
Selain membaca buku yang kita sukai, ada baiknya membaca juga buku sastra seperti novel, cerpen, esai, atau puisi. Buku jenis ini membantu kita untuk mendorong kelancaran kita dalam menulis dan mengembangkan imajinasi. Dari buku yang ada, kita bisa mempelajari bagaimana membuat sebuah kalimat pembuka yang menarik sehingga pembaca membaca tulisan kita hingga usai. Di kalimat pembuka itulah, seorang penulis mesti menempatkan sesuatu yang menarik dari idenya dengan bahasa yang menarik pula.

Dari sebuah tulisan, pembaca bisa menentukan luas tidaknya wawasan seorang penulis. Untuk menghidangkan sebuah tulisan yang baik dan mendalam, alangkah baiknya seorang penulis membaca sebanyak banyaknya referensi yang berkenaan dengan tema yang akan ditulis. Dengan begitu, tulisan kita mendapat tempat tertentu di hati pembaca.

Kedua, menulis. Sungguh konyol bila ada seseorang yang bermimpi menjadi penulis tanpa menulis. Saya ingat Kuntowijoyo. Pada tahun 1991 budayawan dan intelektual muslim itu mengalami serangan virus Meningo Enchepalitis, virus yang menyerang otak kecilnya. Virus itu membuat tubuhnya hampir lumpuh.
Tapi, ia tak pernah putus berkarya. Kendati hanya dengan satu jari, ia bisa melahirkan karya karya berkualitas. Sehabis maghrib ia masuk kamar dan mulai mengetik dengan satu jari sampai pukul 2 atau fajar. Hasilnya tidak banyak memang, tapi berkualitas. Setiap hari Profesor sejarah Universitas Gajah Mada, Yogjakarta itu hanya menghasilkan dua lembar.

Tapi, lihat prestasi yang ia raih. Tiga kali cerpennya terpilih sebagai pemenang dalam Cerpen Pilihan Kompas, yakni Laki laki Yang Kawin dengan Peri (1995), Anjing anjing yang Menyerbu Kuburan (1996) dan Pistol Perdamaian (?). Novelnya, Mantra Penjinak Ular (1999) mendapat hadiah dari Majelis Sastrea Asia Tenggara (Mastera) pada 2001. Belum lagi berbagai karya akademik yang berkualitas dan menjadi rujukan di berbagai perguruan tinggi untuk mengkaji masyarakat muslim, seperti Paradigma Islam; Interpretasi untuk Aksi (Mizan, 1991), Muslim tanpa Masjid (Mizan,?), dan lain sebagainya.  

Untuk itu, usahakan melatih kemampuan menulis kita dengan menulis setiap hari. Caranya, bisa dengan menuliskan kegiatan sehari hari dalam catatan harian. Catatan harian membuat kita bebas mengungkapkan apa pun yang ada dalam benak kita. Saya pernah meminta nasihat kepada Mas Danarto, salah seorang sastrawan Indonesia, bagaimana caranya membuat sebuah cerpen.
”Buat catatan harian,” ungkapnya. ”Jangan terpaku pada plot, penokohan, konflik, dan sebagainya. Lancarkan dulu gaya menulis, baru beranjak ke masalah tehnik,” tambahnya. Mendengar nasihatnya, saya sadar bahwa selama ini saya terlalu terpaku kepada tehnik bercerita dan mengabaikan kelancaran bercerita.

Tidak usah muluk muluk, menulis satu paragraf setiap hari dalam satu halaman kuarto, juga tidak apa. Karena, otak manusia mengalami perkembangan di setiap detiknya. Ibarat golok, kalau kita asah terus, pasti akan lebih tajam. Begitu pun dengan otak kita. Ia akan tajam ketika kita mau mengasahnya dengan baik dan teratur.      
Ketiga, mengindahkan tata bahasa. Tahap ini merupakan tahap lebih lanjut dari membaca. Setelah lancar menulis, coba cek tulisan Anda. Apakah sudah memenuhi standar Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Tak baik seorang penulis mengabaikan tata bahasa. Bagaimana pun, ia mesti bisa membedakan antara kata ”di” yang dipisah dan ”di” yang disambung; mampu memilah subjek dan predikat dalam kalimat; sanggup menilai fungsi titik, koma, dan titik dua. Semuanya itu demi kelancaran pembaca.
Keempat, bersabar. Segala sesuatu di dunia ini membutuhkan proses. Tak ada langsung jadi. Bukankah ketika Tuhan berfirman Kun fa ya kun, (Jadilah, maka jadi), pembuatan alam ini pun melalui proses, tidak nongol begitu saja. Instan atau langsung jadi sangat berbahaya, karena mengabaikan proses. Jangan melihat penulis yang ada sekarang sebagai seorang penulis yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam menulis.

Kelima, jangan sekali kali menempatkan pembaca tahu segalanya. Sebagai seorang penulis, mulai pikirkan bahwa pembaca Anda adalah seseorang yang awam. Bayangkan bagaimana agar tulisan Anda bisa dicerna semua golongan, baik ibu rumah tangga maupun dosen.

Untuk itu, seorang penulis harus menempatkan diri sebagai seorang pembaca awam. Dengan begitu, pembaca akan mencintai tulisan Anda. Pasalnya, mereka akan mudah menangkap ide yang Anda tawarkan dalam tulisan. Mungkin saja, mereka mendapat pencerahan dari tulisan tersebut. Kalau sudah begini, tampaknya kita harus membenarkan hadis Rasul: ”Sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi khalayak ramai”. Bukankah itu pula yang sementara ini banyak orang kehendaki?  



view: